***
Sedan Corolla itu menabrak pengaman jalan setelah sebelumnya menabrak motor yang aku naiki kemudian terbalik sedangkan tubuhku terbaring beberapa meter dari situ, dengan kesadaran yang masih ada aku mencoba bangkit namun rupanya sia-sia, hanya beberapa langkah saja aku sudah jatuh. Disaat itu aku mulai berharap bahwa ada yang menolong mereka karena dipersimpangan ini hanya dinding-dinding beku pusat perbelanjaan yang tutup sejam yang lalu
Dalam hatiku aku mulai berharap ada keajaiban datang supaya orang-orang itu bisa selamat. Sejam kemudian, kulihat sekelebat cahaya di ujung jalan sana....
Sebuah mobil Jeep biru dan dari dalamnya keluar sekelompok orang yang nampaknya tergesa menolong...
[Ah...mereka akan selamat..]
DhUaaarrrRRRR!!!
Api rupanya sudah menjalar sampai ke tangki bensin, tak ada yang bisa diselamatkan dari mobil itu, selain ketiga orang termasuk supir yang kini tergeletak bersimbah darah yang sedang diberi P3K seadanya.Dengan segera lengannya dibalut dengan perban dan terus diajaknya bicara. Perasaan lega segera menyelimuti, akhirnya orang-orang itu bisa selamat ketika samar-samar kudengar raungan ambulance. tapi, ada yang aneh pada diriku...tubuhku terasa sangat ringan dan mulai diselimuti cahaya yang menenangkan........ sedetik...dua detik lalu tiba-tiba semuanya putih dan hening sehening-heningnya.....
***
[Ah, inikah yang dinamakan mati? begitu tenang... hangat...]
Tubuhku melayang-layang tak tentu arah disebuah ruangan yang penuh cahaya yang menyilaukan dan dipenuhi dengungan suara yang bercampur aduk. Kulihat sebuah gerbang dengan pintu yang kokoh perlahan terbuka dan dibalik pintu itu ada sebuah taman yang luas dan dipenuhi orang akupun terdorong untuk menuju ke gerbang itu....
KrriEeEeeetTTtT…
makin dekat makin terasa tenang dan damai...
Tapi seseorang mencegatku tepat ketika aku hampir mendekati gerbang itu
PletakK!!
[jangan kesana!]
“Fender?”
[Tentu saja ini aku bodoh!]
“Sedang apa kau disini? ini bukan tempatmu, kamu tak seharusnya disini!”
“Bukan..tempatku?” batinku bertanya
[Lihat benang tipis ini…] telunjuknya mengacung pada bagian perutku, ada sehelai benang transparan yang menembus tubuhku, tampaknya sangat halus dan mudah putus.
[Itu adalah nyawamu! benang pemisah antara dunia nyata dan dunia ini, jika aku melangkah lebih jauh lagi benang itu akan putus dan kau akan benar benar mati] katanya sambil mendorong tubuhku menjauh dari gerbang itu. “Untuk apa? disana tak ada sesuatu yang bisa membuatku mempertahankan hidupku” kataku dengan nada miris
[Lihat kesana...]
kuarahkan pandanganku mengikuti arah telunjuknya. Disana ada seorang gadis sedang bersimpuh dengan menangis sesenggukan di jalanan beraspal tadi, disampingnya terbaring.....diriku!
[seseorang yang masih sangat perduli padamu..]
“Lori?”
“Tapi kau tidak tahu masalahku...aku..”
[merasa ‘berbeda’ dengan orang lain?] tebaknya
[Memangnya kenapa? apa itu kutukan bagimu?]
“Well, ya...tidak..Ya!” sahutku ragu
[Kenapa?]
“Karena aku ingin jadi orang biasa saja! tanpa embel-embel ‘sesuatu’ didalamnya..”
[Begitu..., jadi kamu menyesal hidup di dunia ini dengan itu?]
Aku hanya mengangguk pelan, ragu...
[Ard..]
Ada yang memanggilku…
Suaranya sangat familiar, tapi aku tak bisa ingat siapa
kuedarkan pandanganku mencari asal suara itu…tapi, dimana? disekitarku hanyalah cahaya yang sangat terang, Cuma itu...
“Siapa itu?”
tiba-tiba ratusan sosok tubuh menyeruak memenuhi diruang cahaya itu.... dan salah satu sosok tubuh maju menghampiriku
[masih ingat aku?]
“Kakek Indio” seruku sambil memeluk tubuh itu, kakek indio adalah orang yang memerimaku dengan tangan terbuka di rumahnya sementara yang lainnya menutup pintu. Tubuhnya begitu lembut dan hangat
“Siapa Mereka?” tanyaku pensaran dengan kerumunan yang berdiri dibelakang kakek indio, mereka nampak bahagia dan beberapa dari mereka melambai kearahku.
[Kau pasti kenal mereka, mereka adalah penumpang bis yang berusaha kau selamatkan sebulan lalu]
“tapi semua penumpang itu mati..” kemikku
[Ard, dengarkan aku...setiap orang dilahirkan sama tetapi punya cara yang berbeda untuk diakui keberadaannya, para penumpang itu memang meninggal tapi mereka sudah diberi peringatan olehmu kan? takdir berperan dalam hal ini, dan takdirmu bukan disini ]
“Aku sudah tak bisa kembali....”
[Pulanglah... aku akan membantumu...banyak yang menunggumu disana... cobalah memahami anugerah yang diberikan padamu...]
kata Kakek Indio sambil menyentuh bahuku dan tubuhku kembali melayang tak tentu arah dan kepalaku kembali berputar hebat. suaranya terus berdengung samar di pendengaranku kemudian bercampur dengan dengungan suara tak jelas lainnya ketika aku melintasi ruang cahaya itu lagi. Setelah itu, indera penciumanku menangkap suatu bau yang familiar dihidungku..
Bau rumah sakit! akhirnya aku kembali....
***
[Semenit..sejam...sehari... ya ampun!, berapa lama lagi aku akan tertidur..?]
Kubuka mataku secara perlahan, silau...
apa benar aku sudah kembali? kenapa aku bisa mengingat semuanya? Fender..Kakek Indio..orang-orang yang kuselamatkan...dengungan suara....Ugh, begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku minta jawaban.
walaupun tak sepenuhnya sadar, aku bisa merasakan ada yang terus memegangi tanganku, parfum ini... aku kenal bau parfum ini! ini adalah bau parfum Lori... apakah dia disini? perlahan kesadaranku mulai pulih, dan aku mulai bisa mengenali gadis itu yang sedang memegangi tanganku dengan wajah kuyu dengan mata sembab kebanyakan nangis. Kalau begini terus penyakitnya bisa kambuh lagi. Ugh...kepalaku rasanya baru habis di hantam godam ratusan kali banyaknya.Sial, kenapa aku jadi begini lemah, kukumpulkan segenap kekuatanku untuk dapat bergerak, tolonglah! aku tak bisa membiarkan begitu saja seorang gadis menangis.. perlahan tangan kiriku terulur mengusap bulir-bulir aimatanya yang membuncah tumpah ruah membanjiri pipinya yang mungil
“Kenapa nangis?”
“hentikan tangismu...ini hanya kecelakaan biasa kok..”
“Kecelakaan yang membuatmu hampir mati!” sahutnya miris melihat gipsum yang membungkus lengan kiriku dan sebagian kepalaku
“Kenapa kau sangat mencemaskanku ?”
“A..aku........”
kemudian dia terdiam dan terus terdiam... kemudian tak lama kemudian pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Lori beranjak dari tempatku dan membukakan pintu
“Hei...kau sudah sadar!!” teriak Peter
tanpa memperdulikan lukaku dia memelukku erat sekali hingga aku tak bisa bernapas.“Welcome back, bro...” bisiknya
“Ok...now lepaskan pelukanmu! Aku bisa mati lagi nih!!”
“Sorry...” katanya sambil melepaskan pelukannnya dengan senyum cengegesan.
***
Tak terasa sudah seminggu aku berada di rumah sakit ini, aku mulai merasa bosan kemudian kuputuskan untuk berjalan-jalan ke taman dengan kursi roda. Ketika kubuka pintu kamarku, Ternyata Lori sudah berdiri di balik pintu dengan membawa parsel buah-buahan dan kartu ucapan semoga cepat sembuh yang kemudian diletakkan di meja sebelah tempat tidurku. Dia yang terus menjagaku hingga saat ini...
“Mau kemana?”
“Ke taman...mau ikut?”
“Hang On..”
di raihnya pegangan kursi roda dan mulai mendorongnya sampai ke taman. Taman adalah tempat rehabilitasi yang terbaik untukku karena berbagai macam hal yang kubutuhkan ada disana.
Bunga, kolam dan cahaya mentari yang melimpah.
“Ry, makasih kamu telah menjagaku selama ini...” ujarku sambil mengayuh pelan kursi rodaku memutar sehingga menghadapnya
“Tidak perlu berterima kasih ”katanya dengan muka bersemu merah
“Hari yang indah bukankah begitu...Pete?” segahku sambil memutar kursi rodaku ke arah pohon Jati besar tak jauh dari tempat kami berdiri
“Kalian bisa menjadi pasangan yang cocok...” celetuk Peter yang muncul dari balik pohon jati dengan senyumnya yang cengegesan yang membuat Lori kelabakan menghadapi serentetan pertanyaan yang dimuntahkan kakaknya yang kemudian diakhiri dengan wajah bersemu merahnya yang tertunduk.
***
Akhirnya setelah seminggu pemulihan aku dinyatakan sehat oleh dokter dan boleh keluar dari Rumah Sakit hari itu juga. Seperti biasanya, Peter dan Lori dengan senang hati membantu mulai dari administrasi sampai ke hal yang remeh seperti mengangkat barang bawaanku. Hal ini cukup membuatku merasa tidak nyaman tapi dengan pengertian dari Lori karena aku masih belum mampu mengangkat yang berat, itu katanya dan sekali lagi aku mengalah. Satu-satunya barang yang bisa kubawa adalah diriku sendiri yang berjalan lunglai menuju mobil Nissan Terrano berwarna Hijau metalik yang terparkir di halaman rumah sakit. Semenit kemudian, semua barang telah tertata rapi di bagasi mobil
“Ok, ready to go...Ry, jaga Ard yah!” kata Peter sambil menutup pintu mobil
“kau mau kemana?” tanyaku
“Aku bawa motor, lagipula pasti mengganggu kalo aku ikut kalian...” katanya dengan senyum cengegesan
“Apa sih...” sahut Lori dengan muka memerah.
Deru mobil meninggalkan sekumpulan asap di pelataran parkir dan mulai melindasi aspal yang mulai mengigil karena angin dingin sore yang mulai berhembuskan udara garam ketepian pantai. Huffhh...akhirnya aku bisa keluar dari rumah sakit. Aku tak tahan menghadapi pandangan demi pandangan kasihan yang tertuju padaku. Kugerakkan lengan kiriku secara refleks walaupun masih sedikit sakit namun tak seberapa dibandingkan apa yang kualami selama ini.
***
Udara sore membuatku menerawang jauh menembus lembayung senja yang semakin memerah kemudian terlintas kembali saat-saat ketika aku mengetahui bahwa aku punya kelainan yang mendatangkan sebuah kebingungan yang tak bisa kuatasi sendiri dan tak bisa kuceritakan pada orang lain. Bertemu dengan Lori di sebuah pantai yang kebetulan kukunjungi sedikit mencairkan dinding es yang kubangun kokoh tapi apakah akan sama jika dia mengetahui kelainanku?.
“Ry, apakah kau mau berteman dengan seorang yang memiliki kelainan..” kataku tiba- tiba sambil memandang wanita yang berambut cepak itu, menunggu jawabannya.
“tentu saja...” sahutnya sambil sekilas menatapku, mungkin untuk meyakinkan bahwa dia serius dengan perkataannya
“termasuk yang seperti ini.....” kataku sambil menyalakan DVD player yang seminggu lalu rusak-aku yang merusaknya- dengan salah satu kemampuan yang kumiliki....
karena kaget, Lori kemudian menekan pedal rem dan mobil itupun terhenti mendadak disebuah persimpangan sepi di Old Factory Road , sebuah kawasan pabrik tua yang tak terpakai.
“Apa...itu!?” tanyanya bingung
“Hal yang membuatku merasa terasing....” sergahku dengan nada miris
“setiap manusia adalah istimewa, apa yang mereka miliki adalah anugerah dan bukan kutukan...sudahlah tak usah dipikirkan ” katanya sambil kembali menjalankan mobil. Aku tertegun, segalanya berlangsung begitu cepat, kalah cepat dengan Speedometer motorku malam itu. Huffh...segalanya seperti sebuah periode sebuah mimpi yang yang saling tumpang tindih antara mimpi buruk dan mimpi indah...
Mungkin aku harus memulai s’buah mimpi yang baru bersama seseorang yang menerima apa adanya diriku. Mimpi yang memungkinkan diri terlelap tanpa peluh membutir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar