Jumat, 04 September 2015

Pada Suatu Ketika..

tangis meronta pecah saat sang terkasih berpulang ke sang khalik, lengkingan tangis itu lolos dan menghujam masuk kedalam gendang telinga tanpa bisa dicegah kedua telapak tanganku yang tengah khusyuk bersama lautan pelayat menengadahkan doa penghantar, peringan langkah sang mayit meniti jembatan akhirat nanti.sekilas ekor mataku memperhatikan sosok yang melengkingkan tangis, perempuan yang terbungkus pakaian berduka itu telah memasuki usia senja dan nampaknya muslim yang taat namun kenapa harus menangis meronta padahal hal itu hanya akan membuat sang terkasih tersiksa dalam tubuh terbujur kakunya apalagi allah tak menyukai hal itu?melepaskan yang terkasih memang berat, terlebih untuk selamanya dan tak semua insan manusia bisa tegar dengan cobaan atau musibah yang dihadapi..maka kupejamkan kedua mataku agar lebih khusyuk melantunkan doa dengan harap keluarga yang ditinggalkan bisa dilapangkan hati juga diriku saat mendapatkan cobaan dan musibah yang sama.

AMIN  

Rabu, 02 September 2015

Perihal Surga

Surga merupakan janji sang khalik bagi umatnya yang taat
Surga merupakan dambaan setiap insan manusia yang merindui tempat terindah saat kembali ke pangkuan sang khalik
Surga bagi seorang suami ialah istri
Surga bagi seorang istri ialah suami
Surga bagi seorang anak berada di telapak ibu
telapak kaki ibu..
telapak kaki yang rutin menyepak, menendang anggota tubuh
surga..surga..surga
jika surga seperti itu yang didamba maka sesungguhnya sudah sejak lama surga itu telah kurasakan begitu intens hingga meninggalkan biru lebam dan bibir berdarah..

Kamis, 20 Agustus 2015

SEBUAH PRELUDE BAGI PENGEJAR MIMPI

MERAIH MIMPI DIBAWAH LANGIT PASIFIKA

Langit pagi kota Radian di pertengahan bulan Agustus, cerah dengan sejumput arakan awan seputih kapas mengantar sang rembulan pucat terkantuk-kantuk ke peraduannya sambil menyapa sang fajar yang masih malas bergegas terbit di ufuk timur. Dari balik jendela lantai dua yang mengarah ke laut Pasifika, dari balik selimut lusuh yang sekenanya melindungi diri dari dingin dan gigitan nyamuk  berawal cerita tentang cinta berawal dari selembar plester luka dan perjuangan anak manusia meraih mimpi akademisnya di kota besar yang tak ramah pemimpi.

Hiruk-pikuk bagian akademik universitas Pelita Nusa melayani pencetakan kartu rencana studi mahasiswa menandakan bahwa semester pertama telah dimulai. Hampir sejam lamanya Agi-panggilan akrab Izanagi Arkwright-mengantri masuk ruang komputer untuk mencetak kartu rencana studinya namun antrian masih mengular padahal  waktu kuliah perdana kian mendekati dalam rentang waktu 5 menit kedepan.
“Belum juga ya?” dan kalimat sebangsanya hampir berbusa keluar dari mulut kesal mereka. Ketika pada akhirnya waktu kuliah perdana tiba hanya sebagian dari antrian mengular itu yang selesai mencetak kartu rencana studi ketimpangan dan tantangan pertama bagi Agi dan lainnya sebagai mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah di universitas kebanggan kota Radian ini.
Kuliah perdana dimulai dengan perkenalan singkat tentang mata kuliah yang akan diajarkan, info tentang buku pegangan wajib mahasiswa dan secuil pemberian materi kuliah sebagai pemanasan.
Kuliah berlangsung selama satu jam setengah dan merupakan kuliah umum yang berarti semua mahasiswa-mahasiswi semua jurusan mengambil kuliah yang sama. Universitas Pelita Nusa memiliki 3 program studi bahasa dan 1 program studi budaya; program studi bahasa mencakup bahasa inggris, jerman dan bahasa indonesia dengan 2 jurusan besar yaitu Literatur yang berorientasi pada karya sastra seperti prosa, puisi dan drama; dan lingustik yang berkutat dengan muasal bahasa, tata bahasa dan penggunaannya sedangkan program studi budaya mencakup ilmu sejarah dan budaya.

ALASAN AGI

Agi memilih prosa inggris, dua pilihan yang sempat menjadi bahan kernyitan sangsi teman-temannya semasa SMU saat ditanya program studi dan jurusan apa yang akan diambil saat lulus nanti. Mereka menganggap pilihan jurusannya terlalu muluk karena prosa bukanlah sesuatu yang hanya sekedar ‘suka buku’ atau ‘suka baca’ namun membutuhkan nalar sastra yang mumpuni. Pada saat itu Agi hanya menjawab sekenanya “Kita takkan tahu kalau belum mencobanya” sambil mengangkat bahu lalu melanjutkan membaca komik hasil boleh minjem-nya. Asumsi teman-temannya bukan tak beralasan karena Agi secara kasat mata tak pernah terlihat serius dalam melakukan segala sesuatu terutama di bidang akademik. Tak mau menonjol namun tak bisa diremehkan; prinsip ini dipegang teguh oleh Agi sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Prinsip yang terlahir akibat rasa iri teman sekelas atas pengetahuan lebih yang dimilikinya saat itu. Karena selalu dikucilkan dan diejek inilah yang membuat Agi beralih ke buku dan TV, dua aspek yang kurang lebih membentuk pribadinya seiring pertambahan usia. Dari TV dia mengenal bahasa inggris melalui tayangan edukasi berbentuk film tentang alien berwujud monster hijau pemakan jam yang terdampar di bumi saat piknik dan pengetahuan lainnya dari ragam buku-buku yang dibacanya.  Sebagaimana Abg pada umumnya Agi kemudian diperhadapkan dengan urusan hormon, feromon dan valentine ketika ia masuk sekolah menengah pertama.  
                                                                                                                  To Be Continue....... 





Minggu, 08 Juni 2014

Solitary Solitude


Bunyi dentangan jam sebanyak delapan kali dengan cepat merambat keseluruh penjuru dengan bantuan hawa dingin yang menyelimuti malam kota tak bernama; dentangan pada malam itu juga menandai tibanya kereta terakhir berisi beberapa pekerja kantoran dan diriku yang akan berada di kota tak bernama ini dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Stasiun kota tak bernama masih mempertahankan bangunan aslinya dengan sedikit polesan modernitas di beberapa sudut. Kabut tipis serta merta menyambut para penumpang dengan gigilan dingin begitu pintu otomatis kereta terbuka, walaupun telah terbiasa dengan keadaan ini beberapa penumpang terlihat mengosok-gosokkan kedua belah tangan mereka untuk mengurangi rasa kebas akibat hawa dingin dan berjalan dalam kelompok untuk tetap hangat. Sedangkan diriku yang masih menyesuaikan, memilih bergegas keluar stasiun sambil merapatkan jaket dan mendapati area parkir stasiun sepi tanpa terlihat satupun kendaraan penjemput; kini yang bisa aku lakukan ialah menunggu dan membiarkan otakku memijarkan berbagai macam kemungkinan dan mencari solusi atas sejumlah kemungkinan itu.

Setelah beberapa waktu berselang, pelataran parkir stasiun menerima kedatangan sebuah mobil jenis land cruiser yang parkir tak jauh dari tempatku menunggu. Dari dalam mobil bercat selegam malam itu keluar seorang pria jangkung yang kemudian memperkenalkan diri sebagai saudara jauh ibu saat mendapati raut kebingungan dari yang dijemputnya. Dalam perjalanan ke rumahnya sang pria jangkung mencoba mencairkan keterasingan dengan percakapan ringan mengenai apa saja meskipun menurutku itu tak perlu dilakukannya karena lebih menyukai ketenangan dibanding harus merespon pertanyaan basa-basi semacam itu.

senin pagi di kota tak bernama, sedikit berkabut karena mentari masih setengah hati bersinar. ditengah hiruk pikuk bus pagi hari aku duduk sambil menguap kantuk, ini hari pertamaku di sekolah baru yang entah memegang peran apa bagiku; si kutu loncat ini nantinya.
laju bus perlahan menurun setelah beberapa belokan karena terjebak macet yang sepertinya menjadi trademark kota tak bernama ini dilihat dari decakan kesal beberapa penumpang dan kembali terurai pada pada menitan kelima-satu menuju delapan menit akhir sebelum jam tujuh tepat.

Ketika dentangan bel masuk terdengar melalui pengeras suara kelas, aku baru saja selesai menuliskan 'Raka' di papan tulis dan kini menghadap kearah murid yang duduk rapi di meja mereka untuk memulai perkenalan singkat dan disambut dengan dengungan sesaat berdesibel rendah yang menjadi respon tipikal terhadap anak baru. sesaat kemudian aku sudah berada di tempat duduk yang ditunjuk sang guru wali kelas; bersebarangan dengan siswi berambut sebahu yang enggan mengangkat wajahnya sedetikpun dan dipunggungi oleh sejumlah siswa-siswi menatap acuh tak acuh sejak menit pertama aku menjejakkan kaki di kelas ini.

Setiap orang dilahirkan sama namun memiliki cara yang berbeda untuk diakui keberadaannya. Di kota tak bernama ini para pemegang kapital dianugerahi imunitas sosial sebagai hak pemegang strata sosial tertinggi; hak khusus ini juga tersemat mentereng pada putra-putri mereka yang lebih suka menyalahgunakannya dibanding mengisi volum otak dengan pengetahuan yang berguna. Bicara tentang volum otak, punyaku baru semenit lalu terisi serentetan nama penghuni kelas ini melalui pengecekan absensi dan setengah jalan mengunduh pelajaran yang lima menit lagi sesinya akan berakhir.

Rehat makan siang merupakan waktu penuh perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang spesial dari kafetaria sekolah. Tentu saja disinipun tak ada bedanya, kali ini teriakan 'roti daging spesial' menjadi kata kuncinya.
"Ke Kafetaria yuk?" ajak seorang siswi yang tempatnya berjarak 2 deret di depanku. aku hanya mengangkat sedikit kepalaku kemudian kembali tenggelam dalam alunan BGM game handheld-ku tanpa harus berbasa-basi menjawab ajakan itu karena yang ia ajak bukanlah diriku melainkan siswi sebangku dengannya yang menjawab dengan anggukan kemudian bergegas meninggalkan kelas yang menyisakan siswi berambut sebahu yang tak mau terpisah dengan buku bacaannya.

Kamis, 19 Desember 2013

Bananaluva : The Story

FIRST PEEL..

Hidup punya cara yang unik untuk menguji mental manusia yang menjalaninya, ujian yang muncul juga tidak bisa dibilang susah ataupun semudah membalikkan telapak tangan. seperti ujian untuk bersosialisasi bagi Ukie kecil dalam masyarakat yang menganggap derajat seseorang ditentukan oleh apa yang melekat pada diri mereka; mulai dari nama, pakaian, dimana biasanya makan dan belanja sampai pada hal yang remeh seperti makanan kesukaan yang termasuk didalamnya buah. malang bagi si Ukie kecil dia sangat suka pada buah pisang yang notabene dianggap buah 'kampungan' meskipun sebenarnya salah satu buah eksotis dan sebelumnya menjadi salah satu produk pendatang selain keju, roti dan teh yang dibawa penjajah bangsa eropa juga jepang. asal mula kesukaan si ukie kecil pada pada pisang ialah pada saat bayi dia lebih sering diasupi pisang dibanding buah lainnya yang pada masa itu asing dan mahal untuk dibeli sebagai pengganti susu formula kelas dua atau tiga yang rasanya tidak terlalu cocok di perut bayi Ukie.
Pisang-jawaban spontan Ukie kecil pada guru SD-nya ketika ditanya tentang buah favoritnya memulai kisah ini;jawaban yang mengundang gelak tawa seisi kelas karena buah tersebut sangat kental diasosiasikan dengan binatang yang menjadi asal-usul manusia menurut teori evolusi Darwin. " pisang kan makanannya monyet.." ledek Ivan yang memilih Apel sebagai buah favoritnya di sela riuh tawa itu. Ukie kecil menatap Ivan dengan tangan mengepal menahan marah, kalau saja ini bukan hari pertamanya di sekolah baru sudah dari tadi kepalan tangannya ini mememberi pelajaran 'budi pekerti' pada anak asal nyablak itu.
Jadi siswa pindahan bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi Ukie, ini ketiga kalinya dia pindah sekolah, kesekian kalinya ditanya buah favoritnya, dan kesekian kalinya pun diejek karenanya. "memang apa salahnya menyukai pisang?" gumamnya dalam hati tiap kali ditertawakan seperti ini sambil menunduk diam. Sejam kemudian bel penanda istirahat berbunyi dan hamburan anak-anak berseragam putih merah dari meja mungilnya mulai menyesaki pintu kelas, berebutan ingin segera keluar bermain menyisakan Ukie kecil yang tak punya sedikitpun minat untuk keluar kelas dan memilih untuk melakukan kegiatan yang paling disukainya tanpa perlu banyak gerak yaitu menggambar dan ruang kelas yang kosong merupakan momen tepat untuk mengeluarkan ide dan imajinasinya keatas kertas tanpa gangguan.
"Kamu  tidak keluar bermain?" tanya sang guru yang sedang mempersiapkan mata ajaran pada jam berikut. Gelengan sopan Ukie menjawab pertanyaan tersebut kemudian meneruskan goresan pensil 2B-nya diatas selembar kertas yang sesaat lalu dipersiapkannya sampai dering bel tanda istirahat usai tiba.                  
Perilaku Ukie yang enggan beranjak dari tempat duduknya kala istirahat tentu saja tak luput dari praduga pembuat panas hati dan kuping, namun semuanya tak berlangsung lama karena tak terlalu ditanggapi oleh sang empunya sebab tujuan utama dia datang ke sekolah ialah untuk belajar bukan untuk mengakrabkan diri  demi meniadakan pandangan bahwa 'anak luar daerah tidak diterima disini'. sikap yang diambilnya ini berdasarkan firasat yang bertambah prosentasi ketepatannya tiap kali dia pindah sekolah akibat alasan yang tak pernah diketahuinya.  
Pendulum waktu berayun cepat kedepan membawa Ukie ke salah satu fase kehidupan manusia yang katanya paling indah, masa remaja yang kental akan pemberontakan dan pencarian jati diri.

"Ntar itu buat aku yah Ki??" pinta sebuah suara dari balik punggung Ukie mengusik coretan pensil mekaniknya. "kalo loe diem duduk manis ntar aku pertimbangkan.." kata Ukie tanpa menoleh karena mengenal persis pemilik suara itu, namanya Riane dan dia satu-satunya cewek yang cukup pede bilang kalau suatu saat gambar-gambar Ukie akan berada di setiap galeri eropa, makanya sejak dini dia mengumpulkan gambar cakaran asal Ukie beserta tanda tangannya untuk dikoleksi. tergelak, itulah reaksi paling spontan yang hadir di wajah Ukie saat Riane mengutarakan keyakinannya akan masa depan gambar Ukie tersebut. "Amin kek, malah ketawa..doa nih!" keplak Riane gemas."Iyaaaah, aminnn" ringis Ukie sambil menyerahkan lembar gambar yang tadi dikerjakannya. 

Rabu, 19 September 2012

Raungan Lirih...
Jilatan api yang menggila..
Temperatur yang kian meningkat tiap detiknya...
....Aku belum mau mati!

tubuhku merekam semua ini dalam benak tanpa ada reaksi gerak, kaku terkapar
Mug kopi hangat mengepul pengusir kantuk yang masih tak tertahankan...
Serakan memori masih setengah jalan tersusun