Kamis, 19 Desember 2013

Bananaluva : The Story

FIRST PEEL..

Hidup punya cara yang unik untuk menguji mental manusia yang menjalaninya, ujian yang muncul juga tidak bisa dibilang susah ataupun semudah membalikkan telapak tangan. seperti ujian untuk bersosialisasi bagi Ukie kecil dalam masyarakat yang menganggap derajat seseorang ditentukan oleh apa yang melekat pada diri mereka; mulai dari nama, pakaian, dimana biasanya makan dan belanja sampai pada hal yang remeh seperti makanan kesukaan yang termasuk didalamnya buah. malang bagi si Ukie kecil dia sangat suka pada buah pisang yang notabene dianggap buah 'kampungan' meskipun sebenarnya salah satu buah eksotis dan sebelumnya menjadi salah satu produk pendatang selain keju, roti dan teh yang dibawa penjajah bangsa eropa juga jepang. asal mula kesukaan si ukie kecil pada pada pisang ialah pada saat bayi dia lebih sering diasupi pisang dibanding buah lainnya yang pada masa itu asing dan mahal untuk dibeli sebagai pengganti susu formula kelas dua atau tiga yang rasanya tidak terlalu cocok di perut bayi Ukie.
Pisang-jawaban spontan Ukie kecil pada guru SD-nya ketika ditanya tentang buah favoritnya memulai kisah ini;jawaban yang mengundang gelak tawa seisi kelas karena buah tersebut sangat kental diasosiasikan dengan binatang yang menjadi asal-usul manusia menurut teori evolusi Darwin. " pisang kan makanannya monyet.." ledek Ivan yang memilih Apel sebagai buah favoritnya di sela riuh tawa itu. Ukie kecil menatap Ivan dengan tangan mengepal menahan marah, kalau saja ini bukan hari pertamanya di sekolah baru sudah dari tadi kepalan tangannya ini mememberi pelajaran 'budi pekerti' pada anak asal nyablak itu.
Jadi siswa pindahan bukanlah sesuatu yang menyenangkan bagi Ukie, ini ketiga kalinya dia pindah sekolah, kesekian kalinya ditanya buah favoritnya, dan kesekian kalinya pun diejek karenanya. "memang apa salahnya menyukai pisang?" gumamnya dalam hati tiap kali ditertawakan seperti ini sambil menunduk diam. Sejam kemudian bel penanda istirahat berbunyi dan hamburan anak-anak berseragam putih merah dari meja mungilnya mulai menyesaki pintu kelas, berebutan ingin segera keluar bermain menyisakan Ukie kecil yang tak punya sedikitpun minat untuk keluar kelas dan memilih untuk melakukan kegiatan yang paling disukainya tanpa perlu banyak gerak yaitu menggambar dan ruang kelas yang kosong merupakan momen tepat untuk mengeluarkan ide dan imajinasinya keatas kertas tanpa gangguan.
"Kamu  tidak keluar bermain?" tanya sang guru yang sedang mempersiapkan mata ajaran pada jam berikut. Gelengan sopan Ukie menjawab pertanyaan tersebut kemudian meneruskan goresan pensil 2B-nya diatas selembar kertas yang sesaat lalu dipersiapkannya sampai dering bel tanda istirahat usai tiba.                  
Perilaku Ukie yang enggan beranjak dari tempat duduknya kala istirahat tentu saja tak luput dari praduga pembuat panas hati dan kuping, namun semuanya tak berlangsung lama karena tak terlalu ditanggapi oleh sang empunya sebab tujuan utama dia datang ke sekolah ialah untuk belajar bukan untuk mengakrabkan diri  demi meniadakan pandangan bahwa 'anak luar daerah tidak diterima disini'. sikap yang diambilnya ini berdasarkan firasat yang bertambah prosentasi ketepatannya tiap kali dia pindah sekolah akibat alasan yang tak pernah diketahuinya.  
Pendulum waktu berayun cepat kedepan membawa Ukie ke salah satu fase kehidupan manusia yang katanya paling indah, masa remaja yang kental akan pemberontakan dan pencarian jati diri.

"Ntar itu buat aku yah Ki??" pinta sebuah suara dari balik punggung Ukie mengusik coretan pensil mekaniknya. "kalo loe diem duduk manis ntar aku pertimbangkan.." kata Ukie tanpa menoleh karena mengenal persis pemilik suara itu, namanya Riane dan dia satu-satunya cewek yang cukup pede bilang kalau suatu saat gambar-gambar Ukie akan berada di setiap galeri eropa, makanya sejak dini dia mengumpulkan gambar cakaran asal Ukie beserta tanda tangannya untuk dikoleksi. tergelak, itulah reaksi paling spontan yang hadir di wajah Ukie saat Riane mengutarakan keyakinannya akan masa depan gambar Ukie tersebut. "Amin kek, malah ketawa..doa nih!" keplak Riane gemas."Iyaaaah, aminnn" ringis Ukie sambil menyerahkan lembar gambar yang tadi dikerjakannya.