Senin, 08:00 AM, Di Balkon s’buah fakultas yang masih sunyi aku merenung....
Tak ada yang istimewa pagi ini--sepi, dingin, dan agak menakutkan dengan beberapa ruangan gelap dan lembab--, keadaan fakultas pada waktu pagi memang tak pernah berubah dan aku menyukai hal itu untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan. Aku suka mencari inspirasi disana dan itu tak akan terjadi kalau ada seseorang disekitarku mungkin itu yang bisa jadi estimasi sementara. Setelah beberapa jam, segerombol wanita berhandphone datang dengan dandanan norak yang lebih mirip perek daripada mahasiswa menaiki tangga dan mengambil tempat disebelah kanan balkon lantai dua, tempat aku duduk dan mulai berbusa oleh obrolan mode pakaian disertai dengan tertawa cekikikan kayak kuntilanak kemudian disusul oleh beberapa pria yang nggak kalah menornya dengan wanita dengan compact powder yang dikeluarkan kantong mereka, menjijikkan!
Karena tidak tahan akupun muntah, muntah, dan muntah tapi sayangnya tak ada yang bisa dimuntahkan. Mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi karena aku tak ada bagi mereka, lain dunia mungkin.
Aku memutuskan untuk makan dulu di kantin bawah, siapa tahu ada yang bisa dimuntahkan pada akhirnya. Tapi setelah kupikir-pikir, untuk apa aku melakukan hal yang tak menguntungkan seperti itu tapi aku akan tetap makan karena hari ini masih panjang dan aku masih perlu karbohidrat untuk energi berpikir, menulis, serius, berkoar-koar, dan menggambar sesuatu yang terpikirkan olehku. Kantin sudah dipenuhi mahasiswa entah hanya ngobrol atau mengganjal perut kosong yang tak sempat diisi karena kesiangan atau karena makanan di rumah tidak sesuai dengn perut. “Pagi kak...” sapa mereka ramah ketika aku masuk kantin. Aku menjawabnya dengan senyuman tak kalah ramahnya. Kupesan lima potong pisang goreng, itu sudah lebih dari cukup dan ketika pesananku datang, aku sudah benar-benar lapar dan tak sampai lima menit pisang goreng telah pindah dari piring ke perutku. Ketika aku bersiap membayar dengan ekor mataku kutangkap sekelebat bayangan seorang gadis berambut sebahu-gadis yang sudah lama ingin kutemui-diantara rimbunnya pohon Akasia, tak jauh dari jendela tempat kasir berada. “makasih...” kataku tergesa setelah menerima kembalian dari selembar uang sepuluhribuan yang kuserahkan dan bergegas keluar menelusuri tempat kelebatan bayangan gadis itu tadi... aku gagal menemuinya.
xxx
Selasa, 08:00 AM, Kampus adalah satu-satunya tempat ternyaman yang disebut RUMAH....
Tiada hari tanpa kekecewaan, hari ini untuk kesekian kalinya aku kecewa pada keadaan yang menyeretku ke situasi tidak menguntungkan. Setelah menyabet sepotong roti panggang aku dengan tergesa berangkat ke kampus, tak ada alasan bagi diriku untuk betah berada di rumah, kampus adalah satu-satunya ‘rumah’ bagiku. Kupercepat laju motorku ketika ban depannya menyentuh jalan beraspal di ujung gang rumahku. Jalanan makin ramai belakangan ini dan aku mulai merasa lelah melihat kemacetan yang terjadi di pusat kota. “Kenapa jalannya tidak diperlebar sih!” gerutuku dalam hati. Setengah menit kemudian kemacetan itu mulai mencair dan aku sudah bisa berjalan meskipun masih dalam keadaan merayapi aspal yang kian memanas tertempa mentari yang makin meninggi. 07.30 tepat, akhirnya aku berhasil masuk kuliah pada jam pertama tanpa terlambat sedikitpun. Tenangnya....tapi apa aku akan setenang ini menghadapi ujian yang sebentar lagi akan merongrong bukan hanya pikiranku melainkan pikiran mahasiswa aliran Nerd dan Clubbers yang sebagian besar mendominasi kampusku. “Dy, kira-kira dimana Jasmine yah?” tanya Lyan padaku mengenai absennya Jasmine. “I have NO idea...” jawabku pendek lalu kembali tenggelam dalam lembar-lembar komik jepang berjudul Imadoki! Karya Watase Yu, beberapa saat setelah memasukkan sejumlah diktat kedalam tas butut berwarna biru tua. “Mungkin lari sama pacarnya...” terka Yuki sambil menghapus tulisan di Whiteboard untuk kuliah berikutnya. “.....dan tau kan?” sambung Viona dengan tertawa cekikikan. “Hush..tidak baik mengosipkan orang ” potong Serene yang merupakan orang terbijak dalam Gank kami. “OK, aku dan Corrie ke perpustakaan dulu, mengembalikan buku, kalian tunggu di kantin saja...” ujar Viona pada kami bertiga dan kami setuju. kantin sesak akan pelanggan, sampai-sampai pesanan jus jeruk dan pisang goreng harus kami sendiri yang mengambilnya, “Maaf...” apologi ibu pemilik kantin sambil menyerahkan uang kembalian Lyan. “Nggak pa’pa bu...sudah biasa!” kata Yuki menimpali. Sesaat kemudian Viona datang dengan sedikit merengut bersama Corrie yang cengar-cengir. “Sialan, pegawai macam apa itu...masak jam segini perpustakaan belum dibuka....!” keluhnya sedangkan Corrie terus saja cengar-cengir. “Udaaah, makan dulu...nanti aja itu diurus...” hiburku sambil mengakhiri bacaanku karena dari tadi nggak bisa konsen. “Kamu ngapain cengar-cengir dari tadi, kesambet yah?” tanya Lyan ketika Corrie duduk disebelahnya. “ Iya, kesambet setan gondrong...” sergah Qhei yang tiba-tiba muncul sambil mendekap kamus Bahasa Jermannya. “Qhei, sini...duduk sini...” sorak Yuki yang kadang masih keluar sifat Childishnya. Aku tergelak melihat sifatnya itu yang begitu alami tanpa dibuat-buat. Aku secara refleks menghela nafas, tanpa sadar aku menerawang, ini bukanlah pemandangan yang mudah kudapat di rumah, jika itu masih bisa disebut rumah. Huffhhh, kerongkonganku kering mengingat hal ini, kuhentikan mengaduk-aduk jus jeruk dan menyeruputnya. “Dy, mau ikut nggak?” tanya Yui memecah terawangku. “Kemana.....?” tanyaku mencoba konek dengan pembicaraan mereka. “Ke Gramedia, nyari tambahan buku referensi buat presentasi kuliah Pemikiran Barat Modern besok...” jelas Lyan sambil menggerek tubuhku keluar dari kantin. Aku ikut saja, lagipula tak ada sesuatu yang membuatku ingin pulang rumah lebih awal karena inilah rumahku, hidupku, keluargaku... yang selalu memberiku perhatian dan pengakuan yang kubutuhkan untuk melanjutkan langkah-langkahku esok.
xxx
Rabu, 09:00 AM, Di sebuah kelas yang mata kuliahnya membosankan....
Suasana kelas sudah ramai dan hampir semua tempat duduk dibagian depan telah ditempati hanya tersisa bagian belakang saja. Hal ini mengingatkanku pada sesuatu.......
[...................]
“Permisi, apa disebelahmu kosong?” tanyaku pada seorang wanita yang sedang makan sekantong keripik kentang dengan sopan. Tempatnya ternyata kosong dan mempersilahkanku untuk duduk disebelahnya dengan senyuman yang tak kalah ramahnya.
“Hi, Meshanditya Wannabee...” kataku sambil memperkenalkan diri
“Kirra...Kirra Navria” balasnya sambil menyambut tanganku yang terulur. Dan perkenalan singkat itupun berakhir karena kami harus memulai kuliah dengan serius sampai tanda kuliah berakhir diberitahukan. “Kamu tertarik dengan Jepang?” selidik Kirra ketika melihatku membaca buku tentang foklor jepang pada waktu menunggu jam kuliah berikut.
“begitulah, aku suka kebudayaannya” jawabku
[...................]
“Apa mata kuliahku membosankanmu, Wannabee?” tegur Profesor Hanum yang terkenal tegas. menyadarkanku dari kilasan kejadian sewaktu aku pertama kali bertemu dengan Kirra, setahun yang lalu.
. “Tt..tidak Prefesor, aku hanya...” sahutku gelagapan. “....Mengistirahatkan kepala?” sambungnya lagi sambil memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot. “Maaf, lain kali aku akan lebih konsentrasi lagi..” ujarku sambil menunduk. Damn, what happened to me...this is not the time for “remembering the past” thingz!
KrrrrrrrrrrrrrrRRRRRRRRnG!!
“Baiklah, aku ingin paper kalian tentang Pergerakan Amerika di mejaku sebelum jam kuliah minggu depan...selamat siang” tukas Profesor Hanum yang disambut dengan gerutu, sorakan, bahkan tarikan nafas panjang. Hal yang terakhir ini dilakukan olehku sambil membereskan diktat, kamus dan notes yang berserakan disekitarku. “Lagi banyak pikiran yah?” ucap Serene sambil menyodorkan teh kaleng dingin. “Soal...Kirra?” sambungnya lagi. Aku mengangguk pelan, mengiyakan setiap pertanyaan yang mengalir seolah semua pikiranku terbaca jelas, sejelas membaca buku. “Sedikit banyak tentang dia..” regukku menghabiskan sisa teh kaleng dingin pemberiannya memang enak kalau diminum ketika banyak pikiran begini. Sebuah siluet tubuh menyembul dari jendela ruangan, seakan mengecek apakah ada orang didalamnya. Ternyata itu adalah Thania yang ingin mengambil sesuatu yang kelupaan di laci mejanya dan sambil melempar senyuman kearah kami berdua kemudian menghilang di ambang pintu. “Nice isn’t she?” ujar Serene. Aku menanggapinya dengan membenarkan hal itu.“Mmm~hmm..” segahnya dengan senyum penuh arti. “What!?” tanyaku. ”Nothing” jawabnya sambil mengangkat bahu ketika kudesak mengatakan apa arti ucapannya tadi. “OK, siapa yang mau ke MetroMall bersamaku?” seru Lyan diambang pintu kelas yang kemudian dibalas dengan senyum lebar Serene dan tangan terangkatku. Dalam perjalanan turun ke lantai bawah, Qhei, Vonny, dan Cory bergabung dan hiruk-pikuk pun meledak dan berlanjut sampai naik Bus. Dalam perjalanan kulihat wajah-wajah yang mesam-mesem melihat kehebohan mereka. yah, memang begitulah mereka...dan selamanya takkan berubah. Sementara aku kembali menguratkan pensil 2B ke lembar-lembar sketchbook yang perlahan membentuk segerombol garis tegas dan halus. Sebuah gambar sketsa tentang sesuatu...
xxx
Kamis, 12:00 AM, esensi tentang eksistensiku diwakili oleh setiap guratan pensil 2B-ku.....
Guratan demi guratan, kutorehkan kedalam sebuah scketch book yang sedari tadi menampung seliweran ide-ideku yang ingin kuekspresikan kedalam sebuah gambar. “untukku yah??” seru Eliza dari balik punggungku yang tanpa aku sadari kedatangannya, kayak penampakan kuntilanak saja. Aku menggeleng keras sambil mencak-mencak menutupi kekagetanku. “Yaelah, Saddy tega amat sih...” bujuknya. Aku diam tak bergeming sambil terus mengoreskan pencil 2B lebih tebal. Beberapa saat kemudian sebuah sketsa tercipta walaupun kurasa tidak begitu bagus. “Nih..” ujarku sambil menyerahkan lembaran sketsaku padanya yang sedari tadi menunjukkan wajah memelas kayak anak kucing.“kamu ganteng deh kalo lagi mengkerut begitu” ucapnya sambil memasukkan gambarku itu kedalam binder yang memuat semua gambar yang dikumpulkannya. yeah right, ha..ha..ha very funny , hanya itu yang bisa aku katakan sebagai satu-satunya reaksi, walau sejujurnya aku juga butuh complement semacam itu, anggap saja sebagai sense of acceptance dia terhadapku yang masih tetap introvert ini. Well, mungkin sekarang sudah sedikit membuka diri dibandingkan dulu yang terus-terusan menutup diriku terhadap rangsangan luar yang sebagian besar hanya bermaksud untuk melukai fisik maupun mentalku bahkan tak ada yang tahu bahwa aku pernah dirawat di klinik rehabilitasi mental karena mentally breakdown yang kualami setahun lalu. Uffhhh... cukup sudah aku melihat kebelakang, s’buah lembaran yang ingin kulupakan namun tetap melekat erat dalam ingatan. Dengan malas aku menapaki turun setiap undakan demi undakan anak tangga hingga ujung sepatuku menyentuh lantai dibawah tangga yang sedikit becek tergenang air hujan semalam. “Hi Dy..” sapa sebuah suara yang datangnya dari balik punggungku, aku berbalik untuk melihat siapa yang menegurku. Ternyata Anthya, gadis yang selalu tersenyum manis dan memperlihatkan lesung pipit; gadis yang dulu pernah kutaksir. Aku tersenyum dan balik menyapanya, dia mau ke bidang administrasi dan aku menawarkan diri untuk menemaninya karena masih sejam lagi aku kuliah, hitung-hitung cari kesibukan disaat senggang. Wajah
Gadis berlesung pipit ini sedikit meredup ketika dia bertanya tentang bagaimana hubunganku dengan Kirra. “Maaf...aku tidak tahu”. itulah reaksinya ketika aku mengatakan bahwa segalanya sudah berakhir, aku hanya menggeleng. “That’s OK, I’m in one piece now”. Yah, tak ada yang perlu disesalkan dari ini karena diakhiri dengan indah tanpa ada airmata yang tercurah meskipun ada desakan perasaan yang mendesak keluar dari dadaku entah itu lega atau kecewa. Ruang administrasi sudah didepan mata dan aku terpaksa berpisah dengannya. Kurogoh botol air mineral di dalam tasku karena tiba-tiba tenggorokanku terasa sangat kering sekalian untuk menetralisir keadaan perut yang seketika merasa tidak enak diakibatkan melewatkan sarapan tadi dan untuk sekarang ini aku butuh permen karet untuk dikunyah dari kantung celana jinsku. Lumayan, terasa ringan sekarang. Trrrrt..trrrt, getar HPku yang kuletakkan di saku belakang menggelitik minta perhatian. SMS dari Yuki, dia ingin pinjam buku Psikologi Sosial-ku yang pernah kutunjukkan untuk bahan proposalnya. Hufhh, proposal...sesuatu yang sering kutampik keluar dalam pikiranku setahun lalu, sebulan lalu, sehari lalu, sekarang karena tak kunjung selesainya mata kuliah yang kuambil karena faktor internal yang cukup irasional-Well, setidaknya untukku-. HP-ku kembali bergetar, panggilan masuk dengan nama Yuki tertulis disana.
~Dy, kok sms-nya nggak dibalas? Gimana sih loe!~ semburnya.
“soriii, gitu aja kok marah...lagi dimana? Kebetulan bukunya kubawa jadi datang aja ke bagian administrasi” ucapku sambil mengeluarkan buku psikologi itu dari tas. Umph... rupanya dia lagi uring-uringan karena landasan teorinya belum lengkap dan semenit lagi dia akan kemari.
“Masih disini Dy? Kebetulan, temenin aku yah?” pintanya karena pegawai bidang administrasi yang berurusan dengannya belum ada. Kusanggupi karena tak ada yang paling kuharapkan dari ini...duduk bersamanya yang selalu kuanggap sebagai adik angkatku walaupun kami seumuran. Yuki datang beberapa saat kemudian dengan suara rengekan, ciri khasnya yang belum hilang-hilang sampai sekarang. Menyapa Anthya sebentar kemudian menuntut janjiku padanya di telpon tadi. “Iya..iya, ini bukunya kalo mau teori tingkah laku yang cocok ada di halaman yang kutandai..” jelasku panjang lebar. “Makacih, Diddy baik deh!!” gemasnya sambil mengacak rambutku. “Iyaa..kembali” seruku sambil menyisir rambutku dengan jari. Hujan turun sesaat kemudian, membasahi tanah, rumput dan menggenangi sejumlah sampah yang teronggok di dasar lubang tempat pembuangan.
xxx
Jumat, 03:00 PM, hujan tak kunjung berhenti seakan ingin menawarkan segala perasaan minor dalam diriku.....
Derai hujan riuh rendah memainkan simponi tanpa tema, jarum-jarum semunya manghantam, menghujam pucuk dedauan yang masih hijau untuk tunduk. Beberapa ranting daun melambai tak tentu arah, susah payah menghindari desakan H2O + garam yang terkucur dari rangkaian atap gedung. Aku duduk seenaknya pada sebuah kursi di ruangan Teater yang sepi pada jam-jam begini. Sedang apa aku disini? menyepi...yup, dari kehiruk-pikukan manusia yang lalu-lalang melintas entah di depan mata atau dalam pikiran. Dengan ditemani sebuah notebook aku menghabiskan waktuku dengan menulis sesuatu yang masih kurang bisa disebut dan dikategorikan sebagai cerpen. Waktupun berlalu dengan pasti dan rahasia, sekarang aku harus kembali ke realita dunia dan hidup sebagai salah satu anak manusia yang dilahirkan untuk melakukan suatu perubahan dalam hidupnya. Hujan sudah mulai pergi setelah puas menyapa bumi dan menundukkan beberapa gerombolan semak hijau hingga lunglai. Kujejakkan kakiku ke aspal yang sudah diubah oleh cuaca menjadi tak rata dan membentuk lengkungan-lengkungan kecil yang kini menampung air hujan yang membecekkan sepatuku. Tak ada yang lebih membantuku menaikkan mood selain jalan kaki sambil menghirup aroma alam sehabis hujan
xxx
Sabtu, 4:00 PM, mataku tak kunjung terpejam...
SIAL! Lagi-lagi aku terlibat adu mulut dengan orangtuaku... tapi, aku tak sengaja karena merasa dipojokkan oleh persepsi minus tentang diriku yang tak pernah dianggap cukup jadi makhluk sosial karena tak sebetikpun pikiranku untuk menjadi bagian dari komunitas. Hfhhhhhhh.....sampai kapan aku begini yah? Tak adakah jalan yang bisa membuatku keluar dari komunitas dogmatis ini? pernah kupikirkan sejumlah cara, namun pikiranku menjadi suatu hal yang nonsens karena diriku lebih dominan untuk berpikir sambil berimajinasi daripada berpikir dengan serius tanpa imajinasi. Damn it!
xxx
Minggu, 5:00 PM, disebuah Pasar swalayan dengan pikiran yang menerawang....
Tatapan kosong menutup hari ini, entah apa arti tatapan itu. Aku tidak tahu menahu tentang itu. Yang kupikirkan adalah bagaimana aku bisa mengatasi kebosanan ini...yah, bisa saja aku teriak-teriak kayak orang gila! Tapi itu hanya menguras tenagaku saja dan aku tak mau hal yang nonsens bisa mencairkan bete. Pertama kali aku melihat padangan kosong itu disebuah pasar swalayan yang penuh sesak akan orang. Waktu itu aku lagi bingung mau beli apa. Mungkin beli sesuatu yang nggak ngebete-in. Buku misalnya, tapi mana ada buku di pasar swalayan? Adanya di toko buku! Ini yang bikin bete karena nggak ada perkataanku yang nonsens. Kembali ke pandangan kosong tadi. Itu berasal dari seorang gadis berambut cepak yang memakai sweater biru yang nggak begitu menarik dibicarakan dengan celana jeans yang lagi-lagi nggak mood untuk dibicarakan. Dia sedang mengambil sebungkus snack dari rak jual sedangkan aku..lagi mikir apa aku beli minuman ringan saja yah? Bisa ya bisa tidak..Aku hanya bisa diam dan terus memperhatikan pandangan kosong gadis itu untuk melihat apa yang dipikirkan gadis itu sehingga pandangannya kosong karena orang bilang mata adalah jendela jiwa. apakah jiwanya sekosong pandangannya? Tidak juga, dibalik jendela jiwanya kutemukan seditik cahaya pengharap yang redup hampir mati. ‘ada apa dengan kamu.. ada apa dengan pandangan itu?’ Dia bisu, cuek, dan terus mencari barang belanjaan sedang aku termangu. dia tak dengar karena aku hanya berbisik pada angin. Akhirnya kuputuskan beli minuman soda dan butter cookies kesukaanku kemudian beranjak ke kasir untuk membayar. Antriannya sarat akan kereta-kereta belanjaan yang sarat akan barang. Ada yang sampai dua kereta saking banyaknya, Seorang gadis manis yang memakai kaos tanpa lengan yang antri di depanku menoleh karena tanpa sengaja soda dinginku menyentuh lengannya. “maaf~~” pintaku sekenanya. Diapun mengulas senyum tulus, akupun ikutan tersenyum. Bugh! Sebuah tumbukan pelan berasal dari belakang membuyarkan senyumku, “maaf..”, sebuah suara, begitu bening, memaksaku membalikkan badan. Ternyata dia yang tadinya begitu jauh kini berada di belakangku. Akhirnya kedua barang itu sampai di kasir, aku membayarnya dan bergegas keluar dari swalayan, mencegat mikrolet, lalu hari itupun berlalu...
_END_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar