Rabu, 19 September 2012

Raungan Lirih...
Jilatan api yang menggila..
Temperatur yang kian meningkat tiap detiknya...
....Aku belum mau mati!

tubuhku merekam semua ini dalam benak tanpa ada reaksi gerak, kaku terkapar
Mug kopi hangat mengepul pengusir kantuk yang masih tak tertahankan...
Serakan memori masih setengah jalan tersusun
 

Let Me..

Ijinkan aku..
Ijinkan aku untuk sekejap untuk men-defrag ingatan agar senantiasa ingat apa yang harus dan tak semestinya kulakukan jika berada di dekatmu..
Ijinkan aku untuk beberapa saat saja untuk menyapih dari keramaian agar kau tak akan melihat sisi yang tak kau sukai..
Ijinkan aku mengatakan bahwa jangan pernah lelah mengerti diriku selayaknya diriku mencoba mengerti kamu

Let me ..
Let me for a moment to defrag memory to always remember what you should and should not do when I'm around you ..
Let me for a while just to wean from the crowd so that you will not see the side that you do not like ..
Let me say that you should never tired try to understand me as I am try to understand you
Riak itu datang lagi kedalam kolam yang belum sepenuhnya tenang dari riak sebelumnya.
Butiran hujan penyebab riak itu 
Butiran yang dulunya bagian dari kolam ini sebelum menguap karena teriknya mentari
Butiran yang punya kesempatan besar menciptakan riak lebih lanjut
Menambah Volume Kolam 
 







Jumat, 31 Agustus 2012

CHAPTER I : ANOTHER PENSIEVE TO FILL..

CHAPTER I
ANOTHER PENSIEVE TO FILL..
Through Rara’s Eyes..
Catatan Harian #02

Dua asrama besar yang disediakan oleh pihak sekolah, Asrama Higherground dan Asrama Downunder yang ditempati oleh siswa jalur beasiswa ternyata punya sejarah yang tak seindah sekolahnya. letak Asrama Higherground yang sesuai namanya berada di atas bukit membuat mereka merasa lebih tinggi derajatnya dibanding Downunder yang berada di kaki bukit, plus kebanyakan pejabat tinggi di Pacifica berasal dari Asrama Higherground membuat mereka yang mnyebut diri mereka dengan Hi-Lander makin besar kepala dan beranggapan punya hak untuk menggunakan ‘pengaruh’ asrama ini untuk melakukan sesukanya-tentunya secara sembunyi-sembunyi-pada siswa yang tinggal di Downunder

KrRiiing! Bunyi bel masuk pelajaran berikut berbunyi lewat pengeras suara yang terpasang di dinding perpustakaan, memaksaku menutup buku harian bersampul kulit berwarna coklat, memasukkan kedalam tas dan beringsut keluar dari perpustakaan. Aku menyelesaikan jam pelajaran kali ini dengan sedikit malas karena pikiranku masih saja tertuju pada buku itu, buku yang kutemukan tak sengaja terselip diantara tumpukan buku tua yang teronggok begitu saja di perpustakaan dengan label disposal tercantum sisi kanan sampulnya dan memutuskan untuk mengambilnya, toh buku ini akan dibuang. Kuputuskan untuk pergi ke kantin sekolah untuk meneruskan bacaanku itu. Dalam perjalanan ke sana kudengar suara mengiba dari dalam restroom laki-laki tapi tak mungkin aku masuk kesana jadi kuputuskan untuk mencuri dengar suara yang lamat-lamat kudengar seperti ini; ‘Heh! Anak kodok, kamu masih berani bergaul dengan anggota magistrat padahal sudah kularang, apa kamu tuli!?’ hardik suara kemudian dibalas dengan suara anak yang ditindas dengan nada tergugu ‘Tttidak..itu cuman isu kok..aku mana berani??’ namun dipotong dengan cepat oleh suara kedua, ketiga dan keempat dengan ‘Sudah hajar aja Glen..toh dia gak akan protes’. “Ja..jangan tolong jangan pukul” ucap yang ditindas. ‘Hah,  jika kau bilang begitu aku lebih ingin memukulmu..hajar dia teman-teman!’ perintah suara pertama yang disambut dengan tawa kemudian erangan ‘anak kodok’. Tak tahan mendengarnya akupun beringsut pergi dengan kesimpulan yang terngiang di kepala ‘Ternyata benar apa yang ditulis di buku harian itu....’.
Nafsu makanku berkurang drastis, nasi goreng yang kupesan baru dua suap masuk mulut namun sudah merasa kenyang karena pikiranku melayang ke restroom tadi. ‘Apa yang terjadi dengan anak  tadi yah?’ pikirku cemas. Sesaat kemudian ada seorang anak dengan kacamata sedikit retak dan muka lebam memasuki Cafetaria sekolah, kusimpulkan dia sebagai anak yang ditindas tadi namun belum sempat aku bertanya anak itu dengan cepat membayar minuman ringan pesanannya dan terburu keluar dari kantin setelah melihat diriku datang menghampiri. ‘gak usah repot-repot ngejar..’ celetuk Shaddy tiba-tiba muncul di ambang pintu kantin dan menghalangi dengan badannya ketika aku hendak mengejar anak itu. “maksudmu?” tanyaku tak bisa mencerna maksud Shaddy-tepatnya kaget kenapa Shaddy bisa menebak isi kepalaku dengan tepat (lagi)-. Shaddy mengeluarkan suara ‘khhhh’ dari kerongkongannya kemudian berkata dengan nada gusar;  ‘kau mau bertanya apa yang terjadi padanya kan? Percuma saja, dia tak suka kalian’ dan diakhiri dengan penekanan pada kata ‘kalian’ dengan mimik tidak suka padaku. Usai berkata itu diapun beringsut pergi meninggalkanku yang hanya terdiam di ambang pintu kantin.
xxx
Aku memutuskan untuk kembali ke kamar asrama dan menolak secara halus ajakan teman se asrama untuk hang-out usai sekolah. Aku masih penasaran dengan buku harian itu, apa rahasia besar yang disimpan erat oleh sekolah ini dan apakah ada hubungan dengan perkataan Shaddy tadi siang. Usai mencuci muka aku langsung merebahkan badanku diatas tempat tidur dengan buku harian itu di tangan.
Seperti yang aku duga sebelumnya, satu demi satu kebobrokan mental asrama yang aku tinggali ini terkuak dalam setiap lembar kertas yang tersibak.

Catatan Harian #10

Hari ini para Hi-lander  mengulang kembali teror mereka pada  siswa-siswi Downunder. Mereka diam-diam masuk ke kamar  asrama; mengacak-acak isi kamar dan menuliskan kata ‘KUTU BUSUK!!’  di kaca meja rias.  Aku  tak bisa menunggu  lebih lama lagi, besok aku akan menyerahkan bukti-bukti yang sudah aku kumpulkan selama ini  guna mendesak  kepala sekolah untuk mempercepat  pengesahan pembentukan Magistrat !

Tulisan itu merupakan tulisan terakhir yang bisa kubaca dari buku harian ini karena lembar berikutnya sepertinya disobek seseorang, entah oleh siapa namun aku berasumsi pemilik buku inilah pelakunya karena melihat dari rapinya sobekan kertas itu. “Mungkin orang-orang dari magistrat tahu sesuatu..” kemikku sambil bangkit dari tempat tidur dan menuju Dresser tempat aku menyimpan form aplikasi untuk jadi Magistrat yang aku ambil sembunyi-sembuyi agar tidak ketahuan anak-anak Hi-lander lainnya dan mulai mengisinya agar aku bisa menyerahkannya besok.
xxx
“KAU.. jadi magistrat?!” gelak Shaddy sangsi ketika aku bertemu dengannya di ruang tunggu dewan sekolah untuk memasukkan form aplikasi untuk jadi Magistrat. “Memangnya kenapa?” tanyaku dengan nada geram. “sangsi aja anak Higherground mau masuk magistrat…kayak serigala yang bersikeras  jadi domba” ujar Shaddy dengan nada nyelekit membuatku sedikit tersinggung. “Well, aku berbeda..OK?!” bantahku dengan nada meninggi. Shaddy terdiam sejenak dan menatap langsung ke mataku kemudian mengangkat bahu sambil berkata ‘Magistrat bukan tempat main-main juga bukan tempat orang berhati lemah..kau akan tahu nantinya maksudku ini..’ sambil beringsut pergi. Aku mulai mengerti kenapa anak-anak tak menyukainya, jarang bicara namun begitu bicara sangat menusuk dan nyelekit.
xxx
Perkataan Shaddy sepenuhnya benar, walaupun aku benci mengakui ini. Tugas magistrat memang tak mudah karena setiap harinya aku harus berhadapan dengan mereka yang dulu akrab denganku dan tentunya tak perlu bersusah payah memakai topeng untuk menutupi sifat asli mereka. Kini aku sepenuhnya mengerti alasan kenapa Shaddy menunjukkan sikap permusuhan padaku pada awal perkenalan dan kenapa anak-anak Downunder tak pernah mau melaporkan penggencetan mereka pada pihak sekolah maupun Magistrat; Ilya dengan senang hati menjelaskan semuanya termasuk alasan kenapa seorang Downunder seperti Shaddy bisa berada di kelas yang 99% nya ditempati oleh Hi-lander. Aku  lega  mengetahui bahwa meskipun suka menggerutu dan moody, Shaddy bisa jadi teman tukar pikiran untuk segala hal dan Ilya yang kini sekamar denganku setelah teman kamarku sebelumnya meminta kepala asrama untuk bertukar kamar. Siswi yang masuk kategori Nerd karena kebiasaannya ‘mendiami’ perpustakaan Magna Scriptura usai jam sekolah atau waktu lowong dan inilah yang menyebabkan dia tak punya satupun teman dekat di asrama. Gesture-nya yang sering mengatupkan kedua belah tangannya ketika sedang serius membaca dan dengan konsentrasinya yang tinggi ketika melahap buku yang dibacanya menarikku untuk mengenalnya lebih jauh. Semula kupikir seorang nerdy itu kaku, berkacamata tebal, sedikit gagap, dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Ternyata pemikiranku dipatahkan oleh Ilya dengan mengatakan bahwa menjadi nerdy tidak berarti kuper; dia suka bergaul, suka jalan-jalan, suka melakukan apa saja jika saja kesehatannya memungkinkan.
xxx
 Hari ini merupakan hari terpenting dalam kehidupanku sebagai manusia dalam hal pertambahan usia. Yup, hari ini aku ultah dan begitu pula saudara kembarku yang hanya tua sejam dariku.Pulang sekolah bentar, kamu mau kemana Dy?” tanyaku saat berbagi meja dengan Shaddy pas makan siang. “Kenapa emangnya?” selidik Shaddy sambil menandaskan jus jeruk dengan seruputan terakhir.“ Aku mau beli sesuatu dan aku minta tolong kamu untuk ngasih pendapat”  jelasku. “...Oo..keh, tapi traktir aku Pizza yak? ujar Shaddy asal. “Hee?!, perhitungan amat” rengutku. “kidding-lah..” ucap Shaddy nyengir. “Oiya, hampir lupa..nih buat kamu” ucap Shaddy sambil mengangsurkan kotak kecil berwarna coklat berpita pink kehadapanku. “Maaf cuman bisa ngasih gituan..Happy bday” ucapnya lagi. Strap HP bermotif kucing itulah hadiah Shaddy untukku ketika kotak itu aku buka. “Thanks dy” ucapku dengan senyum lebar dan dibalas Shaddy dengan thumbs up disertai kata ‘sip’.
xxx
Kami berdua barusan saja keluar dari toko perlengkapan aktifitas outdoor usai membeli tenda kubah yang akan menjadi hadiah untuk kembaranku. “Setelah ini kamu mau kemana?” tanyaku dengan niatan mengundangnya kerumah. “ke rumah kakak ku di daerah Pinetwigs, kenapa?” jawab Shaddy. “Mau ngundang kamu ke rumah” jawabku. “Makasih atas tawarannya, aku gak suka pesta..sori” apologi Shaddy. Aku mengangguk mahfum. “ yawdah..see you in school then..” pamitku sambil beranjak dari tempat itu. Shaddy mengangkat sebelah tangannya ketika aku menoleh sekali lagi ke belakang. Satu lagi kepribadian Shaddy yang baru aku ketahui, satu lagi kekagumanku padanya, dan rasa suka yang mulai muncul sebulan lalu bertambah setingkat lagi.
 xxx
Decision Upon Azura’s Rumbling-Tumbling Prom Night..
Bulan Desember, akhir dari ujian neraka dan awal dari persiapan acara kelulusan. Baik Downunder ataupun Higherground sedang dalam masa euforia mempersiapkan acara yang akan merayakan kelulusan mereka dari SMU Azura. Shaddy merupakan pengecualian, aura abu-abu dan kelam miliknya begitu kontras dengan kecerahan minggu persiapan; ketika ditanya jawabannya tetaplah sama, berkutat antara ‘aku ya aku’ atau ‘aku tak suka pesta’ yang membuat bahkan Ilya yang biasanya acuh pada ‘keganjilan’ Shaddy ini ikut penasaran. “Bahkan kamu juga penasaran Lya?” tanya balik Shaddy saat ditanya Ilya ketika rehat usai mendekorasi aula utama SMU Azura. Ilya menangguk pelan dengan wajah penasaran.“Tidak bisa dikatakan ya?” tanya Ilya lagi. “Begitulah, maaf..” apologi Shaddy pada Ilya yang dibalas dengan anggukan mahfum.
xxx
Shaddy
Aku menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali secara perlahan, pikiranku masih terus saja merepetisikan pertanyaan Ilya yang duduk bersisian denganku. Gadis ini menanyakan sesuatu yang tak bisa aku jelaskan secara verbal juga sesuatu yang aku anggap sebagai ingatan yang akan menggali kembali trauma yang sempat membuatku Catatonic dan ingin mengakhiri hidup. Aku tak bisa mengatakan kedua alasan tersebut padanya; tidak pada cewek yang diam-diam aku taksir; tidak karena egoku sebagai laki-laki melarang satu-satunya flaw permanenku  itu diumbar. “Oiya, siapa pasanganmu prom ntar?” tanyaku tiba-tiba teringat bahwa sejam lalu ada penarikan ballot nama pasangan Prom; sebuah kegiatan yang diusulkan oleh ketua Magistrat terdahulu yang bertujuan untuk mempererat hubungan antar dua asrama berseberangan ini. Ilya terdiam sejenak dan dengan muka bersemu merah dia menjawab setengah berbisik; ‘Nama kamu yang muncul dalam ballot..’. “HEE~HH?!” seruku spontan dengan suara yang hampir mirip pekikan monyet dan suara itu digemakan oleh ruangan aula tersebut dengan sangat sempurna. Gelak tawa Ilya membuncah menggantikan semu merah yang tadi mendominasi dan ditemani oleh pandanganku kini terpaku kearahnya untuk memperhatikan tawanya yang lepas secara penuh. “Jadi itu alasannya yak..” kataku  setelah beberapa saat yang disambut anggukan Ilya sambil menyeletukkan ‘iya, tapi kamu kan tak bisa..’. “Yawdah, tapi kamu harus janji satu hal; jangan memaksakan dirimu ..Ok?” sergahku  sambil membelai pelan pipi Ilya yang kembali  bersemu merah. ‘Ah~ sori aku tak bermaksud..’ satu-satunya kata apologi yang terpikirkan dalam benak sambil merutuki kelancangan tanganku. “Tak apa, aku hanya kaget saja..” hibur Ilya. “Okeehh~it won’t happened again..I promised” janjiku padanya dan dalam hati .
xxx
“What got in to you today dammit!” rutukku pada pantulan diri di cermin wastafel kamar mandi usai mencuci muka. Hari ini semua diluar dugaan; dengan cepat mengiyakan permintaan untuk pergi ke Prom padahal tahu benar kalau itu sama saja bunuh diri karena tubuhku pasti akan menolak keras untuk bekerjasama dan perihal membelai pipi Ilya from out of the blue ..merupakan kesalahan fatal yang walaupun termaafkan pastinya antara aku dan Ilya akan ada gap. “Hhhhh..I’m in deeep shit..” dengusku memecah pergi gelembung terawang kemudian tersaruk keluar dari kamar mandi dan mendaratkan badan letihku diatas kasur empuk.
Aku terbangun, tepatnya meloncat bangun saat HP di saku celana bergetar minta diangkat. Picingan mataku menangkap caller ID yg terpampang di layar..telepon dari Rara. “Ya Ra?” sapaku dengan suara sedikit serak sambil mengucek mata. Terjadi jeda sejenak sebelum kata ‘apa aku menganggu dy?’ terdengar diseberang telpon. “Gak sama sekali..ada apa nih?” balasku sambil menahan kuap kemudian duduk bersila diatas tempat tidur. “Hanya mengkonfirmasi pendengaranku tentang Ilya” ucap Rara dengan nada penasaran. “Apanya yang mau dikonfirmasi non?” dengusku sambil mengaruk kepala yang tiba-tiba gatal. “Kamu dan Ilya…akan jadi pasangan di prom nanti?” selidik Rara. “Yep, anda benar!” jawabku sambil berpim-pom menirukan suara alarm salah satu variety quiz produksi Jepang yang lagi populer saat ini. “Pembenci pesta kayak kamu mau ke Prom?” sangsi Rara. “ FYI, aku ke Prom semata buat nemenin Ilya..not for fun” ucapku membela diri. ”Iya juga sih..” ucap Rara membenarkan; Ilya seumur hidupnya baru sekali hadir dalam pesta ketika dia masih berumur 10 tahun dan itu pesta kejutan ultah-nya yang dirayakan oleh kedua orangtuanya saat dia dirawat di rumah sakit; ini pesta keduanya mungkin ini jadi pertimbangan Shaddy untuk menerima ajakannya ini. 
Ilya
DEGH.. degupan itu hadir tiba-tiba ketika tangan Shaddy terulur dan mengusap pelan pipiku; segalanya seperti berada dalam gerakan lambat dan tubuhku tak bisa bereaksi dengan baik. Kalau dirunut dari awal mula kejadian aku sama sekali tidak menyangka kejadian akhirnya akan jadi seperti ini karena Shaddy bukanlah orang yang dengan mudah merubah sesuatu yang dikatakan sebelumnya. “Tapi kau mau janji kan Lya?” ulang Shaddy lagi karena belum juga mendapat jawaban ‘Ya’ dari mulutku yang seketika terkunci karena tindakannya barusan. “Ya” jawabku setelah semenit lama kata itu ku kulum. Senyum Shaddy yang mengembang.. uluran tangannya mengajakku beranjak dari aula yang selesai terdekorasi .. berjalan bersisian tanpa banyak bicara dan akhirnya berpisah di depan gerbang asrama siswi Higherground…potongan-potongan kejadian ini terekam begitu saja dalam benak dan baru bisa kusatukan dalam satu rentetan frame memori saat tubuhku yang lelah terbaring letih diatas tempat tidur. “Kejadian hari ini semuanya diluar dugaan..” imbuhku dalam hati sebelum mengatupkan kedua mata yang sedari tadi terasa berat.
xxx
This Is What Happened 2 Years Ago At Azura High School’s 1st Year..
Kerumunan siswa-siswi baru memadati aula SMU Azura dengan berbaris rapi mendengarkan kata sambutan dari kepala sekolah sebagai bagian dari seremoni acara penerimaan siswa-siswi baru. ‘Hoahemmm~’ kuap Adit di barisan siswa baru yang serta merta mendapat sorotan mata tajam dari lainnya. “Maaf~” bisiknya pada yang lain. Setengah jam kemudian prosesi itupun berakhir dan kerumunan siswa-siswi beringsut keluar Aula dengan tertib.  “Akhirnya pidato yang membosankan itu selesai juga..”  gumam Adit  yang sedari tadi tersiksa karena harus menahan kuap yang terus datang silih berganti. SMU Azura merupakan sekolah terbaik di Pacifica dan memegang reputasi sebagai pencetak pengusaha sukses dan politikus jempolan yang memegang peran penting dalam Top up pemerintahan di Pacifica. “Hei, hati-hati kalau jalan mata empat!” hardik  seorang siswa berpostur jangkung pada seorang siswi berkacamata dan berkepang dua-tipikal nerd-saat dia tiba-tiba terhuyung dan tak sengaja menyenggolnya. “M~maaf” apologi siswi berkacamata itu. “Dasar kutu buku..pasti kau siswi yang akan masuk Downunder kan? Dasar orang miskin!” hardiknya mendorong keras siswi tersebut hingga terduduk di tanah. ‘Hei! Sopan dikit dong sama cewek!!’ teriak Adit  yang satu-satunya tergerak melihat insiden ini sambil mendorong badan siswa jangkung itu dan memperingatkannya untuk menjauh dari siswi itu. “apa urusanmu mencampuri urusanku..kau tidak tahu siapa aku?” cuap siswa jangkung. “ Kau tak apa-apa?” acuh Adit dan menoleh pada siswi itu sambil menyerahkan kacamata yang terlepas saat dia jatuh tadi dan mengindahkan setiap perkataan siswa jangkung itu. “Iya, thanks” ucap siswi berkacamata itu sambil menundukkan sejenak lalu pamit. BUGH!! Bogem mentah yang dilayangkan oleh siswa jangkung itu mendarat telak di wajahnya ketika berbalik. “Rasakan itu!” rutuk siswa jangkung.“Maaf, aku lagi tak mau berkelahi..” ucap Adit  sambil menyeka leleran darah segar yang menetes dari hidung dengan slayer yang disimpannya di saku belakang dan beringsut pergi. “Kurang ajar! Aku belum selesai denganmu..” raung siswa jangkung itu namun dihentikan oleh sosok kekar dengan seragam training sewarna darah dengan suara lantang. “Apa yang sedang terjadi disini, Glen!!” teriak pria kekar itu lalu menyeret kedua siswa yang dilaporkan terlibat perkelahian tadi ke ruang guru..
xxx
  ‘Iya, thanks’; kata yang terasa tak simpatik ini secara spontan terucap pada orang yang menolongku itu. Benakku tak sempat untuk memikirkan kata yang lebih sopan karena pening yang mendera sejak setengah jam yang lalu tak mau lagi diajak kompromi dan menuntut untuk mengistirahatkan badan atau paling tidak duduk sejenak.
xxx
  “Kami tidak berkelahi pak” tegas Adit yang pendarahan di hidungnya telah berhenti. “Terus hidung kamu kenapa, Kalau gitu?” ucap Pak Roother minta penjelasan. “Hidungku sering gini pak kalau kelamaan di panas” balas Adit dengan mimik yang mengatakan bahwa hal ini tak perlu diperpanjang lagi.“Sekarang bisa aku pergi?” potong siswa jangkung. Tatapan tajam guru P.E itu membuat siswa jangkung itu tertunduk usai mengatakan hal itu. “Kau silahkan kembali..Glen, kau tinggal.” putusnya sambil mempersilahkan Adit untuk meninggalkan ruang guru. “Awas kau nanti..” bisik siswa jangkung padanya. “Terserah..” balas Adit bergumam. ”Makasih pak..” ucap Adit  sambil menunduk kemudian balik kanan keluar dari ruang guru.
xxx
“Hi..” sapa Adit basa-basi pada siswi berkacamata saat keduanya bertemu muka di selasar lantai satu dalam kerumuman siswa-siswi baru yang sedang dalam tur singkat guna pengenalan gedung, asrama dan ruang kelas. Siswi berkacamata itu membalasnya dengan tersenyum tanpa berkata sepatahpun. Karena maksud awalnya hanya basa-basi jadi Adit tak terlalu berkeinginan untuk melanjutkan percakapan berat sebelah ini dan mulai fokus pada pencarian ruang kelasnya.
xxx
“Yeph, I-A ” kemik Adit mengkonfirmasi kombinasi angka dan huruf pada papan penanda kelas dengan kartu ID di tangannya kemudian melangkah masuk kedalam kelas. Kelas sudah dipenuhi dengan dengungan lebah yang riuh rendah sebagai pertanda satu hal; homeroom teacher-nya belum datang dan itu berarti dia belum sepenuhnya terlambat. Adit perlahan berjalan menuju meja satu-satunya meja yang tersisa di kelas ini; di pojokan dekat jendela, menyampirkan tasnya di gantungan samping meja dan menghabiskan hari itu memperhatikan sekelilingnya lalu menyadari satu hal,  siswi berkacamata itu ternyata sekelas dengannya.
xxx
Dua kebetulan dalam satu hari; Meshaditya, siswa yang tadi menolongku ternyata sekelas namun aku belum  cukup punya keberanian untuk sekedar menyapanya dan menghabiskan sebagian minggu pertama sekolah dengan keluar –masuk perpustakaan, tempat yang paling nyaman untuk seseorang yang lemah terhadap kegiatan fisik sepertiku dan menyalurkan satu-satunya hobi yang tidak butuh banyak gerak.
xxx
“Akhirnya kutemukan juga kau!” seru seorang siswa jangkung begitu Adit keluar dari ruang kelasnya. “Hhh..kau mau apa lagi?” tanya balik Adit yang sama sekali tak terpengaruh dengan wajah goblin yang ditunjukkan siswa itu. “Aku ingin kita berdua menyelesaikan di atap” tegasnya. “Sudah kubilang aku tidak tertarik” balas Adit sambil berlalu namun tetap waspada karena gesturnya menunjukkan kalau orang ini tak bisa menerima penolakan. “Aku akan buat kau menyesal” peringatnya dengan nada sedikit geram. “I’ll take my chances..” lambai Adit kemudian menghilang di balik kerumunan siswa-siswi yang juga menuju Cafetaria. Cafetaria sekolah penuh dengan siswa yang tak ingin ketinggalan menu spesial yang tiap hari berbeda-beda, menu hari itu tidak terlalu menarik untuk Adit jadi dia hanya memesan dua bungkus roti chicken floss di counter dan membeli kopi kalengan di mesin penjual yang berada tepat di samping counter lalu ditengah semua itu dia teringat sesuatu, dia belum ke perpustakaan untuk aktivasi membership-nya dan hari ini tenggat akhir aktivasi. “Ok, next stop Perpustakaan..” gumam Adit sambil mempercepat langkahnya keluar Cafetaria.
xxx
Perpustakaan Magna Scriptura terletak diantara dua asrama dan diapit oleh aula dan gedung sekolah hingga memudahkan siswa-siswi untuk dengan cepat berpindah dari gedung yang satu ke gedung yang lain.
Di meja resepsionis Adit disambut oleh kalimat standar ‘Apa yang bisa saya bantu?’ oleh seorang wanita berkacamata frame tebal. Setelah Adit mengatakan maksudnya dia lalu meminta ID Card dan mencatatnya di komputer. “Registrasi selesai, apa ada lagi yang bisa saya bantu?” ucapnya lagi. Adit menggeleng dan bergegas keluar setelah berterima kasih, dia telah kehilangan setengah jam dari satu jam istirahat makan siangnya. Di pintu masuk Adit bertumbukan dengan siswi berkacamata yang tiba-tiba muncul saat Adit membuka pintu perpustakaan. “Sori..” apologi Adit sambil membantunya berdiri kemudian membungkuk lagi untuk mengambil buku-buku siswi itu yang semenit tadi berdebam di lantai bersamanya. “Maaf, aku tak melihatmu tadi.. sekali lagi maaf yang tadi yak, aku gak sengaja..” ulang Adit karena merasa permintaan maafnya masih kurang kemudian berlalu tanpa memperhatikan sesuatu yang tercecer dari sakunya.
xxx
  Aku bertemu dia lagi hari ini, kami bertumbukan di depan pintu perpustakaan hingga menjatuhkan 3 buku yang telah selesai dibaca dalam pelukanku. Dia berkali-kali minta maaf sambil memungguti buku-buku yang tercecer dengan sigap lalu menyerahkan padaku dan seperti biasanya aku tak bisa berkata apa-apa hanya bisa mematung hingga sosoknya sepenuhnya menghilang diantara kerumunan siswa yang hilir-mudik lalu menyadari sesuatu, dia menjatuhkan selembar foto yang menampilkan keluarganya.
xxx
“Meshaditya!!” raung Glen yang telah menunggunya di depan gerbang sekolah. “Haaa~h, masih juga?” dengus Adit sambil menggaruk kepalanya sambil berjalan mendekati gerbang sambil memikirkan sesuatu agar bisa lolos kali ini. “Kau takkan bisa lari lagi..”  gerum Glen. “Ah, selamat pagi pak Roother” bungkuk Adit pura-pura dan Glen termakan trik itu dengan sempurna hingga Adit bisa dengan leluasa menghilang di kerumunan siswa-siswi Azura.  Sekembalinya dari makan siang, Adit mendapati secarik kertas merah ditempel di mejanya dengan suasana kelas yang lain dari biasanya. “Apa nih?” ucap Adit spontan sambil menarik lepas kertas itu dan meremasnya. “Itu gara-gara kau cari masalah dengan Glenhard Felony” celetuk siswa yang duduk  3 meja di depan Adit.  “Begitu ya..” simpul Adit lalu memasukkan remasan kertas itu kedalam sakunya. Penempelan kertas merah itu terus saja terjadi dan seisi kelas kini tak ada yang berani duduk bersebelahan, di depan, bahkan dibelakangnya. Adit yang pada awalnya tak ambil pusing akan hal ini namun lama-lama gerah juga.
xxx
Kertas merah, teror psikis yang hanya diketahui oleh siswa-siswi SMU Azura itu akhirnya jatuh padanya
xxx
Langkah cepat Adit berdebam keras menghantam tiap undakan tangga yang jadi akses ke atap, dia ingin secepatnya menuntaskan masalah sepele yang berubah jadi serius ini dengan Glen, saat ini juga; once and for all!  karena muak dengan segala tindakan Glen dan teman-temannya yang dengan tidak sportifnya melibatkan orang yang tidak berhubungan dengan urusan mereka berdua, termasuk si siswi kacamata  dan makin keterlaluan ketika dia tahu kalau dia adiknya Alyana dan menyebarkan isu kalau kakaknya itu punya affair dengan dewan sekolah sehingga terus mendapat beasiswa. Adit tiba di atap dengan satu teriakan ‘F*#k-Off’ yang memekakkan telinga kemudian seketika itu Adit tak bisa mengendalikan tubuhnya yang menghantam siapa saja yang muncul dihadapannya kemudian segalanya menjadi putih.
Bau alkohol yang menusuk memaksa Adit mengumpulkan kesadarannya yang tersebar entah kemana tadi. “Kau sudah sadar?” imbuh seorang siswi yang menyanggah kepalaku kedalam pangkuannya. Adit mengerjapkan matanya untuk mengingat kembali apa yang terjadi tadi; dia menaiki tiap undakan tangga dengan emosi yang meledak-ledak..terdengar tone Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing~  ditelinganya dan tak bisa mengingat apa-apa lagi setelah itu. “..Maaf, membuatmu terlibat” ucap Adit setelah menyadari siapa yang memangku kepalanya. Siswi itu menggeleng  lalu berujar “Anggap saja balas budi atas waktu itu..”. ”Ugh, tubuhku sakit semua...” ringis Adit dalam hati saat mengambil posisi duduk.  “Glen dan lainnya?” tanya Adit padanya karena tempat yang sesaat sebelumnya penuh dengan kaparan tubuh kini bersih bahkan dari bekas perkelahian. “Sudah pergi..” jawabnya pendek. “Haah~~I’m in deep shit” gerutu Adit sambil memeluk kedua lutut dan menyenderkan kepalanya diatasnya. “Selamat datang di sisi lain SMU Azura..Mesy~aditya” ucap siswi berkacamata itu. “Panggil saja aku Shaddy, nama panjangku agak tidak biasa terdengarnya..  bahkan oleh diriku” sergah Adit yang mencoba untuk membuat percakapan lanjut. “Gitu ya..” senyum siswi berkacamata itu lalu menyebutkan namanya yang selama ini Adit tunggu-tunggu..”Aku Camillya, panggil saja Ilya”
xxx
Kejadian di atap itu membuat Adit makin dijauhi oleh teman-teman sekelasnya yang tentu saja sudah termakan doktrinasi Glen dan menjadi akrab dengan siswa-siswi kelas lain yang merasa berterima kasih sakit hati mereka dibalas olehnya. Adit dilain pihak tak terlalu mempermasalahkan hal ini dan terus larut dalam rutinitasnya sehari-hari dengan selalu mengulang kebiasaan memesan makanan dan lebih banyak menghabiskan waktu istirahat makan siangnya di luar Cafetaria hingga suatu saat dia dipanggil oleh Dewan Magistrat.
xxx
“Bisa dijelaskan apa kesalahan yang diperbuat?”tanya Adit ketika dia diminta pertanggungjawabnya karena melanggar peraturan sekolah. “..karena selama ini saya bertindak dengan logika dan bukan karena ada kepentingan..” sambungnya.
“Ada laporan kau berkelahi dengan senior dan berkelahi merupakan pelanggaran serius di sekolah ini..” tegas salah satu dari tiga Magistrat yang duduk di meja panjang yang teletak tak jauh dari Adit berdiri.  “Laporan? Maafkan nada suaraku, apakah Magistrat memanggil dan mengultimatum siswa-siswi sekolah ini HANYA berdasarkan laporan?” tanya Adit dengan alis terangkat. “tentu saja tidak,  ada saksi yang melihat kau berkelahi” seru Magistrat yang berada di sisi kiri meja. Dewan magistrat kemudian memanggil masuk seorang siswa yang ternyata sekelas dengannya. “Oh, ternyata kamu..kebetulan sekali” ucap Adit sarkastis. “dengan adanya saksi ini kau tak bisa mengelak kan?” simpul dewan magistrat dengan nada penjatuhan vonis. “ada kata-kata terakhir sebelum penjatuhan sangsi?” tanya dewan magistrat yang duduk di sisi kanan. “Apakah aku bisa melakukan pembelaan atas diriku?” tanya Adit penasaran. “Bisa, selama ada saksi dan bukti..” jawab mereka. Adit kemudian memulai pembelaannya dengan menampilkan bukti berupa kertas merah yang menjadi cikal bakal pencetus perkelahian, memanfaatkan saksi yang dihadirkan pihak magistrat untuk membenarkan pembelaannya, dan akhirnya mengaitkan saksi itu sebagai salah satu dari mereka yang akan ikut kena sangsi. “Dewan yang terhormat, saksi sangat tahu kejadian itu maka disimpulkan bahwa dia juga terlibat dalam perkelahian mengingat di atap tak ada orang lain selain kami yang berkelahi..” tegas Adit menyelesaikan pembelaannya. Wajah siswa yang jadi saksi itu sekejap pucat pasi mendengar perkataan Adit ini seakan baru sadar kalau kehadirannya juga membawa petaka bagi dirinya. Sementara didepan mereka berdua tercipta percakapan ulet antara ketiga orang dewan magistrat dan dari nada suara mereka nampaknya mereka mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan karena Adit memberikan bukti yang juga bisa merusak reputasi sekolah ini. Dalam hati Adit berterima kasih pada Peter Hisaki, siswa Downunder yang tidak sengaja menemukan informasi tentang apa yang terjadi setahun lalu di sekolah ini dari buku harian bersampul coklat yang berisi bukti dan potongan kliping koran setempat yang memuat tentang insiden ditemukannya seorang siswi tahun pertama sekolah ini yang bunuh diri dengan melompat dari atap sekolah, diduga siswi tersebut depresi. Pihak berwajib yang melakukan penyelidikan akhirnya berkesimpulan bahwa ini murni bunuh diri karena tak ditemukan tanda-tanda kekerasan dari visum korban dan kertas merah yang ditemukan dilokasi kejadian terlalu lemah untuk dijadikan barang bukti.
xxx
Keputusan akhirnya dibuat, Pertama; Adit akan pindah asrama untuk menghindari masalah lebih serius lagi dan semua fasilitas yang dia dapat ketika masuk asrama Higherground akan dicabut, kedua dia harus menyerahkan semua bukti yang dia punya ke Magistrat; dua keputusan yang diterima Adit tanpa berpikiran terlalu lama karena sebagian besar fasilitas yang diberikan Higherground tak pernah dia pakai dan kedua semua bukti yang diberikan telah dibuat soft copy-nya dan tempat penyimpanannya jauh dari jangkauan orang-orang iseng Higherground yang mencoba mencari masalah dengannya lewat campur-tangan sekolah meskipun kini dia telah bergabung dengan Magistrat.
xxx

Rabu, 01 Agustus 2012

A Promise

Pada Awalnya Hanyalah Aku yang Menyukai Laut..
Langit...
Hujan..
Kemudian Dia Hadir yang Juga Menyukai Laut
Langit..
Hujan..
Di Tangannya Ada sekotak Mimpi Yang Ingin Dia Bagi Bersamaku
Mimpi-Mimpi Yang Takkan Bisa Termiliki Walau Dalam Tidur Paling Lelapku Sekalipun
Aku Hanya Bisa Berjanji Akan Satu Hal;
Dibawah Langit Melembayung Ini,
Disela Hempasan Ombak Yang Memecah Tepian,
Dan Ditengah Gerimis Yang Menitik Perlahan..
Aku Akan Berusaha Keras Mewujudkan Impian Terbesarnya..