Cerita Tak Berjudul # 1
Sedikit demi sedikit, lambat laun, serpihan demi serpihan diriku mulai berubah menjadi sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan, menjadi seorang Nocturno Omnivora, karakter yang kuciptakan sendiri...
Gosh, aku tak ingin seperti ini...bergantung pada malam sementara siang telah digenggaman. Aku sangat menyukai malam sebanyak aku membencinya, itulah kalimat yang pernah kukatakan dan sering kuutarakan pada diriku secara monolog.... ada apa dengan diriku? Kenapa aku tak bisa keluar dari lingkaran malam? Kenapa aku tak bisa tetap menjadi makhluk siang yang memakai topeng? Apa karena aku sudah lelah berpura-pura dan memutuskan untuk jujur pada diriku, membuatku cukup terbuka untuk dihantam masalah, cukup gila untuk menghadang raungan angin cela, tertawaan, bahkan angin penyakit yang bisa membuat tubuhku makin tipis. Gosh, apa yang kucari pada malam? Malam membuatku telanjang, malam membuatku kelihatan lemah, malam membuatku tak bisa melakukan apa-apa selain menerima kenyataan bahwa aku adalah manusia terapuh yang selama ini coba aku sembunyikan? Tapi karena malam pula aku tak perlu lagi mengungkung diri, aku memang rapuh.. kerdil...introvert...bebal..dan SAKIT. Itulah aku dan tak perlu lagi menyangkalnya..
Cerita Tak Berjudul # 2
DAMN! Kata ini bergemeretak keluar dari sela gigi geraham, taring, dan seri sebagai ungkapan kekesalan hari ini pada sebuah tawa yang tergelak....
Kenapa sebuah tawa begitu menusuk, menghujam dada? Kenapa Mood hari ini begitu kelam? Sekelam langit siang yang merintiki bumi dengan bulir-bulir uap air yang tersublimasi...
DAMN! Kenapa rajuk menjadi pilihan sikap hari? Kedewasaan takkan hadir, hanya serapuh perasaan kanak menggeliat di benak, hasil pendaran pemikiran yang tak dewasa...
F*?K 5*!T... kenapa segalanya tercabik, terkoyak, sobek, dan luluk lantak disaat tembok yang kokoh terjulang melindungi sesuatu yang rapuh ini berhasil runtuh berserpihan ‘tuk biarkan limpahan sinar harapan masuk menyelimuti...kenapa?
DAMN! Kenapa sesuatu yang baru saja dimulai harus diakhiri secepat langkah menapak? Kerdil dan tak berguna mungkin rasa yang hadir dalam benak ketika melintas pergi diiringi gelak tawa satir.
Andai segalanya masih seidealis dulu, sempurna dengan tekad dan optimitas 200 Gigawatt, apakah sempat ada waktu untuk sekedar terluka karena lesakan panah Cupid? Entahlah...karena setiap jalan memiliki tujuan akhirnya dan konsekwensi yang harus dihadapi SENDIRI!
Cerita Tak Berjudul # 3
Gemuruh awan kelabu mulai tergaung di angkasa bulan November, menawarkan titik-titik hujan penyembuh, penenang, pelega bagi setiap manusia yang butuh. Aku adalah satu dari sejuta manusia yang lebih memilih menghilangkan lara duka dengan riap-riap hujan dibanding airmata juga materi pemabuk diri. Sesuatu yang melankolis nan romantis bagi sebagian manusia, sesuatu yang nyaman bagi diriku, hanya untuk diriku.
Aku adalah individu yang tak terlalu perduli pada pendapat, ide, atau estimasi orang terhadap diriku. AKU ADALAH AKU ! I Like What I DO, I Do What I LIKE
Namun budaya kebiasaan mengaum keras di negara ini dan lebih kental dari pada darah. So, I’m just gonna fight in and fit in.
Cerita Tak Berjudul # 4
Malam kembali bernyanyi hingga larut, aroma familiar merebak seiring semilirnya angin beku menerpa dedaunan kaku. Gemintang berkelip di angkasa tanpa teman karena rembulan hilang entah kemana. mataku tak kunjung terpejam, ada urusan yang sedapat mungkin kuselesaikan, entah itu sebait kata atau segaris kalimat yang kutuliskan ke secarik kertas, untuk apa? Entahlah, yang aku tahu hanyalah aku harus menyelesaikannya sebelum semuanya kembali ke titik nol dan hari barupun tiba.
Kupejamkan mataku....tak ada kantuk yang kudapat disana, diruang gelap ketika terpejam. Kuapan pun masih belum nampak, mungkin aku belum benar lelah atau karena kafein yang kutenggak tadi. Tapi aku sudah berteman dengan kafein dan tak akan terpengaruh oleh itu.
Baiklah...kucoba sekarang untuk tidur dan mengistirahatkan segala macam pikiran di kepalaku yang mungkin sebentar lagi BUNTU!
Nah, sekarang tak ada lagi yang bisa kupikirkan....hanya rasa pening karena menulis dalam ruangan dengan pencahayaan kurang...
Cerita Tak Berjudul # 5
Kelabu mendung kembali mengarak menutupi langi yang membiru, dalam pori atmosfir hari ini ada seditik kesedihan yang kelamaan mengelembung hingga membuncahkan guguk kekecewaan dan gerah yang tersimpan lama. Helaan nafas mendenguskan ketidakberdayaan terhadap sesuatu yang semestinya bisa tertolong, bisa diusahakan....
Apakah karma dan pahala masih terpakai dan bisa terkoar sekarang, saat ini, detik ini? karena sekaranglah saatnya hal tersebut diperlukan! Dibutuhkan karena tak ada alternatif lain sebagai penyelamat dalam kecentang perentangan hari ini...
Cerita Tak Berjudul # 6
Lega dan sesuatu yang hilang, bersinkronasi walau bukan satu kesatuan ide. Entah kenapa kedua hal itu bisa menancap dalam benak, mengusik hari dengan sebuah kehilangan yang sesaat berselimut lega. Hari-hari terlipat masuk dalam ingatan, tarikan nafas panjang hanyalah satu dari ragam alter penghilang sepi dan membuat kelegaan hidup lebih lama, abadi, infinitas tak terputus.
Mengikuti kedua hal ini adalah kenyataan bahwa sebuah kepapaan-lah satu-satunya tersisa yang menjadi teman juga selimut. Sebuah media penghantar sadar bahwa manusia tak bisa saling mengerti sesama dan hanya bisa adaptasi, sinkronasi, dan akhirnya evolusi setelah melewati tahap evaluasi.
Rasa lega kini sudah menjadi bagian dalam keseharian meskipun rasa kehilangan akan sesuatu mengusik malam terlelapku.
Cerita Tak Berjudul # 7
Satu lagi sayap terkepak pergi, menembus tembok penghalang yang dulu kokoh berdiri, ketika sayap-sayap kami belum jua tumbuh. Kepak demi kepak merobek udara, melayang, lalu menghilang ditelah kabut cikal awan. Kini, tinggal beberapa sayap kaku yang masih kesat untuk digerakkan, satu dari beberapa sayap itu adalah sayapku. Entah kapan sayapku tak lagi kesat ‘tuk mengepak agar aku bisa secepatnya bisa terbang dan menaklukkan tembok itu...
Cerita Tak Berjudul # 8
Betikan musik mengalun bersama kicauan burung menciptakan unison nan kompak, seirama. Hari ini ada gumpalan-gumpalan dosa tersamar embun yang diarak naik udara ke langit dan diterima sebagai cikal awan penghias pagi, siang, petang nanti. Langit kemudian tersadar ketika gumpalan-gumpalan itu bergemuruh tawa dan mencemari langit dengan kecemprengan genta guntur karena berhasil memperdaya langit, Sang Agung. Hal ini membuat matahari jengah gerah menggantung dan merajuk masuk dibalik wan kapas putih, meredupkan hari walau tak sampai gulita.
Cerita Tak Berjudul # 9
Jum’atan di salah satu daerah di Celebes sebenarnya sama seperti jum’atan lalu dan yang lalunya lagi, tapi ada seditik perputaran saf dan senoktah perbedaan yang entah tak ingin terlewatkan oleh waktu dan perhatian. Sesosok ceking adalah noktah itu, adalah seditik itu. Dia duduk bersimpuh menghadap Allah SWT pada saf kedua dari depan, tempat sedianya terisi para mubaligh dan tetua kampung, bukan oleh pemuda berwajah tirus yang jelas bukan dari daerah ini, apa yang membuatnya menjadi istimewa?
Cerita Tak Berjudul # 10
Ditemani sepoian angin aku menulis sebaris kalimat yang semoga bisa kujadikan cerpen, entah itu berjudul atau tak juga sekalian. Ini adalah sepenggal bulan sepeninggal natal yang memang tak kurayakan. Solitude ini akhirnya pecah dengan deru kendaraan bermotor, senandung parau seseorang, dan dengus panjang nafasku. Balutan sepi kini terkoyak oleh gemerisik dahan rambutan memerah manis.
Desau angin makin menggila mempermainkan anak-anakan rambutku sampai terburai dari gerombolannya. Aura dingin mulai lamat-lamat merasuk masuk dalam tubuhku yang kurasa tak seceking dulu. Seujung pandangan mata kedepan terbentang lautan yang berkecipak buih. Aku rindu laut, bau garam di udara dan semilir angin yang serasa ingin menumpahkan segala daya upaya untuk menerbangkanku membuat aku merindukan laut. Aku tak bisa berenang namun aku suka air. Nothing wrong about that!
Ketika udara mulai benar-benar dingin, aku berhenti menulis. Mungkin karena otakku mulai beku oleh apapun yang akan datang kemudian.
Cerita Tak Berjudul # 11
sebulan sudah sejak sang wanita pergi dari kehidupan sang pria ceking, sebulan sudah juga dia menahan dari perang hawa nafsu bulan ramadhan. Sekarang saatnya memulai hal yang baru, lembaran baru, mulai dari nol lagi...tak ada kesedihan masa lalu, sesal, ataupun kemarahan yang tak beralasan. Bahkan sebagian memori yang menyesakkan untuk diingat kini serasa ringan dan membiarkannya mengalir dalam setiap petaan ingatan yang terpencar keluar dari kepalaku dan memainkan gambaran hidup didepan mataku. Enlightment, apakah tahap ini sudah aku raih? Ataukah seperti mengutip ungkapan yang pernah kudengar yaitu semakin cepat kita meninggalkan sesuatu ataupun seseorang maka akan lebih sedikit kemungkinan untuk terluka atau sesal yang kita terima. To be honest.. I can't figure it out.
Cerita Tak Berjudul # 12
Kembali lagi diriku kehilangan sebelah sayap kelabuku..kali ini entah kapan bisa kembali lagi menjadi sepasang sayap yang serempak mengepak walau tak kunjung bisa melawan kuatnya tarikan gravitasi bumi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar