Rabu, 23 Februari 2011

Pieces Of Time

Raungan Bus TransOceanic perlahan merayap mendekati halte bus yang tak jauh dari gedung Grampus Academy of Literature menunggu penumpang yang berada di halte untuk naik. Ada sesuatu diantara kerumunan itu yang membuat jantungku berdegup kencang tanpa alasan yang bisa diterangkan. Setelah bus kembali merayap degupan itu lenyap aku meneruskan membaca buku tapi konsentrasiku terganggu oleh penumpang yang tak jauh dari tempatku duduk, mereka sedang asyik memadu kasih sampai lupa daratan.’Bisa sopan gak !!’ teriakanku tadi mengundang perhatian semua penumpang dan semua mata tertuju pada mereka berdua. Dengan bersemu merah Si cewek mengatur kembali cara duduknya yang woooHooO!!

Sedangkan cowoknya menjadi salting dengan membaca tabloid terbalik

“Ups sorry...” bisikku, sambil kembali membaca buku tanpa memperdulikan pandangan yang tajam menusuk.

..Rusty avenue....Rusty Avenue....

disinilah aku turun karena Marine Blue Café berada di Rusty Avenue ini. Aku kerja sebagai pelayan aruh waktu disana. Ketika kakiku belum sepenuhnya menapak trotoar, aku dihadang sesosok tubuh dengan tangan terkepal.

“Setan loe!! Apa maksudmu tadi, hah!!”

sebuah pertanyaan yang disertai lesatan bogem mentah yang dapat ditangkis dengan mudah.

“Cuma mengingatkan...”

“Urusi urusanmu sendiri!!”

sebuah ayunan pisau lipat berhasil merobek lengan kananku diiringi dengan darah segar yang mengucur dari sela robekan itu

mau main kasar yah...OK!”

sambil meletakkan tas yang dari tadi kugendong and Showdown began!!

Sebuah bogem mentah mendarat telak di lambung laki-laki itu setelah pisau lipat yang kokoh dipegangnya terlepas. Kesempatan ini tak kusia-siakan dengan mendaratkan siku-ku di tenkuknya hingga ia tersungkur jatuh hingga wajahnya berhadapan dengan lutut yang tanpa sengaja kunaikkan.“Stopp!! jangan pukul dia lagi...” jerit ceweknya sambil mendorong tubuhku dan jongkok memeluk tubuh pria itu untuk melindunginya. “Baiklah.. lagian aku sudah telat, G’day!” kataku sambil meninggalkan halte itu.

xxx

Kumasuki pintu belakang Café dengan terburu-buru, luka ini harus segera diperban.“Oh my god, your arm’s bleeding Whit” sergah Yuna, sesama karyawan café yang bekerja di bagian dapur ketika didapatinya aku mengendap masuk dengan lenganku yang berdarah ini

“Yeah, I need a bandage, do you have one?”

“I’ll get it for You...hold on” secepat kilat dia menuju ke lantai dua untuk mengambilnya dan kemudian kembali membawa perban

“What happend?” tanyanya

“nothin’ special, just a regular prevert punk hanggin’ around with pocket knife...” jelasku

“You should be careful next time...” nasihatnya sambil mengencangkan perban agar pendarahannya berhenti

“Thank’s you so thoughtful...” kataku mengulas senyum sambil mengelus rambut sebahunya yang berwarna peach.“It’s nothin’”

xxx

“Selamat sore pak Marlins” kataku ketika hendak memasuki ruang kerja karyawan untuk ganti baju, beliau sedang mengangkat sekotak minuman ringan untuk dimasukkan ke cooler. Aku menawarkan untuk mengangkatnya “Sore nak, kerja yang baik yah?” balasnya sambil menyerahkan kotak itu ke tanganku. Pak Frank Marlins adalah pemilik Cafe ini, beliau adalah teman ibu semasa sekolah dulu dan sudah kuanggap sebagai orang tua keduaku.

Keadaan Café mulai ramai akan pengunjung, beberapa meja sudah mulai terisi dan sebentar lagi adalah waktu sibuk karena semakin malam akan pelanggan akan semakin padat. Karena belum begitu padat, Yuna dan aku punya kesempatan untuk sekedar ngobrol. percakapan kami terhenti karena kegaduhan yang dibuat oleh pelanggan di meja 3 yang marah-marah karena pelayan tak sengaja menumpahkan minuman ke baju teman wanitanya. Aku tak pernah mau mencampuri akan hal ini namun, this thing became personal kalau menyangkut pemukulan karyawan.

“Tidak baik memukuli orang yang sudah minta maaf....” kataku sambil menangkap kepalan tangan laki-laki itu

“Siapa kau, Panggil pemilik café ini!” teriaknya emosi

“Aku karyawan disini...pemiliknya sedang keluar, ada masalah apa tuan?” jawabku sopan sesopan-sopannya

“Dia sengaja menumpahkan juice ke baju temanku, pelayanan disini tidak becus!” tudingnya nada suara tinggi

“Sudahlah Al, hanya kecipratan juice kok..” seru seorang gadis yang menghampiri laki-laki itu untuk menenangkannya. Nampak bekas juice menempel di bajunya, juice jeruk yang tak bisa di bersihkan dengan sekali cuci. “Tapi Oryn, noda di bajumu itu susah dihilangkan! ” seru orang yang dipanggil gadis ini dengan nama Al.

“Kak Hyde!?!” sergahnya dengan senyum dipaksakan untuk menutupi kekagetannya ketika melihat wajahku. Aku menjawab datar bahwa dia salah orang dan lebih memfokuskan diri pada masalah ini

“Begini saja, sebagai wujud apologiku pada anda tagihan Laundry baju nona kami yang bayar...nah kami permisi dulu” kataku sambil menyentuh pundak karyawan itu, semacam tanda ‘let’s get out of here’ yang hanya dipahami oleh kami sesama karyawan namun gadis itu mencegahku meninggalkan temannya yang masih mencak-mencak.“Boleh kita bicara?” pintanya.kalau tentang Juice tadi aku minta maaf...tapi kalau tentang orang yang kamu maksud tadi, maaf sekali lagi, aku bukan orang itu.. bisa tidak anda tidak menghalangi tugasku?” tegasku sambil tersenyum ‘setengah tiang’ seperti biasanya, dan kembali menuju dapur. ’Kak Hyde! teriakan gadis mengheningkan suasana Café itu, beberapa pelanggan memandang kearah kami.

“Kamu gila yah?” hardikanku membuat mata gadis itu mulai berkaca-kaca, mungkin kata-kataku terlalu kasar. Aku mulai merasa tak enak

“baiklah kita bicara...kalau itu yang kau mau.”

Pete, take care for a minute...this won’t be long kataku sambil menggeret tubuhnya keluar Café

“Bicaralah...” kataku tak sabar

“Aku nggak ngerti kenapa kamu tak mempercayai aku waktu itu...” gumamnya sambil merangkul lenganku. “Apa maksudmu?” sahutku melepaskan tangannya. Aku tak ingin Yuna cemburu.

“Kejadian di atap gedung dua tahun lalu..” katanya sambil terisak

“Aku tak mengerti semua ini....” kataku semakin bingung

“Nona, namaku Whit bukan Hyde seperti yang kau katakan... ini ID Card-ku ” kataku sambil menyodorkan kartu identitasku pada gadis itu

“Tapi...kau mirip sekali dengannya” desahnya dengan wajah memelas sambil mengembalikan kartu ID-ku

“Kalau begitu aku minta maaf soal tadi” pintanya tulus

“Nothin’ personal...” hiburku

gadis kemudian masuk kembali ke Cafe dan aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Kehangatan menyelimuti Café dan diluar sana malam bergulir dengan tenangnya sampai ke pelukan sang waktu

xxx

Malam sudah sejam yang lalu larut, Café sudah mulai melengang dan hanya beberapa meja saja yang terisi. Sejujurnya aku tak mampu berhenti berpikir tentang “kemiripan” yang kumiliki dengan orang yang benama Hyde. Entahlah, kepalaku kian pening ketika harus memikirkan ini semua....

“Order for table 3!” seru Peter yang tiba-tiba muncul dari meja pemesanan

“Let me have it...” imbuhku

tapi peter rupanya hanya bercanda karena dia tidak menyodorkan apa-apa dan meja tiga sudah lama kosong.

“For god sake, pete....” gerutuku

“Thinkin’ something?”

“Pete, do u belive in “‘there’s something out there are alike with u thing?”

dahi pete seketika itu berkerut, ini bukan pertanyaan lazim dariku, orang yang membenci hal-hal yang nonsens

“It’s about that ‘evening gurl’, right?”

aku mengangguk pelan

“....well, maybe yes...maybe not”

“Huh!?”

“Look, i’ve once read an article about that thing... so it maybe true. But, that just an unprooved theory atleast to me.....personally”

“I see.... ok then, let’s get to work shall we?”

dan Pete pun kembali ke dapur tempatnya seharusnya bekerja, karena ada beberapa tambahan pesanan lagi untuk dibuat. Sedangkan aku kembali tenggelam dalam pekerjaanku, mencatat sejumlah pesanan pada buku pemesanan. Mungkin dengan ini aku akan melupakan masalah ini...hope so....

xxx

Udara hangat malam segera menyergap ketika kuputuskan untuk jalan-jalan sebentar, aku tak bisa tidur karena rasa penat menyerang tubuh dan pikiranku. Bintang sudah bosan berkelip ditemani bulan yang pucat pasi menggantung berselimut awan kapas kelabu.

Somethin’ bothering ur mind, Whit?” tanya sebuah suara yang terasa familiar ditelingaku

Lovely Yuna...what ur doing out here?

Yuna terlihat begitu manis dalam balutan Sweater biru laut ditempa lampu jalanan.

Just fresh air...and you are?

Counting stars...

I notice...

kupelankan langkahku sehingga sejajar dengan langkah Yuna. Entah kenapa kehadirannya membuatku lupa dengan masalahku.

Look, life is like a labyrinth that sometimes confusing and sorrow but hides a solution in its core; we just have to find it ourselves...

Pete’s..... right?” selidikku.

dia mengangkat bahu, kata-kata Yuna ada benarnya juga hanya saja aku belum cukup usaha untuk mencari solusinya.

Tomorrow you’re going to Grampus City for our Café supply...Maybe you’ll meet the solution there” kata Yuna sambil menyibakkan rambutnya yang sedari tadi dipermainkan oleh udara hangat teluk.

Well...maybe u’r right, thanx for ur concern..” kataku sambil membelai rambut Peach-nya yang tampak keemasan diterpa mercury.

Sebuah bintang jatuh melintas meninggalkan selintas cahaya yang menghilang sedetik kemudian, kamipun mengucapkan permohonan masing-masing dan sesaat kemudian kami saling tertawa lepas yang kemudian dibawa oleh angin teluk kemanapun mereka suka.

THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar