Selasa, 06 Desember 2011

Let Me..

Ijinkan aku..

Ijinkan aku untuk sekejap untuk men-defrag ingatan agar senantiasa ingat apa yang harus dan tak semestinya kulakukan jika berada di dekatmu..

Ijinkan aku untuk beberapa saat saja untuk menyapih dari keramaian agar kau tak akan melihat sisi yang tak kau sukai..

Ijinkan aku mengatakan bahwa jangan pernah lelah mengerti diriku selayaknya diriku mencoba mengerti kamu


Let me ..
Let me for a moment to defrag memory to always remember what you should and should not do when I'm around you ..
Let me for a while just to wean from the crowd so that you will not see the side that you do not like ..
Let me say that you should never tired try to understand me as I am try to understand you

Senin, 21 November 2011

Indigo

Sekali lagi sakit kepala akibat suara tak berbentuk yang terus mengodami kepala; kutukan bertudung berkah ini sudah sangat menganggu alur kehidupanku dan membuatku menjadi manusia yang termarginal. tak ada seorangpun yang sudi isi kepalanya dibaca oleh orang lain; orang yang sama sekali asing. kalau saja mereka bisa mengerti bahwa aku juga tak punya keinginan untuk membaca isi kepala mereka hanya saja tubuhku ini tak hentinya mendownload tiap kata dari dalam kepala mereka. adakah solusi yang eksak tentang ini? apakah pengucilan hanyalah satu-satunya jalan? dalam hal ketidakadilan dan azazi, privasiku juga dilanggar! siapa suruh mereka tak punya usaha untuk menutup rapat isi kepala mereka, siapa suruh mereka tak mencari jalan untuk anomali ini, siapa suruh mereka mencari jalan pintas dengan membenciku yang secara ajaibnya mengamplify kemampuanku..

Jumat, 26 Agustus 2011

Kisah Tengkar Tak Bersebab

Benaknya bergemuruh hebat, tak satupun dari akal sehat yang bisa menyimpulkan sebuah alasan akan hal yang terjadi..
pria itu hanya mengayunkan langkahnya mengikuti bayangan yang sangat familiar bayang orang yang telah dipilihnya menjadi pendamping hidup walau masih ada keraguan akan hal itu

Minggu, 24 Juli 2011

Mencari..

tapakan langkah dibawah terik mentari; mencari dan menanti titik-titik hujan penyegar hari
walau hal itu hanya sementara; diuapkan oleh panasnya hari.

Rabu, 13 Juli 2011

Kotaku

udara hangat naik perlahan dan menyelimuti tiap tubuh lalu-lalang di pusat kota; salah satu tubuh itu ialah diriku yang tengah jengah akan keadaan sekitar yang memakai topeng 'kemiskinan', 'kasihan' dan 'tak berdosa' demi mengais sesuap nasi yang bagiku haram mereka telan selama fisik mereka masih mampu berusaha tanpa dependen..

Minggu, 03 Juli 2011

pusat kerumunan sebuah kota

desir angin hangat malam menerpa begitu saja tubuh kerumunan individu yang lalu-lalang tanpa ada apresiasi dari mereka. ragam campur aduk pikiran di kepala mereka membuat apapun yang menyentuh kulit menjadi bebal dan mati rasa.

Selasa, 21 Juni 2011

A prelude

pagi itu merupakan pagi di bulan juli yang pengap; aku bangun dengan malas dari tempat tidur busa dengan seprai yang hanya sebagian saja menutupi karena gerik gelisah orang yang tidur diatasnya-yaitu aku-semalam. mimpi buruk itu datang lagi, kebakaran yang menewaskan seluruh keluargaku seakan tak memberikanku ruang untuk bernafas lega.

Kamis, 05 Mei 2011

Brainstorming 'Bout Life

Malam ini merupakan malam bulan april yang ke-19 dan waktu menunjukkan 11.53 PM. Entah apa yang membuat malam ini begitu spesialnya hingga aku yang baru semenit lalu tiba di rumah sampai terdorong untuk menghidupkan aspire 4741 ini dan mengetikkan narasi tentang apa yang kulakukan pada saat ini diatas sofa butut yang penuh dengan cakaran 4 kucing kesayangan keluarga. Sebenarnya tadi sejak di angkot ada beberapa ide yang ingin kutulis pada saat ini namun segalanya hilang terbilas bersama sabun pembersih muka dan yang terpikirkan saat ini hanyalah tanda TITIK!

Titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik titik…

Titik-titik ini mewakili tiap pemikiran yang hilang sejak dari check out hingga tadi sebelum aku tiba dirumah, sebelum ganti baju dan sebelum cuci muka…

Minggu, 13 Maret 2011

Compedium

disebuah cafe yang ramai sang eter kembali bercerita;
cerita tentang tsunami yang tak terjadi namun membawa petaka macet dan gelombang macet
cerita tentang ketergesaan, beban pikiran, harapan, dan mimpi yang menggembung pelan; takut pecah..
di cafe ini tak ada yang perlu diceritakan lebih lanjut, tidak di dalam kungkungan cahaya silau ini..cerita yang tak punya harga untuk terceritakan ataupun dijadikan bahan pemikiran..
pada akhirnya cerita hari ini hanyalah salah satu karya gagal sang eter...

Kamis, 03 Maret 2011

PARTING WAYS (Jalan Yang Berbeda)

Deru bus melayangkan debu ke udara, menciptakan tirai tipis yang membuatku sedikit terbatuk. Pandanganku masih mengikuti arah kemana bus itu berbelok dan menghilang dari terminal. “Bye” ucapku dalam hati pada seseorang yang kini sudah takkan bisa lagi berbagi emosi secara nyata, seseorang yang harus kembali ke daerah asalnya pada hari ini menaiki bus yang telah semenit lalu hilang dari pandangan.
Ayunan langkah mulai kulakukan karena tak ada lagi sesuatu yang membuatku ingin berlama-lama berdiri di bawah matahari yang mulai terik. Langkah demi langkah panjang kuambil untuk membuatku secepat mungkin meninggalkan terminal itu dan disela-sela langkah panjang itu pikiranku menerawang pada beberapa hari sebelumnya, hari dimana dia mengatakan sesuatu yang hasil akhirnya adalah perpisahan. Masih jelas kulihat raut wajahnya ketika mengatakan bahwa dia harus pulang ke daerah asalnya karena studi yang diembannya selama 6 tahun akhirnya selesai. Aku yakin bahwa wajah yang menatapku itu tak ingin perpisahan ini terjadi dan mencoba mencari solusi tapi hasilnya nihil. Segala solusi yang kutawarkan selalu berakhir buntu bahkan solusi untuk tetap menjaga hubungan yang dijalin hampir 6 tahun lamanya. Hubungan yang sudah memenuhi syarat untuk meresmikannya dalam satu ikatan abadi. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang aku belum bisa melakukan hal itu, kemampuanku belum mencapai taraf itu karena impian utamaku belum terwujud, impian tentang tempat yang dengan bangga kusebut dengan ‘RUMAH’. Tempat untuk diriku melepas penat, tempat diriku menyelesaikan separuh lingkaran kehidupan sebelum ajal menjemput.

7 Days

Senin, 08:00 AM, Di Balkon s’buah fakultas yang masih sunyi aku merenung....

Tak ada yang istimewa pagi ini--sepi, dingin, dan agak menakutkan dengan beberapa ruangan gelap dan lembab--, keadaan fakultas pada waktu pagi memang tak pernah berubah dan aku menyukai hal itu untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan. Aku suka mencari inspirasi disana dan itu tak akan terjadi kalau ada seseorang disekitarku mungkin itu yang bisa jadi estimasi sementara. Setelah beberapa jam, segerombol wanita berhandphone datang dengan dandanan norak yang lebih mirip perek daripada mahasiswa menaiki tangga dan mengambil tempat disebelah kanan balkon lantai dua, tempat aku duduk dan mulai berbusa oleh obrolan mode pakaian disertai dengan tertawa cekikikan kayak kuntilanak kemudian disusul oleh beberapa pria yang nggak kalah menornya dengan wanita dengan compact powder yang dikeluarkan kantong mereka, menjijikkan!

Karena tidak tahan akupun muntah, muntah, dan muntah tapi sayangnya tak ada yang bisa dimuntahkan. Mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi karena aku tak ada bagi mereka, lain dunia mungkin.

Aku memutuskan untuk makan dulu di kantin bawah, siapa tahu ada yang bisa dimuntahkan pada akhirnya. Tapi setelah kupikir-pikir, untuk apa aku melakukan hal yang tak menguntungkan seperti itu tapi aku akan tetap makan karena hari ini masih panjang dan aku masih perlu karbohidrat untuk energi berpikir, menulis, serius, berkoar-koar, dan menggambar sesuatu yang terpikirkan olehku. Kantin sudah dipenuhi mahasiswa entah hanya ngobrol atau mengganjal perut kosong yang tak sempat diisi karena kesiangan atau karena makanan di rumah tidak sesuai dengn perut. “Pagi kak...” sapa mereka ramah ketika aku masuk kantin. Aku menjawabnya dengan senyuman tak kalah ramahnya. Kupesan lima potong pisang goreng, itu sudah lebih dari cukup dan ketika pesananku datang, aku sudah benar-benar lapar dan tak sampai lima menit pisang goreng telah pindah dari piring ke perutku. Ketika aku bersiap membayar dengan ekor mataku kutangkap sekelebat bayangan seorang gadis berambut sebahu-gadis yang sudah lama ingin kutemui-diantara rimbunnya pohon Akasia, tak jauh dari jendela tempat kasir berada. “makasih...” kataku tergesa setelah menerima kembalian dari selembar uang sepuluhribuan yang kuserahkan dan bergegas keluar menelusuri tempat kelebatan bayangan gadis itu tadi... aku gagal menemuinya.

xxx

Selasa, 08:00 AM, Kampus adalah satu-satunya tempat ternyaman yang disebut RUMAH....

Tiada hari tanpa kekecewaan, hari ini untuk kesekian kalinya aku kecewa pada keadaan yang menyeretku ke situasi tidak menguntungkan. Setelah menyabet sepotong roti panggang aku dengan tergesa berangkat ke kampus, tak ada alasan bagi diriku untuk betah berada di rumah, kampus adalah satu-satunya ‘rumah’ bagiku. Kupercepat laju motorku ketika ban depannya menyentuh jalan beraspal di ujung gang rumahku. Jalanan makin ramai belakangan ini dan aku mulai merasa lelah melihat kemacetan yang terjadi di pusat kota. “Kenapa jalannya tidak diperlebar sih!” gerutuku dalam hati. Setengah menit kemudian kemacetan itu mulai mencair dan aku sudah bisa berjalan meskipun masih dalam keadaan merayapi aspal yang kian memanas tertempa mentari yang makin meninggi. 07.30 tepat, akhirnya aku berhasil masuk kuliah pada jam pertama tanpa terlambat sedikitpun. Tenangnya....tapi apa aku akan setenang ini menghadapi ujian yang sebentar lagi akan merongrong bukan hanya pikiranku melainkan pikiran mahasiswa aliran Nerd dan Clubbers yang sebagian besar mendominasi kampusku. “Dy, kira-kira dimana Jasmine yah?” tanya Lyan padaku mengenai absennya Jasmine. “I have NO idea...” jawabku pendek lalu kembali tenggelam dalam lembar-lembar komik jepang berjudul Imadoki! Karya Watase Yu, beberapa saat setelah memasukkan sejumlah diktat kedalam tas butut berwarna biru tua. “Mungkin lari sama pacarnya...” terka Yuki sambil menghapus tulisan di Whiteboard untuk kuliah berikutnya. “.....dan tau kan?” sambung Viona dengan tertawa cekikikan. “Hush..tidak baik mengosipkan orang ” potong Serene yang merupakan orang terbijak dalam Gank kami. “OK, aku dan Corrie ke perpustakaan dulu, mengembalikan buku, kalian tunggu di kantin saja...” ujar Viona pada kami bertiga dan kami setuju. kantin sesak akan pelanggan, sampai-sampai pesanan jus jeruk dan pisang goreng harus kami sendiri yang mengambilnya, “Maaf...” apologi ibu pemilik kantin sambil menyerahkan uang kembalian Lyan. “Nggak pa’pa bu...sudah biasa!” kata Yuki menimpali. Sesaat kemudian Viona datang dengan sedikit merengut bersama Corrie yang cengar-cengir. “Sialan, pegawai macam apa itu...masak jam segini perpustakaan belum dibuka....!” keluhnya sedangkan Corrie terus saja cengar-cengir. “Udaaah, makan dulu...nanti aja itu diurus...” hiburku sambil mengakhiri bacaanku karena dari tadi nggak bisa konsen. “Kamu ngapain cengar-cengir dari tadi, kesambet yah?” tanya Lyan ketika Corrie duduk disebelahnya. “ Iya, kesambet setan gondrong...” sergah Qhei yang tiba-tiba muncul sambil mendekap kamus Bahasa Jermannya. “Qhei, sini...duduk sini...” sorak Yuki yang kadang masih keluar sifat Childishnya. Aku tergelak melihat sifatnya itu yang begitu alami tanpa dibuat-buat. Aku secara refleks menghela nafas, tanpa sadar aku menerawang, ini bukanlah pemandangan yang mudah kudapat di rumah, jika itu masih bisa disebut rumah. Huffhhh, kerongkonganku kering mengingat hal ini, kuhentikan mengaduk-aduk jus jeruk dan menyeruputnya. “Dy, mau ikut nggak?” tanya Yui memecah terawangku. “Kemana.....?” tanyaku mencoba konek dengan pembicaraan mereka. “Ke Gramedia, nyari tambahan buku referensi buat presentasi kuliah Pemikiran Barat Modern besok...” jelas Lyan sambil menggerek tubuhku keluar dari kantin. Aku ikut saja, lagipula tak ada sesuatu yang membuatku ingin pulang rumah lebih awal karena inilah rumahku, hidupku, keluargaku... yang selalu memberiku perhatian dan pengakuan yang kubutuhkan untuk melanjutkan langkah-langkahku esok.

xxx

Rabu, 09:00 AM, Di sebuah kelas yang mata kuliahnya membosankan....

Suasana kelas sudah ramai dan hampir semua tempat duduk dibagian depan telah ditempati hanya tersisa bagian belakang saja. Hal ini mengingatkanku pada sesuatu.......

[...................]

“Permisi, apa disebelahmu kosong?” tanyaku pada seorang wanita yang sedang makan sekantong keripik kentang dengan sopan. Tempatnya ternyata kosong dan mempersilahkanku untuk duduk disebelahnya dengan senyuman yang tak kalah ramahnya.

“Hi, Meshanditya Wannabee...” kataku sambil memperkenalkan diri

“Kirra...Kirra Navria” balasnya sambil menyambut tanganku yang terulur. Dan perkenalan singkat itupun berakhir karena kami harus memulai kuliah dengan serius sampai tanda kuliah berakhir diberitahukan. “Kamu tertarik dengan Jepang?” selidik Kirra ketika melihatku membaca buku tentang foklor jepang pada waktu menunggu jam kuliah berikut.

“begitulah, aku suka kebudayaannya” jawabku

[...................]

“Apa mata kuliahku membosankanmu, Wannabee?” tegur Profesor Hanum yang terkenal tegas. menyadarkanku dari kilasan kejadian sewaktu aku pertama kali bertemu dengan Kirra, setahun yang lalu.

. “Tt..tidak Prefesor, aku hanya...” sahutku gelagapan. “....Mengistirahatkan kepala?” sambungnya lagi sambil memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot. “Maaf, lain kali aku akan lebih konsentrasi lagi..” ujarku sambil menunduk. Damn, what happened to me...this is not the time for “remembering the past” thingz!

KrrrrrrrrrrrrrrRRRRRRRRnG!!

“Baiklah, aku ingin paper kalian tentang Pergerakan Amerika di mejaku sebelum jam kuliah minggu depan...selamat siang” tukas Profesor Hanum yang disambut dengan gerutu, sorakan, bahkan tarikan nafas panjang. Hal yang terakhir ini dilakukan olehku sambil membereskan diktat, kamus dan notes yang berserakan disekitarku. “Lagi banyak pikiran yah?” ucap Serene sambil menyodorkan teh kaleng dingin. “Soal...Kirra?” sambungnya lagi. Aku mengangguk pelan, mengiyakan setiap pertanyaan yang mengalir seolah semua pikiranku terbaca jelas, sejelas membaca buku. “Sedikit banyak tentang dia..” regukku menghabiskan sisa teh kaleng dingin pemberiannya memang enak kalau diminum ketika banyak pikiran begini. Sebuah siluet tubuh menyembul dari jendela ruangan, seakan mengecek apakah ada orang didalamnya. Ternyata itu adalah Thania yang ingin mengambil sesuatu yang kelupaan di laci mejanya dan sambil melempar senyuman kearah kami berdua kemudian menghilang di ambang pintu. “Nice isn’t she?” ujar Serene. Aku menanggapinya dengan membenarkan hal itu.“Mmm~hmm..” segahnya dengan senyum penuh arti. “What!?” tanyaku. ”Nothing” jawabnya sambil mengangkat bahu ketika kudesak mengatakan apa arti ucapannya tadi. “OK, siapa yang mau ke MetroMall bersamaku?” seru Lyan diambang pintu kelas yang kemudian dibalas dengan senyum lebar Serene dan tangan terangkatku. Dalam perjalanan turun ke lantai bawah, Qhei, Vonny, dan Cory bergabung dan hiruk-pikuk pun meledak dan berlanjut sampai naik Bus. Dalam perjalanan kulihat wajah-wajah yang mesam-mesem melihat kehebohan mereka. yah, memang begitulah mereka...dan selamanya takkan berubah. Sementara aku kembali menguratkan pensil 2B ke lembar-lembar sketchbook yang perlahan membentuk segerombol garis tegas dan halus. Sebuah gambar sketsa tentang sesuatu...

xxx

Kamis, 12:00 AM, esensi tentang eksistensiku diwakili oleh setiap guratan pensil 2B-ku.....

Guratan demi guratan, kutorehkan kedalam sebuah scketch book yang sedari tadi menampung seliweran ide-ideku yang ingin kuekspresikan kedalam sebuah gambar. “untukku yah??” seru Eliza dari balik punggungku yang tanpa aku sadari kedatangannya, kayak penampakan kuntilanak saja. Aku menggeleng keras sambil mencak-mencak menutupi kekagetanku. “Yaelah, Saddy tega amat sih...” bujuknya. Aku diam tak bergeming sambil terus mengoreskan pencil 2B lebih tebal. Beberapa saat kemudian sebuah sketsa tercipta walaupun kurasa tidak begitu bagus. “Nih..” ujarku sambil menyerahkan lembaran sketsaku padanya yang sedari tadi menunjukkan wajah memelas kayak anak kucing.“kamu ganteng deh kalo lagi mengkerut begitu” ucapnya sambil memasukkan gambarku itu kedalam binder yang memuat semua gambar yang dikumpulkannya. yeah right, ha..ha..ha very funny , hanya itu yang bisa aku katakan sebagai satu-satunya reaksi, walau sejujurnya aku juga butuh complement semacam itu, anggap saja sebagai sense of acceptance dia terhadapku yang masih tetap introvert ini. Well, mungkin sekarang sudah sedikit membuka diri dibandingkan dulu yang terus-terusan menutup diriku terhadap rangsangan luar yang sebagian besar hanya bermaksud untuk melukai fisik maupun mentalku bahkan tak ada yang tahu bahwa aku pernah dirawat di klinik rehabilitasi mental karena mentally breakdown yang kualami setahun lalu. Uffhhh... cukup sudah aku melihat kebelakang, s’buah lembaran yang ingin kulupakan namun tetap melekat erat dalam ingatan. Dengan malas aku menapaki turun setiap undakan demi undakan anak tangga hingga ujung sepatuku menyentuh lantai dibawah tangga yang sedikit becek tergenang air hujan semalam. “Hi Dy..” sapa sebuah suara yang datangnya dari balik punggungku, aku berbalik untuk melihat siapa yang menegurku. Ternyata Anthya, gadis yang selalu tersenyum manis dan memperlihatkan lesung pipit; gadis yang dulu pernah kutaksir. Aku tersenyum dan balik menyapanya, dia mau ke bidang administrasi dan aku menawarkan diri untuk menemaninya karena masih sejam lagi aku kuliah, hitung-hitung cari kesibukan disaat senggang. Wajah

Gadis berlesung pipit ini sedikit meredup ketika dia bertanya tentang bagaimana hubunganku dengan Kirra. “Maaf...aku tidak tahu”. itulah reaksinya ketika aku mengatakan bahwa segalanya sudah berakhir, aku hanya menggeleng. “That’s OK, I’m in one piece now”. Yah, tak ada yang perlu disesalkan dari ini karena diakhiri dengan indah tanpa ada airmata yang tercurah meskipun ada desakan perasaan yang mendesak keluar dari dadaku entah itu lega atau kecewa. Ruang administrasi sudah didepan mata dan aku terpaksa berpisah dengannya. Kurogoh botol air mineral di dalam tasku karena tiba-tiba tenggorokanku terasa sangat kering sekalian untuk menetralisir keadaan perut yang seketika merasa tidak enak diakibatkan melewatkan sarapan tadi dan untuk sekarang ini aku butuh permen karet untuk dikunyah dari kantung celana jinsku. Lumayan, terasa ringan sekarang. Trrrrt..trrrt, getar HPku yang kuletakkan di saku belakang menggelitik minta perhatian. SMS dari Yuki, dia ingin pinjam buku Psikologi Sosial-ku yang pernah kutunjukkan untuk bahan proposalnya. Hufhh, proposal...sesuatu yang sering kutampik keluar dalam pikiranku setahun lalu, sebulan lalu, sehari lalu, sekarang karena tak kunjung selesainya mata kuliah yang kuambil karena faktor internal yang cukup irasional-Well, setidaknya untukku-. HP-ku kembali bergetar, panggilan masuk dengan nama Yuki tertulis disana.

~Dy, kok sms-nya nggak dibalas? Gimana sih loe!~ semburnya.

“soriii, gitu aja kok marah...lagi dimana? Kebetulan bukunya kubawa jadi datang aja ke bagian administrasi” ucapku sambil mengeluarkan buku psikologi itu dari tas. Umph... rupanya dia lagi uring-uringan karena landasan teorinya belum lengkap dan semenit lagi dia akan kemari.

“Masih disini Dy? Kebetulan, temenin aku yah?” pintanya karena pegawai bidang administrasi yang berurusan dengannya belum ada. Kusanggupi karena tak ada yang paling kuharapkan dari ini...duduk bersamanya yang selalu kuanggap sebagai adik angkatku walaupun kami seumuran. Yuki datang beberapa saat kemudian dengan suara rengekan, ciri khasnya yang belum hilang-hilang sampai sekarang. Menyapa Anthya sebentar kemudian menuntut janjiku padanya di telpon tadi. “Iya..iya, ini bukunya kalo mau teori tingkah laku yang cocok ada di halaman yang kutandai..” jelasku panjang lebar. “Makacih, Diddy baik deh!!” gemasnya sambil mengacak rambutku. “Iyaa..kembali” seruku sambil menyisir rambutku dengan jari. Hujan turun sesaat kemudian, membasahi tanah, rumput dan menggenangi sejumlah sampah yang teronggok di dasar lubang tempat pembuangan.

xxx

Jumat, 03:00 PM, hujan tak kunjung berhenti seakan ingin menawarkan segala perasaan minor dalam diriku.....

Derai hujan riuh rendah memainkan simponi tanpa tema, jarum-jarum semunya manghantam, menghujam pucuk dedauan yang masih hijau untuk tunduk. Beberapa ranting daun melambai tak tentu arah, susah payah menghindari desakan H2O + garam yang terkucur dari rangkaian atap gedung. Aku duduk seenaknya pada sebuah kursi di ruangan Teater yang sepi pada jam-jam begini. Sedang apa aku disini? menyepi...yup, dari kehiruk-pikukan manusia yang lalu-lalang melintas entah di depan mata atau dalam pikiran. Dengan ditemani sebuah notebook aku menghabiskan waktuku dengan menulis sesuatu yang masih kurang bisa disebut dan dikategorikan sebagai cerpen. Waktupun berlalu dengan pasti dan rahasia, sekarang aku harus kembali ke realita dunia dan hidup sebagai salah satu anak manusia yang dilahirkan untuk melakukan suatu perubahan dalam hidupnya. Hujan sudah mulai pergi setelah puas menyapa bumi dan menundukkan beberapa gerombolan semak hijau hingga lunglai. Kujejakkan kakiku ke aspal yang sudah diubah oleh cuaca menjadi tak rata dan membentuk lengkungan-lengkungan kecil yang kini menampung air hujan yang membecekkan sepatuku. Tak ada yang lebih membantuku menaikkan mood selain jalan kaki sambil menghirup aroma alam sehabis hujan

xxx

Sabtu, 4:00 PM, mataku tak kunjung terpejam...

SIAL! Lagi-lagi aku terlibat adu mulut dengan orangtuaku... tapi, aku tak sengaja karena merasa dipojokkan oleh persepsi minus tentang diriku yang tak pernah dianggap cukup jadi makhluk sosial karena tak sebetikpun pikiranku untuk menjadi bagian dari komunitas. Hfhhhhhhh.....sampai kapan aku begini yah? Tak adakah jalan yang bisa membuatku keluar dari komunitas dogmatis ini? pernah kupikirkan sejumlah cara, namun pikiranku menjadi suatu hal yang nonsens karena diriku lebih dominan untuk berpikir sambil berimajinasi daripada berpikir dengan serius tanpa imajinasi. Damn it!

xxx

Minggu, 5:00 PM, disebuah Pasar swalayan dengan pikiran yang menerawang....

Tatapan kosong menutup hari ini, entah apa arti tatapan itu. Aku tidak tahu menahu tentang itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana aku bisa mengatasi kebosanan ini...yah, bisa saja aku teriak-teriak kayak orang gila! Tapi itu hanya menguras tenagaku saja dan aku tak mau hal yang nonsens bisa mencairkan bete. Pertama kali aku melihat padangan kosong itu disebuah pasar swalayan yang penuh sesak akan orang. Waktu itu aku lagi bingung mau beli apa. Mungkin beli sesuatu yang nggak ngebete-in. Buku misalnya, tapi mana ada buku di pasar swalayan? Adanya di toko buku! Ini yang bikin bete karena nggak ada perkataanku yang nonsens. Kembali ke pandangan kosong tadi. Itu berasal dari seorang gadis berambut cepak yang memakai sweater biru yang nggak begitu menarik dibicarakan dengan celana jeans yang lagi-lagi nggak mood untuk dibicarakan. Dia sedang mengambil sebungkus snack dari rak jual sedangkan aku..lagi mikir apa aku beli minuman ringan saja yah? Bisa ya bisa tidak..Aku hanya bisa diam dan terus memperhatikan pandangan kosong gadis itu untuk melihat apa yang dipikirkan gadis itu sehingga pandangannya kosong karena orang bilang mata adalah jendela jiwa. apakah jiwanya sekosong pandangannya? Tidak juga, dibalik jendela jiwanya kutemukan seditik cahaya pengharap yang redup hampir mati. ‘ada apa dengan kamu.. ada apa dengan pandangan itu?’ Dia bisu, cuek, dan terus mencari barang belanjaan sedang aku termangu. dia tak dengar karena aku hanya berbisik pada angin. Akhirnya kuputuskan beli minuman soda dan butter cookies kesukaanku kemudian beranjak ke kasir untuk membayar. Antriannya sarat akan kereta-kereta belanjaan yang sarat akan barang. Ada yang sampai dua kereta saking banyaknya, Seorang gadis manis yang memakai kaos tanpa lengan yang antri di depanku menoleh karena tanpa sengaja soda dinginku menyentuh lengannya. “maaf~~” pintaku sekenanya. Diapun mengulas senyum tulus, akupun ikutan tersenyum. Bugh! Sebuah tumbukan pelan berasal dari belakang membuyarkan senyumku, “maaf..”, sebuah suara, begitu bening, memaksaku membalikkan badan. Ternyata dia yang tadinya begitu jauh kini berada di belakangku. Akhirnya kedua barang itu sampai di kasir, aku membayarnya dan bergegas keluar dari swalayan, mencegat mikrolet, lalu hari itupun berlalu...

_END_

Rabu, 02 Maret 2011

Suami 4 Istri

Mareza tak pernah memikirkan apapun tentang poligami, dalam pemikirannya hal itu boleh saja terjadi pada orang lain tapi (mudah-mudahan) tidak pada dirinya. bukan karena dia menentang poligami ataupun mendukungnya tetapi berdasarkan pemikirannya yang sederhana (baca: logis) bahwa memiliki satu istri saja pasti susahnya bukan main karena gajinya di sebuah perusahaan penyiaran hanya cukup untuk bayar kontrakan sebulan dan belanja keperluan sehari-hari untuk satu orang saja.

Tak banyak yang diharapkan Reza dalam hidupnya, hanya sahabat dan tempat dari hasil jerih payahnya sendiri yang dengan bangga dia sebut dengan rumah sedang lainnya merupakan kebutuhan sekunder yang mewah untuknya. Harapannya tentang tempat untuk dirinya tinggal permanen masih harus menunggu dua atau tiga tahun lagi dan dia tak akan pernah berpikir untuk memaksakan dirinya untuk segera mewujudkannya. Sedang dalam hal sahabat hanya beberapa yang bisa akrab dengannya dikarenakan Reza bukan tipe yang supel dan tak mudah baginya mendapatkan teman, hanya Aruni yang biasa dipanggil dengan Uni, kenalannya ketika masih kuliah dulu jadi satu-satunya teman wanita berjilbab yang akrab dengannya hingga sekarang. Sikap Uni yang supel membuat orang yang dibantunya sering salah mengartikan perhatian yang diberikan dan semuanya berakhir dengan penolakan halus dengan alasan yang bisa diterima tanpa ada sedikitpun buat mereka merasa tersinggung. Kedekatan Reza dengan Uni di lain pihak sering membuat orang yang pernah ditolak Uni menjadi ‘musuh tak terlihat’ baginya, awalnya Reza tak pernah ambil pusing akan hal ini tapi lama kelamaan dia gerah juga..

“Za, mau nanya nih.. ” ucap Uni sambil menyeruput jus Guava untuk membantu menelan nasi goreng yang dikunyahnya dengan sempurna ketika sedang makan bersama Reza di Café resto sebuah Mall terkenal di kota Manado. Reza hanya mengangguk tanpa menjawab sambil mengaduk jus alpukat lalu menyeruputnya. “kamu nyadar gak kalo orang laen nganggap kamu itu gap antara mereka dengan aku?” ucap Uni sambil melanjutkan makannya. Kembali lagi Reza menangguk untuk kedua kalinya “Iah, truz?” tanya balik Reza. “Kayaknya ketambahan satu lagi deh” ucap Uni memelas. Kunyahan nasi goreng Reza berhenti dan melongo kearah Uni “Afha kamfu bhilang?” sergah Reza yang meloloskan beberapa butir nasi goreng dari mulutnya. “Eek..jorok nih anak” ujar Uni sambil menyodorkan tissue ke Reza. “Kamu sih..” ucap Reza sambil melap mulutnya dengan tissue. Uni tergelak sesaat kemudian berubah serius. “Maaf yah Za..” kemiknya kemudian dengan ekspresi yang meredup. “Hey kenapa jadi serius gitu muka kamu?” tanya Reza. “soalnya udah buat kamu jadi ‘tameng’ aku..” ucap Uni membuat tanda kutip dengan kedua jarinya ketika menyebut kata tameng. “Weell, yang jelas gw gak keberatan jadi ‘tameng’ kamu jika kau memintanya” hibur Reza, “..dan bukan cuma aku orang lain juga gak bakalan keberatan Ni, Kamu menarik, supel, lulusan terbaik fakultas kita, posisi bagus sebagai Pengajar kepala di sebuah institusi pendidikan swasta ternama..” tambahnya lagi. Uni hanya tersenyum simpul mendengar perkataan sahabatnya yang selalu ada untuknya. “Tapi..” sergah Uni. “Tapi kamu belum siap melupakan ‘Dia’ kan?” potong Reza. Uni hanya mengangguk pelan tanpa berkata apa-apa. sesaat kemudian keduanya larut dalam suasana Café resto yang kian ramai dikunjungi pelanggan. “Oiya, Za..hari minggu nanti kamu gak ada acara kan?” tanya Uni tiba-tiba karena teringat sesuatu. “Gak, kenapa? Minta ditemenin kemana lagi non?” jawab Reza yang sudah menduga akhir dari pertanyaan ini. “Reuni SMU-ku, bisa kan? Bisa ya??” pinta Uni. “Makanya cepetan cari suami bisa nemenin kemana-mana..” kata Reza tak memperdulikan muka Uni yang ditekuk. “Jodoh itu pasti akan datang dengan sendirinya..” elak Uni. “ya..ya baiklah, kau menang soal ini..lagipula kalo gak datang-datang juga kan masih ada aku..” canda Reza yang membuat muka Uni makin ditekuknya.

Reuni SMA Uni diadakan disebuah gedung Aula yang memang biasa dipakai untuk acara semacam ini, aksesnya yang mudah dilalui dari berbagai arah membuat gedung ini banyak disewa orang. Sebuah mobil minivan berwarna Hijau metalik baru saja memasuki parkir bawah tanah dan dari mobil keluarlah Uni dengan busana muslim berwarna hijau lembut dan Reza yang memakai kemeja lengan panjang berwarna biru laut. “Ni, tar kalo ketemu teman kamu gw mesti gimana?” tanya Reza agak cemas soalnya dia paling malas (baca: anti) hadir acara yang orang yang dikenalnya cuman satu orang saja. “Ya, ngenalin diri lah..” jawabnya santai. “Kau kan tahu tak bisa semudah itu Ni..” desak Reza sambil meletakkan kedua tangannya di saku depan celana kain hitam yang dipakainya. “Iah2, tar aku kenalin sama seseorang deh supaya kamu gak merasa asing..” bisik Uni sebelum menyerahkan undangan reuni sebagai tanda masuk ke gedung.

Lantunan lembut musik klasik menyambut keduanya ketika memasuki lobby, mereka kemudian bergerak kesayap kiri gedung yang menjadi tempat acara tersebut digelar. Uni kembali menunjukkan undangannya sekali lagi pada orang yang menjaga pintu agar bisa masuk kedalamnya. “Kayak mau ketemu presiden aja yah? Pengamanannya berlapis” bisik Reza yang segera disambut dengan tepukan ringan di kepala Reza “Ngaco..” hardiknya.

Suasana ruangan begitu meriah dengan derai tawa, alunan musik yang familiar, wajah-wajah yang bersahabat dan semua itu menciptakan kekikukan luarbiasa bagi Reza. “Uniii” sebuah suara menyeruak dari segerombol orang dan memeluk erat Uni tanpa mampu dia hindari. “Ja.jangan terlalu erat meluknya” sengal Uni kehabisan nafas. “Owh, hehehe sori Ni..soalnya kangen” ujar seorang wanita mungil yang terlihat modis dibalik jilbabnya. “Kangen sih kangen tapi kalo kayak gitu aku bisa mati tau..” sergah Uni. “Eh, ini siapa Ni? suami kamu yah?” cerocosnya lagi. “Bukan, ini temanku..Reza” jelas Uni. “Hhi..” ucap Reza dengan agak canggung menyodorkan katupan tangannya kearah wanita tersebut. “Shifa” balasnya. “Owh, ini toh Reza..” ucapnya lagi. Reza terdiam sesaat kemudian menatap Uni seakan berkata ‘kau cerita apa padanya?’ sedangkan orang yang ditatapnya hanya menangkap bahu. “Ayo, gabung dengan lainnya..dengan adanya kamu gank kita udah lengkap..” ucap Shifa sambil menggamit lengan Uni. “Iah2, sabar non..ayo Za” ajak Uni tanpa minta persetujuan Shifa. Tapi nampaknya dia tak keberatan. Uni kemudian dibawa menuju ke sebuah meja dekat jendela dimana kedua teman wanita mereka sudah menunggu bersama Reza yang dengan langkah kikuknya mengikuti Uni dari belakang.

Suasana reuni masih saja meriah, banyak kenalan Uni yang silih berganti datang ke mejanya entah ngobrol sebentar atau sekedar cipika-cipiki. Berbeda dengan Reza yang mulai merasa tak nyaman terus menyembunyikannya karena tidak ingin mengecewakan Uni. “Kenal dimana sama Uni?” tanya Zahra, cewek yang duduk di sebelah kanan Reza. “Teman satu kuliah..” jawab Reza singkat sambil mengulas senyum.

Acara reunian resmi berakhir, kini Reza sedang berjalan dibelakang empat orang wanita yang sedari tadi tak bisa dipisahkan kayak bayi kembar empat dempet. “Za, kita antar mereka dulu yah?” tanya Uni yang masih rindu teman-temannya menawarkan untuk mengantar mereka dan menanyakan kesediaanku. “Ni, ini kan mobil kamu..terserah kamu lah..aku kan hanya supir” ucapku sekenanya. “Kok kamu ngomong gitu sih? Gak ikhlas yak ngantar mereka?” sungut Uni. Reza hanya tertawa melihat raut muka Uni. “IKHlass, tadi becanda Nii..lagipula ini udah malam gak baik kan wanita pulang sendirian..” jawab Reza sambil bergegas ke parkiran bawah tanah untuk mengeluarkan mobil. Sesaat kemudian Minivan yang tadinya sunyi dan hanya ditemani oleh lagu-lagu jepang, kini hiruk pikuk dengan canda tawa mereka berempat.

Hari ini sudah seminggu dari perkenalan Reza dengan Genknya Uni dan sejak perkenalan itu mereka sering jalan, hunting foto, nonton bareng dan masih banyak lagi. Seperti pada hari ini Reza diajak mereka buat karaokean bareng dan dia kini sudah setengah jalan menuju ke sana..

Pipip piip..bunyi berdengung tanda SMS masuk membuyarkan lamunan Reza yang kian membengkak. Ternyata SMS dari Uni

[Kami udah di tempat karokean nih, kamu dimana?]

[OTW..dikit lagi nyampe] ketik Reza dengan cepat kemudian menekan tombol send.

Bunyi pesan balasan terdengar kemudian bersamaan dengan bel Angkot dia tekan agar berhenti.

[Ok, cepetan yah] bunyi pesan itu

“Iiiya..” rengutnya pelan sambil menyerahkan selembar lima ribuan ke sopir angkot. Setelah menerima kembalian uang, Reza yang pada hari itu memakai hoodie* abu-abu untuk menyamarkan balutan seragam kerja bergegas masuk ke Mall yang di salah satu slot-nya terdapat salah satu tempat karaoke yang cukup dikenal di kota ini, tempat Karaokean mereka. Waktu menaiki Elevator naik terdengar suara seseorang memanggilnya dari arah bawah, setelah sempat celingukan sebentar akhirnya dia temukan siapa yang memanggil yaitu Zahra yang baru saja datang. Sesampainya diatas, ditungguinya Zahra agar bisa sama-sama karena lebih enak jalan bareng dibanding sendirian. “Baru datang Ra?” ucap Reza sambil mengulas senyum. Zahra hanya menangguk kemudian bertanya ‘mana yang lain?’ padanya, pertanyaan yang segera disambut oleh Reza dengan bahu terangkat. “Aku telpon dulu deh kalo gitu..” ujarnya mengambil inisiatif. “Dimana?” sergah Reza begitu telponnya tersambung. [Udah di dalam..] jawab Uni dari seberang telpon. “Yawdah kalo begitu kami kesana..” sergahnya sambil mengisyaratkan ke Zahra untuk masuk kedalam dengan jari telunjuk. [Ok..] balas Uni diiringi bunyi Piip tanda telpon berakhir. Begitu pintu depan dibuka Reza langsung menuju ke ruang tunggu yang berada sebelah Counter, tempat mereka kini berada. “Weiits, masih pake seragam..cinta amat sama kerjaan” seru Uni begitu Reza duduk di sofa ruang tunggu. “Iya gak sempat ganti..soalnya udah diteror SMS untuk cepetan datang” balasnya sambil meletakkan tas samping ke pangkuan dan mengatupkan kedua tangan diatasnya. “Eniwei, jam berapa kita masuk?” tanya Zahra yang dari tadi sibuk dengan HP-nya. “5 menit lagi..” jawab Uni sambil melihat jam tangannya. Moment of silence..hal ini selalu terjadi tanpa disengaja, saat dimana Reza tak bicara sedikitpun dan hanya mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Hal yang pertama dia perhatikan ialah bagian Counter yang berada tepat didepannya, tepat dibelakang Uni karena dia duduk diseberang meja menghadap ke arah Reza lalu Uni yang sedang bercakap dengan Shifa tentang lowongan kerja yang dimintai tolong untuk dicarikan kemudian Farrah yang juga ikut mengomentari percakapan mereka berdua dan akhirnya ke Zahra yang kembali sibuk dengan HP-nya. Pandangan Reza lama terhenti padanya dan sebelum dia sadar bahwa ada yang memperhatikannya, pandangan Reza sudah kembali pada tangkupan kedua tangannya dan menarik nafas panjang ringan. “Yuk masuk..” ajak Uni mengakhiri Moment of silence-nya.

*) hoodie: jaket berbahan kain dengan tudung kepala, slot: istilah tempat yang disewakan usaha

Karaokean gila..dan makin hari makin gila, itulah yang selalu terjadi ketika kami karaokean. Tapi satu yang tak pernah bisa berubah, Zahra yang hanya diam saja dan sibuk dengan HP-nya dan jadi juru foto pengabadi momen gokil kami. Kali ini juga sama, Karaokean gila VS Zahra yang sibuk dengan HP dan jadi Juru Foto. Penasaran akan hal ini Reza beranikan diri untuk bertanya, tepatnya berbisik karena kegaduhan luarbiasa yang tercipta di ruangan. “Gak nyanyi Ra?” bisik Reza pada Zahra yang berada di kanannya sambil menyodorkan Mic. Dia hanya menggeleng dan menjawab ‘Gak bisa nyanyi’ dengan senyum terulas. ‘Gak seru nih..’ pikirnya kemudian menyerahkan Mic ke Shifa dengan alasan suara sudah mulai habis dan hanya menonton saja sambil melipat tangan. Beberapa saat kemudian giliran Zahra yang bertanya hal yang sama dan Reza menjawabnya dengan mengusap leher sambil tersenyum.

“Ni..Zahra emang gitu yah” tanya Reza tiba-tiba dari balik setir pada Uni saat mereka tinggal berdua saja di mobil dari mengantar anak-anak lain. “Maksudnya ‘gitu’ gimana?” tanya Uni yang tadi sibuk dengan bacaannya. “Yaa, begitu..gak banci foto, gak suka nyanyi, suka sibuk sendiri dengan HP-nya..” jelas Reza panjang kali tinggi. Uni tergelak mendengar hal itu kemudian menjawab “Iah..memangnya kenapa? Naksir?”. “Gak, cuman penasaran aja..unik soalnya” elak Reza sambil menurunkan persneling mobil karena memasuki jalan menanjak menuju rumah Uni.

Pagi hari bagi Reza terlalu cepat datang, rasanya baru sebentar saja Dia menutup mata setelah puas menguap didepan gameboy SP kesayangannya. Yaph, Dia suka maen Game dan kadang begadang sampai lupa waktu kalau keasyikan maen. Malas bangunnya tapi harus bangun karena sebentar lagi harus pergi kerja dan dia belum sarapan pagi, tepatnya belum buat. Setelah berjuang keras bangkit dari tempat tidur dan tersaruk-saruk ke kamar mandi untuk cuci muka sekedar mengumpulkan potongan terakhir kesadarannya beberapa saat kemudian disinilah dia..didepan TV sedang menghirup bau kopi dan menyeruputnya sembari menunggu mie instan masak di heating cup elektrik. Setengah jam kemudian segala hal yang berkaitan dengan sarapan pagi dan bersih kamar selesai dilakukan, tinggal mandi terus pergi kerja.

Mentari sudah mulai terik, Reza dengan seragam kerja baru saja turun dari angkot, membayarnya dan menunggu lalu-lalang kendaraan dengan kecepatan tinggi merenggang kepadatannya. Suasana ruangan kerjanya tak pernah berubah sedikitpun dari pertama kali masuk kerja. Hiruk-pikuk dengan orang-orang yang entah mengantarkan form* atau hanya sekedar nongkrong dan numpang merokok. Reza tidak begitu suka dengan asap rokok, tapi sebagai newbie* tak sepantasnya dia menegur mereka yang sudah senior di kantor itu jadi dia memutuskan untuk mengacuhkan dan begitu duduk dia langsung menghidupkan komputer dan menjalankan aplikasi yang dia pakai untuk memberikan teks pada program-program yang dibebankan dan sudah diterjemahkan olehnya melalui bantuan headphone, sebagai satu-satunya akses audio dari komputer ke gendang telinga. Suara percakapan bahasa inggris mulai memenuhi otaknya, meminta untuk diterjemahkan dan sesaat kemudian sederet huruf yang membentuk kata, kalimat, lalu frase muncul di layar melalui ketikan 8 jari..

*) newbie: anak baru, form: lembaran orderan

Waktu serasa berjalan sesuka hatinya, kadang secepat mobil sport namun kadang selambat siput. Sudah setengah jam Reza berkutat didepan komputer, menerjemahkan program yang akan tayang besok ditengah hingar-bingar musik boom-boom*, orang merokok, dan suara TV. Hasilnya? Baru setengah jalan dan masih banyak lagi program yang menunggu, menunggu untuk diterjemahkan dan menunggu untuk direkam. “Hhhh..lama-kelamaan jadi gak fokus nih” desisnya sambil menghentikan sementara ketikan dan memutuskan untuk istirahat di kantin, siapa tahu ketidakfokusannya akan terobati disana. Kantin juga penuh dengan cerita dan tawa-ria, setelah memesan teh botol dan beberapa bungkus roti untuk mengganjal perut yang belum begitu lapar akan nasi. Kantin yang hari itu sesak dipenuhi karyawan menyisakan satu tempat duduk yang kosong, yaitu di pojokan yang kini telah dia tempati. Topik di kantin sangat beragam, dari yang happening seperti keadaan penjualan cengkeh, harga jual 2nd Hand Blackberry sampai ke topik ringan seperti pengalaman hidup, kelucuan program variety show yang sekarang lagi booming ditayangkan oleh salah satu stasiun TV di pulau Jawa sana, dan hanya sekedar haha-hihi saja. Semua itu tak selamanya membuat Reza yang terpaksa mendengar menyukainya, kadang dia merasa jengah pada mereka yang bagi dirinya hanya komentator dadakan, hakim dadakan, ahli analisis pasar dadakan, dan Gossiper* sejati. Makanya selesai menghabiskan pesanannya dia langsung membayar dan meninggalkan kantin. Ketika kembali ke ruangan suasananya sudah lebih tenang, tak ada lagi dentuman musik dan tak ada lagi orang yang merokok, hal yang sebenarnya dia perlukan untuk menyelesaikan tugasnya. Tak membuang-buang waktu lagi, diraihnya headphone yang tergeletak diatas meja kerja, menggerakkan mouse optik yang berkerlip cepat untuk memulihkan komputer dari kondisi stand-by-nya dan mulai mengetik dengan cepat.

*) boom-boom: istilah musik yang menghentak-hentak dan bising;

biasanya dipakai angkot di daerah lokal untuk menarik penumpang, Gossiper: tukang gosip

Jam 5 tepat..itulah yang terpampang di display mesin absensi ketika Reza meletakkan jempol kanannya kedalam mesin absensi untuk Check Out dari kantor. “Mau kemana yak?” gumamnya ketika melintasi pelataran parkir kantor. Belakangan ini Uni semakin sibuk saja dan tak ada waktu buat sekedar ngumpul bareng seperti dulu, bahkan sekedar makan bersama dengannya seperti dulu sering dilakukan berdua saja sudah jarang. “Kuharap dia baik-baik saja..man, I miss that time..” gumamnya sambil menatapi langkah demi langkah sepatunya menaiki jalanan beraspal menanjak kantor. Tiba-tiba.. Pipip piip..bunyi berdengung tanda SMS masuk membuat langkahnya sesaat terhenti. Ternyata SMS dari Zahra..

[Guys, jalan yuk? Suntuk nih di kosan..]

[Wah, kebetulan nih..ketemuan dimana?] ketiknya cepat lalu menekan tombol send

[Ketemuan di Foodcourt I-Tec Center aja..]

[Ok, OTW..15 menit lagi nyampe..] balasnya lagi sambil bergegas ke jalan raya, nyegat angkot agar bisa sampai ketempat itu dalam waktu yang dijanjikan tadi, semoga...

Reza sampai di I-Tec Center lebih dari 15 menit yang dijanjikan dan sedikit gusar dengan hal itu walaupun bukan sepenuhnya salah angkotnya tapi ketidakmampuan pemerintah kota untuk mengontrol angkot yang beranak-pinak dengan jumlah yang tidak sedikit hingga berefek pada kemacetan pusat kota. Begitu masuk gedung Reza langsung memakai Elevator karena menurutnya Lift akan memakan lebih banyak waktu sedang untuk menjangkau Foodcourt yang berada di lantai 5 via Elevator dibutuhkan paling tidak hanya beberapa menit. Reza kemudian meraih HP-nya dari saku depan celana jeans dan mem-fast dial nomornya Zahra..“Dimana?” tanya Reza begitu HP diangkat.

[Di dekat jendela..kawasan bebas rokok] jawab Zahra di seberang telpon.

“OK, dikit lagi nyampe..” sengal Reza dengan nada tergesa.

[OK..] ucapnya lagi.

Hubungan telponpun terputus begitu Reza menginjak lantai teratas, tempat foodcourt berada kemudian matanya dengan cepat menyapu deretan sofa yang menempel ke jendela kaca untuk menemukan salah satu saja sosok dari gank mereka. Setelah beberapa saat celingak-celinguk, dilihatnya sosok Zahra yang sedang membaca bersama seorang temannya yang belum Reza kenal dan dia sedang makan. “Mana yang lain?” tanya Reza sambil duduk diseberang mereka berdua. “Uni dan yang lain gak bisa datang..” jawab Zahra. Reza hanya mengangguk dan menjawab ‘oo, begitu’ dengan suara pelan. “Eh iya, ini kenalkan..teman Uni juga” ucap Zahra baru sadar kalau Reza belum mengenal temannya. Namanya Fitri, cewek yang lumayan menarik perhatian khalayak karena tinggi badannya proporsional dan sense of style yang bagus. “Jadi kita mau kemana?” tanya Reza mencoba memulai percakapan dengan pandangan tertuju ke keduanya. “Umm..kemana yah? Gak ada rencana apa-apa cuman pengen jalan aja..” ujar Zahra. “kalau gak ada rencana, bagaimana kalo temani aku liat-liat baju di lantai bawah..” usul Fitri yang sudah selesai makan. “Aku sih gak apa-apa tapi..” ucap Zahra menggantung kalimatnya dan menatap Reza. “Ah..gak pa’pa, lagipula itukan juga namanya jalan-jalan” sergah orang yang ditatapnya sambil menyungingkan senyum. “Kalo begitu, ayo..” ucap Fitri bangkit dari tempat duduknya, diikuti Zahra dan Reza. Dalam perjalanan menuju ke Lift Zahra memperlambat langkahnya hingga bersisian dengan Reza. “Emangnya gak apa-apa?” tanyanya. Reza lalu mengangguk dan bilang ‘aku sudah biasa kok jalan kayak gini, tenang aja’ sambil meletakkan tangannya diatas kepala Zahra dan dia hanya tersenyum simpul dengan perlakuan Reza ini lalu mempercepat langkahnya untuk bersisian dengan Fitri. Hhhh..tanpa sadar Reza menghela nafas panjang. “Zahra terlihat makin manis saja yah?” kemiknya kemudian.

Window shopping berlangsung setengah jam lamanya dan Reza tak henti-hentinya tersenyum melihat kedua orang cewek di depannya memilah-milih pakaian sambil bercanda. Setelah puas sejam muter-muter liat baju mereka berdua memutuskan untuk cari makan dan Reza mengusulkan untuk makan ayam lalapan di warung makan favoritnya dan mereka langsung menyetujui ketika dia menjelaskan lebih lanjut kalau tempat itu tak jauh dari I-Tec Center. Hal ini karena dia yakin betul bahwa keduanya pasti sudah cukup lelah berputar-putar tadi jadi tak mungkin sanggup lagi jalan jauh. Warung yang dimaksud sudah ramai dipadati orang, maklumlah selaih harganya terjangkau, ayam dan sambalnya terkenal enak..

Potongan terakhir ayam lalapan sudah setengah jalan dikunyah Reza bersama dengan nasi putih yang jadi pelengkap makanan sedangkan mie bakso tenes yang dipesan Zahra dan Fitri masih setengah jalan dinikmati. “Cepat amat makannya, lapar banget yah?” sergah Zahra sambil menambahkan kecap ke mie-nya. “Kayaknya..” jawab Reza sekenanya. Well, Reza selalu ringkas kalau soal makan bukan tidak menikmati tapi sudah kebiasaan. Beberapa saat kemudian ketiganya selesai membayar dan memutuskan untuk pulang karena sudah mulai larut, setelah mengucapkan salam perpisahan satu persatu dari kami naik angkot jurusan masing-masing dan begitulah jalan-jalan malam ini berakhir.

Hiruk pikuk malam selalu menarik perhatian Reza, cahaya dari penerangan jalan yang menerangi seadaanya bagian sisi jalan seperti sebuah cahaya dari langit, memberkati orang-orang yang melintas dibawah sinarnya. Hfffhh..dia menghela nafas panjang lalu menyenderkan kepalanya ke kaca jendela angkot yang pada malam itu dia naiki. “bagaimana aku harus bilang perasaanku padanya yak?” gumamnya pelan dan mulai berpikir dalam mencari solusi akan masalah ini..begitu dalam hingga tak memperdulikan penumpang yang naik dan suara audio angkot yang mulai menghentakkan musik Boom-boom. Tak ada solusi..kali ini tak ada solusi yang tercetus ataupun sekedar terpikirkan yang ada hanyalah sesuatu yang tak disukainya yaitu ketidakmampuan untuk mengekspresikan perasaan melalui kata-kata, hal yang membuatnya tak cukup berguna sebagai seorang manusia. Kontemplasi berakhir ketika Reza harus menekan bel untuk menghentikan angkot didepan gang tempat kontrakannya. Usai menerima kembalian dari pembayaran, Reza menyeret kedua kakinya menuju pintu pagar depan. Kriekkk..bunyi khas yang terdengar ketika pagar depan dibuka sedikit membuatnya merasa sedikit terhibur karena entah sudah berapa kali dia menjanjikan untuk melumasinya tapi tak kunjung dilakukan, alasannya sederhana saja..dia suka bunyinya, bunyi yang menandai kalau ada yang masuk dan membedakan siapa yang masuk. ‘Wa alaikum salam’ sebuah jawaban berbarengan dari salam yang diucapkan Reza sambil menutup pintu samping yang satu-satunya akses ke ruang tengah dan kamarnya. Ada orang yang belum Reza kenal sedang menonton TV di ruang tengah bersama Haikal-­ Adik sepupu Reza yang masih SMA-, salah satu orang yang menjawab salamnya tadi. “Kak, ini Saputra..dia mau nginap disini semalam, biasa ngerjain tugas” jelas adik sepupunya itu . “Ah, iya..” balas Reza sambil menyambut tangan saputra yang terulur. “aku ke dalam dulu..dan kamu jangan lupa kunci pintu pagar depan yak!” ucap Reza mengingatkan sepupunya yang selalu saja lupa mengunci pintu pagar depan. “Iiya..” randeknya. Cklekk..Reza menutup kembali pintu kamarnya dan menyalakan lampu ber-watt kecil untuk sekedar menerangi untuk berganti pakaian dan kemudian menghempaskan diri di atas kasur busa. “Caa..pekk” kemiknya kemudian terdiam dan menatapi langit-langit kamar, semenit..dua menit hingga mengabur dan akhirnya gelap gulita.Pagi harinya Reza terbangun agak kesiangan jadi tak sempat makan pagi karena takut terlambat kerja, itu bukan masalah besar karena dia bisa makan di kantin kantor yang menyediakan menu 4 sehat yang 3 M; murah, meriah, muntah. Reza mempercepat langkahnya keluar dari gang dan mencegat angkot karena tinggal setengah jam lagi jam kantornya dimulai. Setengah jam yang harus dibagi dengan naik-turun penumpang, macet, dan jika sewaktu-waktu dihentikan oleh Polisi karena ada pemeriksaan surat-surat kendaraan. Untunglah hari itu tak ada pemeriksaan dan sebagian besar penumpang angkot ialah anak sekolahan yang akan turun di terminal angkot yang lebih jauh dibanding tempat kerjanya.

Sore menjelang, sebentar lagi mentari akan terbenam di ufuk barat tempat dia beristirahat setelah seharian bertugas menyinari hari. Disinilah Reza, di salah satu batuan besar dari sekian banyak tumpukan bebatuan yang berfungsi sebagai pemecah ombak tepi pantai. Menunggu datangnya Zahra yang akan datang sebentar lagi untuk hunting foto dan apakah mungkin ini saatnya menyatakan perasaannya pada Zahra? Reza menghela nafas panjang meragu “Ataukah..belum?” gumamnya sambil memeluk kedua lutut. “Hi, udah lama?” tanya sebuah suara yang dikenalinya milik Zahra. Reza menoleh dan menggeleng “barusan nyampe..” ucap Reza. Dia mengambil tempat tak jauh dari Reza dan mulai mengabadikan suasana sore itu..langit yang memerah, sepenggal matahari yang kian tenggelam, dan arakan awan yang membuat konfigurasi unik dan menyerupai sesuatu. Reza hanya diam dan memperhatikannya, dia sangat menyukai fotografi dan Reza juga menyukainya meskipun hanya sebatas asal jepret sana-sini. Cklik..lensa kamera terarah pada Reza dan menangkap gambaran dirinya yang sedang melamun. “What the..” ujar Reza spontan. “Hihihi..makanya jangan terlalu serius” ucapnya ceria. “He.he.he lucu..udah puas motretnya? Sampai harus motret makhluk kayak gini..” ujar Reza sambil menudingkan telunjuk ke wajahnya. “Iyah, udah..mau lihat?” tawarnya. Reza mengangguk dan mempersilahkan dirinya untuk duduk disampingnya, karena yang dia duduki saat ini merupakan satu-satunya batu yang rata dan cukup besar untuk dijadikan tempat duduk. Tanpa sungkan Zahra duduk disamping Reza dan memperlihatkan hasil jepretannya tadi. “Indah..langit sore memang indah yak?” ucap Reza sambil melihat slideshow gambar sampai berakhir pada gambaran dirinya tadi. “wahh, kalo ini sih jelek..hapus aja” ucapnya sambil menunjukkan wajah tak suka. “Jangan!, lumayan buat nakut-nakutin tikus” ucapnya sambil tergelak. “Nih anak..yaudah terserah” ucap Reza sambil menyerahkan kamera pocket lalu tersenyum. ‘saatnya menyatakan perasaanku padanya?’ pikiran itu kembali terlintas di benak Reza hingga membuatnya senyumnya tiba-tiba memudar. “Ada apa Za? Ada masalah yak?” tanya Zahra sambil mematikan kamera pocket-nya dan menyimpannya kedalam tak samping yang dibawanya. Reza menggeleng sesaat dengan harapan pikiran itu kembali pergi..namun hasilnya nihil. “Oh, masalah pribadi yah..” simpulnya kemudian perhatiannya tertuju pada HP-nya. Eh? Dia salah paham rupanya..baiklah kalo begitu..here goes for nothing. “Ra..” panggil Reza dengan suara tertahan. “Mm?” balasnya tanpa mengalihkan pandangan dari HP-nya. “Ah, mm..mau nggak jadi cewekku?” ucap Reza terbata. Zahra terdiam sesaat dan menatapnya, mungkin mencari tahu apakah dia hanya asal bicara saja. “Sori kalo membuatmu tak nyaman..Cuma mau bilang apa yang kupikirkan, itu saja..” sergah Reza sambil menghela nafas panjang yang tadi serasa penuh di kedua paru-parunya lalu menatapnya. “Gak pa’pa..aku mau kok..” ucapnya sambil tersenyum. “Alhamdulillah, thanks ya Ra..” ucap Reza lega..akhirnya dia bisa mengatakan hal itu padanya dan responnya baik. Well, things wouldn’t go any better than this..

Akhirnya setelah sekian lama gak ketemu, anak-anak akhirnya ngumpul juga dan melakukan hal yang sudah lama tidak kami lakukan yaitu nonton bareng. Kebetulan hari itu ada film bagus yang baru saja premier di bioskop Cine21 berjudul Percy Jackson And The Lightning Thief dan karcis nontonnya sudah kupesan secara Online untuk 5 orang, kini tinggal menunggu jam pemutarannya dimulai. “yakin filmnya benar bagus?” tanya Uni pada Reza yang sedang mengatur posisi duduk di dekat Zahra. “Kalo diliat dari sinopsisnya juga previewnya bagus kok..” ucapnya yakin karena sudah seminggu dia menunggu film ini premier sejak diulas pada program yang kantor bebankan padanya. Keyakinannya terbukti, film itu memang bagus walau menyayangkan durasi yang hanya satu setengah jam. Durasi yang tak biasa bagi film asing yang rata-rata berdurasi dua jam setengah. “Terus kita mau kemana lagi nih?” tanya Reza ketika menapaki undakan tangga turun dari bioskop Cine21 yang langsung dijawab oleh Uni, Shifa dan Farrah dengan serempak..Makan! Reza terkikik kecil mendengar jawaban ini. “Yawdah, cari makan deh kalo gitu..kebetulan aku juga lapar” ucapnya sambil meletakkan kedua tangannya di jaket Hoodie abu-abu kesayangannya. Yaph, bahkan dirinya yang sering ‘puasa’ makan saja sudah kelaparan karena AC yang lumayan dingin di ruangan bioskop tadi.

‘Selamat yak..kapan syukuran?’ itulah respon Farrah dan Shifa ketika Reza mengatakan dengan sedikit berbisik bahwa dia dan Zahra sudah dalam tahap in relationship berbeda dengan respon ‘Curang!’ Uni, Hal itu wajar karena dalam kamus pertemanan informasi semacam itu harusnya sudah diketahui teman paling dekat sejak lama dan dalam hal ini teman dekat itu adalah Uni. “Maaph yah ni, bukan gak mau bilang..cuman waktu itu belum siap aja bilang” jelas Zahra yang kemudian angkat suara. Uni mengangguk mahfum, lagipula sekarang mereka berdua sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi ketika mereka bertiga-Uni, Shifa, Farrah- penasaran dengan tindak-tanduk Reza dan Zahra di bioskop tadi mulai dari memilih tempat berdekatan, memberikan hoodie-nya ke Zahra karena dia merasa kedinginan, sampai jalan beriringan keluar bioskop.

To Be Continued...

Kamis, 24 Februari 2011

Reservoir

NOCTURNO OMNIVORA

(Suatu Malam Di Kota Cahaya)

Kota cahaya, aku menyukai kehidupan malamnya sebesar aku membencinya. Asap bekas pembakaran membumbung naik disela gedung cikal bakal Mall nanti. Alunan musik malam menghentak tiap nadi manusia dan mentransformasikan mereka sebagai para nocturno , sang pelahap malam. Angin tiba-tiba berhenti dan membuat pepohonan enggan melambai atau sekedar berdesau gemerisik, mungkin sudah habis ditelan mereka-para nocturno- yang merupakan omnivora, penyuka segala dan pencoba segala. Ada perasaan kosong yang melayang-layang di udara, aku bisa melihatnya lagi semilir melewati gerombolan mereka yang sedapat mungkin dihindari karena hanya menghadirkan kehampaan, sakit, putus asa. “Lagi memikirkan apa?” sapa seseorang yang menyeruak keluar dari tirai cahaya dibelakangku. “Sesuatu...” kemikku tanpa memperlihatkan keengganan untuk menjawab pertanyaan yang tak perlu ditanya, kemudian kembali menatapi kota cahaya dengan setumpuk pasir masa teronggok di pelupuk mata yang kian lama makin berat, memaksa untuk menutup. Sedapat mungkin kunyalangkan kedua pupilku, aku harus tetap terjaga, tetap menatap mengawas komunitas nocturno, jauh dibawah sana, disetiap sudut sendi gedung yang menghitam menuding langit malam dari ketinggian sampai caya mentari pagi menghangati bumi dengan harapan baru dan semangat baru. Sedangkan diriku akan menghilang bersama kabut dingin yang merendah, tanpa ada yang menyadari, tanpa ada yang perduli. Karena aku hanyalah pengawas, pengamat, pelihat. Tak perlu simpati, perhatian, atau eksistensi yang justru menjadi penghalang, beban. Aku bisa datang bersama angin berhembus, gemerisik air beriak, atau arakan awan. Bebas dan lepas tanpa kungkungan, tanpa usia dan status manusiawi lainnya yang membekap. Aku hanyalah peri yang tak memiliki sinar gemerlap terlingkup, adalah bayangan setiap benda yang bersinar.

HOMINIS FRACTURA

(Episode Jiwa Yang Rapuh)

Malam makin larut, kota cahaya makin mengiluminasi dan mendominasi memecah kepekatan malam, menyikut pergi gemintang yang lesu berkelip. Disini, diatas gedung apartemen bertingkat sepuluh, kuputuskan untuk mengakhiri hidupku dengan cara meloncat dari gedung. Kuedarkan pandanganku untuk terakhir kalinya, bulan pucat menggantung malas di angkasa yang makin pekat tanpa bintang-bintang menemani. Di bawah sana hiruk-pikuk kendaraan malam sibuk membelah kabut yang kian menebal tiap tarikan nafas, malam yang indah untuk mati..

Debu dari sepatu sneaker-ku jatuh dengan gerak lambat namun pasti, tertarik gravitasi bumi yang kian mengecil tiap detik, tak kudengar bunyi jatuhnya jauh dibawah sana, mungkin ditelan oleh hiruk-pikuk para nokturno omnivora. Pada waktunya, kuserahkan segalanya kepada angin malam yang membawa tubuh kasarku menukik menembus tirai udara yang tadinya statis. Derunya menusuk gendang telingaku sampai pekak.

Bulan makin pucat tanpa bintang menemani ketika kupandangi terakhir kali, sebelum terhujam dipeluk bumi dengan sensasi temporer tentang kesakitan dan panik...

Sebelum gemeretak belulang memainkan simfoni terakhir sebuah funeral yang terdengar pahit oleh diriku karena tak mungkin aku bisa mendapat tempatku diatas sana, tempat dimana kerlip dian menyambut siapa saja yang kembali kelangit...

Dan perjalanku pun terhenti, namun dunia terus berputar dengan tangis-tawa datang silih berganti. Walau tak lagi menapaki bumi aku terus disini, di kota cahaya, di gedung bertingkat sepuluh ini, menunggu seseorang untuk dapat menemaniku dalam kesendirian kekal ini.

MAGHRIB

(Ode Untuk Makhluk Tak Sempurna )

Semburat kemerahan terbentang di ufuk barat sepeninggal surya yang kini hanya tinggal setitik cahaya keemasan yang terpantul pada air asin lautan. Maghrib kembali turun ke kota cahaya, ditengah hingar bingar kota ini maghrib berlalu seperti angin hangat yang berdesir disela-sela tubuh tergesa manusia malam. Bahkan adzan pemanggil menuju kemenangan dengan mudah saja ditenggelamkan oleh suara kerumunan manusia dan makin hilang ditelan speaker-speaker mall dan angkot yang lalu-lalang. Adakah kemungkinan seorang dari kerumunan itu, hingar-bingar itu mendengar panggilan itu? Tak semua, hanya seorang pria ceking berjalan tak tentu arah yang kecewa pada-Nya, seorang wanita renta penjual kelontongan yang tulus memenuhi panggilan-Nya, dan seorang Watunas yang merasa sangat kotor dihadapan-Nya. Kenapa hanya orang-orang ini? mana para mubaligh lainnya, yang merasa diri mereka mulia? Apakah mereka sudah sedemikian mulianya hingga tak sanggup mendengar panggilan Adzan dari tukang koran dan dari mesjid yang hanya dilengkapi pengeras seadanya dan sudah bobrok?

CERITA TENTANG SESUATU

(Sebuah Catatan Untuk Di Ingat )

Antara aku, dinding beku, dan libido...

Ada mimpi yang masih klise tentang sesuatu, entah apa itu, aku tidak tahu. Alam sadarku terus menekannya. Bahkan aku terlalu takut untuk menguak atau sekedar mengintip. Walau hanya bias, serpihan gambaran kusut itu adalah keseharianku yang terekam dalam benak yang tercampur dengan ilusi dan ekspektasi yang maya, tak berwujud, dan tak terlahirkan.

SESAL

(Salah satu Bagian Hilang Di Kehidupan ini)

Tik tok, derak jam dinding penuhi ruangan tidur berdebu dengan seprei melusuh. Mataku tak kunjung terpejam, kafein yang kutenggak memaksa otakku bekerja dalam kelelahan teramat sangat...

Di layar monitor komputer butut ada sederet kalimat, sepenggal cerita terpampang, terketik dalam MS WORD yang jauh dari standart dengan deru printer yang seadanya mencetak. Deadline sering nampak berputar-putar mempermainkan penglihatanku yang merabun.

Hufhh.. mestinya tak kuambil bagian kehidupan ini, kalau saja aku boleh kembali, aku akan memilih untuk ikut kerja sebagai seorang penerjemah! Bukan sebagai kuli disket tabloid murahan yang hanya tonjolkan sensualitas sepotong tubuh wanita jalang! Aku pasti kerja di kedutaan asing, tunggu selama setahun...kemudian, siapa tahu di bom bunuh diri lalu mati tercerai-berai. AH! Mungkin itu cukup berharga bagiku daripada mati sakit jantung ketika senggama dengan pelacur yang mabuk akan uang cekak!

TRIBUTE TO TODAY’S IDEA

(Teruntuk Ide Hari Ini)

Hari ini aku tak bisa menulis, Writer’s Gap mulai menyerang isi otakku dan mendistorsi ide yang semestinya kulahirkan sedari tadi. Didepanku hanya sejumlah kata-kata yang sulit kurangkai untuk menjadi suatu kalimat yang bisa membuka kebuntuan ini. Kata-kata itu tak beraturan, tak behubungan, tak membentuk suatu kalimat. Kantuk yang datang sesaat berikutnya sukses membuatku tenggelam dalam kebuntuan abadi. Aku akhirnya menyerah...menyerah dan menutup notebook, menyerah dan membiarkan ide-ide itu meraung pergi dan menghilang dalam benak, menyerah dan membiarkan diriku terlelap, terhempas kedalam tanah impian yang menjadi kuburan tak tergali, tempat kembali ide-ide tadi. Aku tahu diriku pantas dibenci karena telah membunuh mereka. ‘Maaf’ hanya itu yang bisa kukatakan ketika aku sempatkan diri tuk ziarahi mereka sambil membawa lentera harapan tentang kesempatan mereka akan dibangkitkan kembali dalam bentuk yang lebih baik lagi, anggap saja ini adalah wujud apologiku karena telah membiarkan mereka mati.

Merekapun kemudian bangkit dan mulai mengerubungiku dengan tepukan terima kasih, guncangan bersahabat, dan panggilan untuk kembali ke alam sadar, dunia nyata. Aku akhirnya sadar dan ide-ide itu sudah bergentayangan disekitarku kemudian merasukiku dengan cepat dan seketika membawaku pada kondisi trance yang membuatku tak henti-hentinya menuliskan sederet kalimat kemudian menjadi separagraf, kemudian menjadi sebuah tulisan pada hari ini.

DALAM KETERLELAPAN SEMU

(Selamat datang di DUNIA-ku)

Diriku tak kunjung larut dalam lelap walau aku sedari tadi mengatupkan kedua mata. Serpihan-serpihan debat selalu saja mengoyak dinding mimpi dan aku merasa kesal karenanya. Ini adalah hari dimana aku meletakkan segala perasaanku di tempat yang paling dalam dan terlindung dari segala cerca yang menikam dari belakang, dari segala persepsi dan opini komunitas tentang diriku dan melepas topeng yang melekat erat di wajahku ketika menemui peradaban kota cahaya, tempat aku menuntut ilmu.

MALAM DI KOTA OBSCURI

(Ode Sang Angin Di Kota Obscuri)

Malam di kota obscuri, Luna yang kian memucat bersinar bersinar anggun dilangit malam menyusuri dan menyingkapi siluet kota yang terselimut kegelapan abadi nan damai. Serenade binatang malam menderikkan sesuatu yang disebut kedatangan, kepudaran, kehilangan dan pergantian setiap makhluk yang tercipta, terlahirkan. Angin berdesir pelan, nyaris berbisik! Seakan tak ingin semesta tahu bahwa dia ada dan hadir malam ini. Ada apa sebenarnya? Apa hari ini dia sedang berduka sedih karena tak ada yang mengerti dia? NONSENS! Dia sudah punya lelaki itu, lelaki tanpa pamrih yang mendengar dengusannya, desirannya, hembusannya, bahkan amukannya! Apa yang salah kali ini?

Gerombolan pepohonan berkresek meliuk-liukkan dahan, ranting, dan dedaunannya untuk mencoba menghibur sang Angin. Berhasil! Hembusan sang Angin kembali hadir memenuhi alam sekitar tuk membantu sang awan mengarungi langit malam, merebahkan padang ilalang yang tak kunjung terkulai lelap, dan mengantar sang Luna melintasi lengkungan rotasinya pada malam ini. Kemudian, setelah semuanya tertidur lelap dalam gelembung mimpi. Tinggallah dia sendiri berdesir lalu tanpa teman. Lama sudah dia berdesir melewati lekuk gedung menghitam legam terselimut gelap, pepohonan, dan segala sesuatu yang dilewatinya hingga pendaran sinar lampu lentera dari jendela terbuka di suatu gubuk ditengah padang ilalang mengusikknya. Ketika didekati, “Jangan Dipadamkan...” kata sebuah suara, menyeruak keluar dari balik jendela itu mendahului sebentuk tubuh yang kemudian muncul tersingkap dari remang cahaya lentera. Suara itu milik lelaki itu, sosok itu adalah lelaki itu. Dia tak kunjung bisa memejamkan matanya karena galau yang dihadapinya. Angin kemudian sumringah dan menghembuskan udara hangat disekitar lelaki itu, menyelimutinya dengan perasaan terlindung nan damai.

TRIBUTE TO NEWCOMING MOTHER

(Teruntuk Temanku Indry)

Tangis kebahagiaan menyelimuti ruang bersalin, satu lagi malaikat terlahir ke bumi dalam wujud bayi mungil laki-laki bernama Rein. Ibu dari anak ini tergolek lemah di pembaringan setelah bergulat antara hidup dan mati ditemani oleh sang suami yang setia menemaninya sedari malam ketika masih pekat. Aku hanya bisa diam dan mengamati fenomena ini, karena aku, sang Ether hadir tanpa diundang dan berlalu tanpa ada yang lihat. Aku hanya menemani sang pemuda ceking teman sang angin, kembaranku ke sebuah rumah sakit yang masih dalam tahap restorasi namun cukup bergengsi di kota cahaya ini bersama seorang teman wanitanya. pemuda ceking itu tak bisa berkata banyak dalam pikirannya disamping ketidaksukaannya terhadap aroma Ruang Kesadaran yang mengingatkannya pada almarhum neneknya semasa beliau dirawat di IRD, betapa jengahnya dia melihat tindak-tanduk perawat yang semestinya mencerminkan tugas yang diembannya, dan betapa kerdilnya dia dalam hal berterima kasih pada orangtua yang telah melahirkannya dan membesarkannya. Bisikan demi bisikan sebagai media komunikasi antar pengunjung dan pasien sesekali terdengar di ruangan ini sampai tiba saatnya dipindahkan ke Sal ibu melahirkan. Seiring malam menyelimut, kata pamit terucap dari mulut sang pria ceking dan langkah-langkah sendal terseret keluar dari sal terdengar kemudian.

HUJAN HARI INI

(Ode Untuk Sesuatu yang Menyesakkan Hati)

Ada aura yang begitu pekat akan perasaan sedih, bebal, sepi, marah, rajuk, ragu, rapuh, luka, dan kutuk terakumulasi lalu membumbung naik menembus plafon ruangan yang memuai karena panas dan kemudian bersatu dengan uap udara cikal bakal hujan hari ini. apa salah hari ini mendapatkan hal ini? Tak ada! hanya saja seseorang yang menjadi saman hal ini tak tahu harus dikemanakan perasaan tersebut. Tak mudah baginya untuk mengekspresikannya secara verbal karena dia tak pandai berucap dan penyimpan akut. “Paling tidak aku bisa membagi masalahku dengan mereka yang serupa denganku atau yang sedang dalam masalah sepertiku” itulah kata-kata egostis yang diucapkan seseorang itu, seorang anak manusia yang terlihat tegar namun rapuh jiwanya.

ME & MY MINERAL WATER BOTTLE

(Ode Untuk Sesuatu yang Pointless)

Desau angin...sebuah percakapan...kicau burung...deru knalpot motor...dentuman musik cadas...suara sesuatu yang diseret...langkah kaki...talu orang memalu...alunan musik lembut...suara menyapu...suara orang menyapa...suara kursi diseret...suara air diteguk...suara dengusan nafas...degup jantung...jerit HP...derik botol plastik digenggam...sebuah lengosan...sebuah pemikiran...sebuah kekecewaan...sebuah senyuman...sebuah perasaan malu...sebuah pointless talk...sebuah akhir dari setengah hari renungan dari seorang anak manusia...sebuah bunyi hentakan sepatu...sebuah kepulangan.

(Dinarasikan oleh diriku dan botol mineralku)

BOTOL MINERAL

(Ode Untuk Sesuatu yang Pointless)

Srekk...

prekk...

glukglukglukglukglukgluk

pling....

gluykgluykgluykgluyk

fliiing...

pluk..pluk..plukkkk

LALAT DAN KACA BURAM

(Ode Untuk Dunia Yang Lebih Baik)

Seekor lalat hinggap kaca buram disebuah ruangan antah berantah. Berdengung hebat dan menghantamkan diri dengan gigih demi satu harapan, dunia dibalik keburaman kaca yang lebih baik dari tempatnya berdengung-dunia yang t’lah terdistorsi oleh polusi.

NEW YEAR’S EVESOMNIA

(Ode Untuk Tahun Ini?)

Sebuah Jendela.....

Dibalik jendela rumah kontrakan kutatapi jendela-jendela diluar sana, jendela yang penuh cinta kasih dan rasa ingin berbagi dua insan yang membuat dadaku sesak tertusuk iri dan sepi.

Apa hakku melarang mereka untuk tidak melakukan hal itu didepanku? Itu jendela mereka, itu kehidupan mereka dan peranku disini hanya pengamat, pelihat. Tidak kurang ataupun lebih.

Sebuah Trotoar.....

Di trotoar yang dingin terbeku oleh malam kutapaki hidupku tanpa teman, hari ini. lalu-lalang tubuh tergesa melepaskan panas tubuh penolak suhu minus. Kepulan uap hangat menyeruak ketika helaan nafas panjang terhembus dari rongga mulut, menyegarkan otak yang sesaat bebal dan mencoba berpikir positif tentang esensi kesendirianku. Aku tak sendiri, ternyata ada rembulan yang mengarungi langit sukarela temani diriku, ada lampu jalan yang tanpa pamrih sinari setiap tapakan kakiku, ada eter yang selalu selimuti diriku walau membuatku gerah dan kedinginan juga terkadang membuatku hangat dan sejuk.

Sebuah Nafsu......

Tatapan kami bersatu dalam horison garis maya, tak kulihat satupun keraguan dan penyesalan saat kedua tubuh kami larut dalam gelombang nafsu beralasan cinta. Ya, kini kami berdua sedang mereguk surga dunia yang entah kapan ‘kan berubah neraka.

Sebuah Hingar-Bingar......

Denting gelas dan dentuman musik selebrasi tiadak akhir memekak setiap inci ruangan. Terkapar dan teler adalah ciri khas hedonis, sebuah homogenitas tanpa cela. Validasi dan justifikasi para pelahap malam demi pencarian identitas diri.

LUMOS PARADOXIA

(Kota Temaram)

Obscuri, bayangan kota cahaya yang menawarkan solusi melalui introspeksi. Tempat yang yang menawarkan sepotong tentram, aman, teduh, sunyi. Bagian temaram, redup dari selebrasi tiada akhir kota cahaya.

Angkasa petang dipenuhi sayap-sayap malam yang mulai mengepak ribut, menyambut selimut malam yang terhampar setelah lembayung mentari puas menyapuh awan dan langit. Menyisakan cahaya minis yang membuat makhluk sepertiku harus menyalangkan pupil dan menyipitkan mata untuk beradaptasi.

Kenapa aku disini? pertanyaan yang bagus, karena seperti makhluk lainnya, ada saatnya kita perlu sendiri untuk bisa mandiri, tak merasa sepi walau sendiri dan memulihkan diri dari fatamorgana yang disebut MODERNITAS.

Disini, ditempat ini, para lumina tercipta dan hidup tuk jadi pendar-pendar ruyup yang seadanya memandu siapapun yang sesat jalan.

BASTARD

(Catatan Harian Seorang Bangsat)

“Ada dimana kau BANGSAT!”

“SERAHKAN ITU BANGSAT!!!”

“Sini kau BANGSAT!”

Hi, aku tak perlu memperkenalkan diri pada kalian karena pasti sudah menduga siapa namaku....Ya benar, namaku BANGSAT. Nama yang mengandung cacian dan kehinaan yang abadi ketika terucap, pandangan sinis dan menghujam dada. Satrio, itulah namaku yang sebenarnya dan bukanlah sebentuk kata itu, tapi kata itu lebih banyak termuntah keluar dari setiap orang yang kutemui, tapi aku tak menyalahkan mereka karena hanya membeo dari seorang pria kasar, kudisan, berambut masai yang dengan muak kusebut dengan kata ‘AYAH’. Figur yang lebih menginginkanku jadi penjambret, pengedar, dan pembunuh daripada orang baik karena menurutnya ‘pekerjaan’ ini lebih mulia daripada pekerjaan lain. ‘Paling tidak... kita tidak munafik dengan pekerjaan kita.....’ itulah kata terbata yang bisa kukutip darinya waktu itu, waktu dia terkapar bersimbah darah diterjang peluru aparat ketika mencoba kabur dari kejaran sewaktu razia narkotika 2 tahun lalu yang hingga sekarang masih terngiang dalam kepalaku. Usiaku kini sudah 28 tahun dengan tubuh kekar dan codet yang menyerempet mata kanan akibat perebutan wilayah operasi. Aku telah menjelma menjadi sosok yang dulu paling kubenci dan diidamkan ‘AYAH’, ratusan nyawa sudah teregang oleh kedua tangan ini dan kebanyakan dari mereka adalah tikus-tikus got gendut berseragam yang bertopeng hukum. Penjara adalah rumah keduaku dan layaknya rumah, semuanya aku kenal baik, tak jarang aku melakukan ‘tugas’ untuk mereka. entah itu hanya pembersihan biasa atau ‘pembersihan’ khusus. Dibalik semua keperkasaanku ini, diam-diam ada sesuatu yang menelusup masuk kedalam tubuhku, awalnya hanya setitik noda dalam paru-paruku namun tahun-tahun terakhir ini segalanya jadi tak bisa kompromi, aku jadi cepat lelah dan batuk keras, terkadang disertai darah. Setelah beberapa kali mondar-mandir rumah sakit, kuputuskan untuk tidak lagi menghamburkan uangku untuk itu. Hari ini, ketika sedang keliling pasar tiba-tiba pandanganku mengabur lalu jatuh terjerembab tak sadarkan diri. Ketika sadar aku sudah dikerumuni orang-orang dengan wajah yang cemas. Satir, kenapa mereka begitu cemaskan aku? Aku sangat jahat pada mereka sering menghancurkan dagangan kalau lagi kesal ataupun mabuk. “Minum dulu, Bang..” sodor seseorang yang bisa kukenali sebagai mang Ipan, yang dagangannya menjadi ‘langganan’-ku. Teh manis yang disodorkan terasa pahit dalam kerongkongan oleh karena perasaan segan. Sesaat kemudian pandanganku meredup perlahan dan menjadi gelap pekat. Di ujung ajalku sebuah suara berat nan serak memanggilku dengan panggilan yang selama ini kurindu.... “Satrio, kemari Nak?!

MIKAZUKI NO OBORO

(Bulan Sabit Di Kota Temaram)

Sebuah perasaan enggan tiba-tiba saja menggelegak dalam dada dan pikiran buntuku, aku jadi sesosok tubuh yang tanpa jiwa, teronggok begitu saja disegala tempat yang bisa kusinggahi, duduki, dan hinggapi.....

ceracauan perasaan berpendar hebat dalam benak, tak ada yang cukup berarti untuk bisa dipakai buat solusi. Aku hanyalah seorang Wannabe yang mencoba mencari tempat terbaik buat diriku, tempatku merenung dan merenggang nyawa dan untuk sementara ini aku akan menjadi sesuatu yang nyaman bagi diriku, karakter yang berubah-ubah sesuai mood. Aku bisa saja jadi seorang Daywalker ketika terik panas memicu adrenalin, Nightholic ketika kegelapan menjadi satu-satunya teman juga selimut. Rainfreak ketika curahan air dari langit melagukan keprihatinan dan pelegaan akan segala masalah.

I’M NOT A SAINT!

(A Resist Note)

Aku bukan orang suci, pendosa tapi tahu diri....

Bisa bedakan mana yang benar dan salah. Tapi kenapa aku menyimpang dari kebenaran? Karena kesalahan adalah awal dan kebenaran adalah hasil. Manusia yang menjunjung kebenaran pasti pernah menyimpang darinya.

Aku bukan orang suci, bukan malaikat walau bersayap.....

Sayapku berwarna dan bukan putih. Tidak bisa mengepak terbang walau bisa mengepak.

Aku bukan orang suci, hanyalah seorang haibane dengan sayap dan korin diatas kepalaku...

Terkurung dalam sebuah lingkaran tembok kokoh bercahaya dan menunggu dan menunggu saat itu tiba, saat dimana sebuah sinar membelah langit menyelimuti tubuh kemudian aku akan tersapih pergi dari kungkungan untuk hadapi peradilan akhir.

Haibane : secara harafiah berarti ‘sayap kelabu’ diambil dari bahasa jepang

Korin : Sebutan orang jepang untuk lingkaran suci (Halo)

CEKINGPHOBIA

(Ceking Itu Tidak Enak)

Menjadi kurus adalah momok bagi dia, paling tidak menurut itu dia karena diantara anak seusianya dia paling ceking. Serangkaian diet sudah dia jalani untuk sekedar bertambah beberapa kilogram saja, tapi semua itu gagal. Minder adalah sikap akhir yang dia tunjukkan dan menarik diri dari segala bentuk sosialisasi.

MALAIKAT TAK BERSAYAP

(Zero Supremacy)

Tak selamanya malaikat dinilai dari sayap dan lingkaran halo yang mengapung diatas kepala mereka. Kami adalah malaikat yang tak bersayap yang mengulurkan tangan tanpa pamrih. Kami tidak dihukum karena membangkang, tidak mencabuti setiap helai bulu untuk menebus dosa manusia, dan tidak sedang dalam pengasingan. Kami sudah cukup kenyang dengan superioritas yang dianugerahkan pada kaum kami karena itu kami menyimpannya. Kami sadar bahwa setiap cahaya pasti ada bayangan dan bayangan itulah titik hitam kami yang menyebar secara rahasia dan membuat kaum seperti kami mati atau membelot dari cahaya yang kami bawa. Kami adalah malaikat tak bersayap, menolong walau dicecar, menerima setiap serapahan terasuk dalam sambitan batu, dikencingi dan diludahi masa. Kami tetap saja malaikat tak bersayap tak lebih tak kurang. Tak bisa mati, tak bisa punah, hanya redup ketika hari memerlukan dan bersinar cemerlang ketika waktu membutuhkan. Kini manusia telah membaca tentang malaikat tak bersayap, kini manusia sadar bahwa merekapun bisa jadi seperti kami dan kamipun bisa seperti mereka.

GROUNDED

(Beri Aku Sayap)

Beri aku sayap maka aku bisa mengepak pergi dari sini, tembok kokoh tanpa celah tanpa pintu. Lingkupan beton ini mengungkung raga bebalkan pikiran. Terasing dalam ramai hingar-bingar ketika sepi. Ide dan pemikiran terus mengalir dari segala arah, terjejal masuk kedalam benak. Beberapa dari mereka menjadi janin yang tak kunjung terlahirkan.

Beri aku sayap karena aku t’lah membayar untuk itu...

Masih tersimpan rapi dalam setiap jengkal tubuh sakitnya sayapku tercerabut paksa ketika aku harus jadi manusia untuk mengecap ‘perih’, ‘sepi’, ‘bahagia’, dan ‘sakit’!

Hal-hal yang tak bisa dimiliki oleh makhluk cahaya. hukuman ini kuterima sebagai penebus kesalahan karena telah menyimpang jauh dari takdirku sebagai pembawa pesan, utusan Sang Cahaya.

A STORY ABOUT THEM

(Nocturna Omnivora Sequel)

Kota cahaya..........

Malam hari.............

Ditengah kemegahan mall, julangan hotel bintang lima, dan dentuman keras music box angkot. Sebuah cerita lahir lagi menyusul pendahulunya, cerita tentang kerdilnya manusia-manusia malam bernama Nocturna Omnivora yang bermutasi ketika malam meniadakan limpahan sinar mentari. Dengan cepat mereka menyebar dan menjangkiti tiap-tiap manusia yang iseng mencari udara segar pengganti udara cekak yang terhirup siang tadi. Malam adalah paradoks, malam adalah infinitas tak berujung dimana kelam bisa saja tiada akhir jika mentari enggan menyinari. Nocturna Omnivora adalah makhluk tiga dimensi yang terperangkap dalam kehidupan dua dimensi tanpa kesadaran bahwa cepat atau lambat mereka akan dan harus kembali ke asal mereka yang tiga dimensi itu.

MAGENTA

(Welcome To The Mad City)

Kota dibawah langit berbintang lampu mercury, kota dimana keajaiban adalah tabu, dan anugerah merupakan kutukan. Di kota inilah aku dilahirkan, dan dipuja-kutuk. Anugerah yang terlahir bersama membuatku seperti zombie yang tak bisa merasa sakit, penderita kusta karena terus dijauhi, tidak waras karena sering histeris, menjadi komoditi eksploitasi, pembawa sial karena dimanapun aku berada karena (kebetulan) berhadapan dengan kematian.

REFLEKSI

(tru story?)

Nyata, kali ini kisah nyata tentang seseorang yang benar-benar ada dan menuliskan cerita ini. mudah-mudahan cerita ini bisa menjual dan mendapat atensi dari semua orang yang membacanya. Kehidupan cintanya tak sebanyak bahkan tak se-happy ending seperti cerpen yang suka dibuatnya, banyak orang mengira bahwa dia bisa ditebak karena polos tapi itu sama sekali salah karena multiple characters yang sering terganti secara otomatis untuk beradaptasi dengan setiap keadaan, himpitan demi himpitan yang datang tak selalu diterimanya dengan tegar karena terkadang manusia akan jatuh dan belajar bangkit berdasarkan pengalamannya.

Minder, adalah satu-satunya gap atau penghalang yang menyulitkan dia untuk terus bisa menegakkan kepalanya. Everybody change, even a nerd one... ya, kini hal tersebut sudah sedikit melunak karena lambat laun dia bisa menerima dirinya APA adanya bahkan mencoba menularkannya pada orang lain seperti virus flu burung atau influenza. Kini dia dianggap cukup supel oleh masyarakat akademisnya dan tidak bermasyarakat bagi sebagian lingkungan tempat tinggalnya.

I am what I am, I do what I want... banyak orang yang menanggap dia adalah indivualis dan egosentris karena lebih memilih meng-exile-kan diri dibandingan blend in. Padahal jika saja mereka mau mengerti maka mereka akan melihat sisi baik dari dirinya, padahal kalau saja mereka ingin minta bantuannya maka sedapat mungkin mereka menerima bantuan darinya.

Well, that’s all....cerita tentang seseorang yang dengan nyatanya menjadi bagian dari masyarakat pluralis yang belum mampu menerima segala sesuatu yang sedikit menyimpang dari jalurnya.

KETIKA SAAT ITU TIBA

(Ode Sehelai Daun Renta)

Hari ini matahari bersinar terik, sumringah menyambut sang musim panas yang dicintainya, derai tawanya terbias disela-sela dedaunan pohon rambutan yang rapuh usia,. Disalah satu cabang, sehelai daun renta sedang menenangkan tangisan tunas yang cengeng karena takut layu oleh pengapnya udara. Angin kemudian datang menghampiri daun renta itu untuk mengugurkannya. ‘Maaf, aku belum bisa tinggalkan cabang ini karena tunas masih kecil’ apologinya pada angin dan tanpa sadar menunjukkan gurat kecoklatannya yang nampak begitu agung. Angin mahfum dengan keadaan daun renta, terkadang dia tak ingin menggugurkan dedaunan tapi sudah fitrahnya dia bertiup dan melewati setiap benda di bumi ini dan tanpa sengaja meluruhkan, mencerabutkan sesuatu. Angin kemudian berbisik pada langit agar meneduhkan hari, langit kemudian mengirimkan searak awan putih untuk menaungi bumi. Daun renta itupun melambai lemah berterima kasih karena tunas telah berhenti dari rengekannya. Angin pun berlalu, meninggalkan hembusan pelan agar daun renta tak gugur hari ini.

Kini musim panas telah berada pada puncaknya, sang daun renta sudah berada pada kondisi terapuh. Bahkan sepoian kecil saja mampu merontokkannya. ‘Saatku sudah tiba untuk berpisah, tunaspun sudah cukup kuat untuk kutinggalkan’ dengan berayun lemah sang daun renta terlepas dari ranting yang menyangganya dan melayang tak tentu arah ditemani sang angin yang entah datang dari mana dan membawanya ke tanah pembaringan terakhir sebagai daur hidup sebuah ekosistem.

REFLEKSI SEBUAH HARI

Arakan awan adalah kehidupan, kadang berarak cepat kadang melambat. mendung adalah sesal, hujan adalah tangis dan cerah adalah a brand new day untuk setiap orang yang mengharapkannya.

SITTING IN THE DARK

(My own Solitude)

Kegelapan menjadi pekat tanpa setitik cahaya, seorang lelaki yang telah lelah dengan cahaya kembali menyapih kedalam kegelapan kekal. Duduk di kegelapan memungkinkannya membangun kembali zona defensif yang terurai oleh cahaya. Sendiri dan sepi, adalah salah satu cara bagi manusia untuk jadi kuat dan tegar karena tak ada seseorangpun yang bisa kita gantungkan harapan.

Manusia dilahirkan secara sama tapi mereka memiliki cara yang amat berbeda agar diakui keberadaanya, manusia adalah mahkluk kemungkinan yang memungkinkan mereka bisa memilih dan bisa menyimpang dari kebenaran maupun kesalahan.

SOLUTION

(Siapa yang Salah?)

Diantara deru humvee, desing peluru, dentuman meriam, dan teriakan histeris terbantai. Sebuah suara lemah menyuarakan pertanyaan-pertanyaan hinggap di telinga setiap pendengar namun tak sampai menghentikan peperangan.

‘Apakah kekerasan harus dibalas dengan kekerasan?’

Tak ada jawaban.

‘Apakah perang adalah solusi?’

Tak ada jawaban

‘Apakah kekerasan bisa mengantar kita dalam perdamaian’

Tak ada jawaban

...................................

Diantara deru humvee, desing peluru, dentuman meriam, dan teriakan histeris terbantai. Sebuah suara kembali datang, kali ini berupa teriakan lantang pemekak telinga setiap pendengar yang bisa menghentikan peperangan hingga menjadi sunyi senyap. Suara itu adalah sangkakala yang ditiupkan Israfil sebagai solusi, sebagai akhir.

NEVERENDING DREAMS

(reality sickness)

Denyut demi denyut menghujam dinding bawah sadarku, memaksaku untuk kembali ke realitas alam sadar. TIDAK! Aku lebih suka tetap tertidur dan terus tertidur membiarkan diriku membusuk

KATAK DAN WULAN

(Sebuah Cerita Di Kota Cahaya)

Sebuah cerita tergelar di kota cahaya ini, cerita seorang katak yang baru saja keluar dari kungkungan sumur kering tempat dia dilahirkan. Setiap hari, menit dan detik dia memimpikan agar hal ini terjadi. Lompatan demi lompatan akhirnya menghantarkan katak kepada bibir lingkaran sumur. Dia sangat menyukai sang wulan dan ingin menjadi temannya karena sang katak tahu bahwa dibalik keanggunan sinar, sang wulan menyembunyikan kesepiannya dan dia ingin sekali ditemani.

Sesampainya di bibir sumur sang katak baru menyadari bahwa wulan jauh berada di sebuah ruang yang terhampar tinggi bernama angkasa, bagaimana dia bisa menemaninya? Dia hanya seekor katak yang tak punya sayap, hanya kulit licin dan sepasang kaki lompat. Dalam kegundahannya, sang katak mulai berkroak lirih sambil berdoa agar bisa bertemu dengan sang wulan. Langit yang merasa kasihan mengirimkan hujan yang seketika itu mulai mengguyuri bumi kota cahaya, menggenangi dan membasahi setiap daratan. Sang katakpun sumringah dan menaikkan desibel kroakannya untuk berterima kasih. Dengan sabar dia menunggu hujan reda disebuah kubangan yang tercipta siapa tahu dia bisa bertemu dengan sang wulan. Ketika hujan berhenti merintik, sang wulan akhirnya turun ke bumi! Terpantul di kubangan itu. ‘Kini wulan tak akan lagi sendiri’ kroak sang katak.

NAMAKU.....

(Bukan Sebuah Otobiografi)

Namaku..*berpikir sebentar*, namaku tidak penting, sama tidak pentingnya dengan keberadaanku di dunia ini. aku adalah salah satu bagian dari komunitas ‘sang pengganti’ dimana kami memiliki peran vital sebagai pengganti apa saja, teman-pacar-ayah-ibu-kakek-nenek-binatang piaraan-suami-istri-mahasiswa-mahasiswi-siswa-siswi-titik. Titik? Ya, titik soalnya terlalu banyak hal yang bisa digantikan dunia ini.

Inilah jawaban pertanyaan kenapa namaku tidak penting, nama dibutuhkan oleh seseorang untuk mengingat seseorang yang lain. Kami pengganti dan bukan sejati. Tugas kami hanyalah pengganti kekosongan yang ditinggalkan, pengganti sosok sejati yang selalu diingat dan tak pernah bisa digantikan hingga ujung waktu. Komunitas kami bukan komunitas yang pasrah akan keadaan, hanya saja betapapun kami berusaha untuk menggantikan tetap saja tidak akan mampu menyamai yang digantikan. Maka, kami cukup bahagia untuk bisa menjadi berguna bagi orang lain, membagi senyum-tawa-tangis-kecewa-bahagia-berkabung-ceria-marah dengan yang membutuhkan.