Kamis, 24 Februari 2011

Reservoir

NOCTURNO OMNIVORA

(Suatu Malam Di Kota Cahaya)

Kota cahaya, aku menyukai kehidupan malamnya sebesar aku membencinya. Asap bekas pembakaran membumbung naik disela gedung cikal bakal Mall nanti. Alunan musik malam menghentak tiap nadi manusia dan mentransformasikan mereka sebagai para nocturno , sang pelahap malam. Angin tiba-tiba berhenti dan membuat pepohonan enggan melambai atau sekedar berdesau gemerisik, mungkin sudah habis ditelan mereka-para nocturno- yang merupakan omnivora, penyuka segala dan pencoba segala. Ada perasaan kosong yang melayang-layang di udara, aku bisa melihatnya lagi semilir melewati gerombolan mereka yang sedapat mungkin dihindari karena hanya menghadirkan kehampaan, sakit, putus asa. “Lagi memikirkan apa?” sapa seseorang yang menyeruak keluar dari tirai cahaya dibelakangku. “Sesuatu...” kemikku tanpa memperlihatkan keengganan untuk menjawab pertanyaan yang tak perlu ditanya, kemudian kembali menatapi kota cahaya dengan setumpuk pasir masa teronggok di pelupuk mata yang kian lama makin berat, memaksa untuk menutup. Sedapat mungkin kunyalangkan kedua pupilku, aku harus tetap terjaga, tetap menatap mengawas komunitas nocturno, jauh dibawah sana, disetiap sudut sendi gedung yang menghitam menuding langit malam dari ketinggian sampai caya mentari pagi menghangati bumi dengan harapan baru dan semangat baru. Sedangkan diriku akan menghilang bersama kabut dingin yang merendah, tanpa ada yang menyadari, tanpa ada yang perduli. Karena aku hanyalah pengawas, pengamat, pelihat. Tak perlu simpati, perhatian, atau eksistensi yang justru menjadi penghalang, beban. Aku bisa datang bersama angin berhembus, gemerisik air beriak, atau arakan awan. Bebas dan lepas tanpa kungkungan, tanpa usia dan status manusiawi lainnya yang membekap. Aku hanyalah peri yang tak memiliki sinar gemerlap terlingkup, adalah bayangan setiap benda yang bersinar.

HOMINIS FRACTURA

(Episode Jiwa Yang Rapuh)

Malam makin larut, kota cahaya makin mengiluminasi dan mendominasi memecah kepekatan malam, menyikut pergi gemintang yang lesu berkelip. Disini, diatas gedung apartemen bertingkat sepuluh, kuputuskan untuk mengakhiri hidupku dengan cara meloncat dari gedung. Kuedarkan pandanganku untuk terakhir kalinya, bulan pucat menggantung malas di angkasa yang makin pekat tanpa bintang-bintang menemani. Di bawah sana hiruk-pikuk kendaraan malam sibuk membelah kabut yang kian menebal tiap tarikan nafas, malam yang indah untuk mati..

Debu dari sepatu sneaker-ku jatuh dengan gerak lambat namun pasti, tertarik gravitasi bumi yang kian mengecil tiap detik, tak kudengar bunyi jatuhnya jauh dibawah sana, mungkin ditelan oleh hiruk-pikuk para nokturno omnivora. Pada waktunya, kuserahkan segalanya kepada angin malam yang membawa tubuh kasarku menukik menembus tirai udara yang tadinya statis. Derunya menusuk gendang telingaku sampai pekak.

Bulan makin pucat tanpa bintang menemani ketika kupandangi terakhir kali, sebelum terhujam dipeluk bumi dengan sensasi temporer tentang kesakitan dan panik...

Sebelum gemeretak belulang memainkan simfoni terakhir sebuah funeral yang terdengar pahit oleh diriku karena tak mungkin aku bisa mendapat tempatku diatas sana, tempat dimana kerlip dian menyambut siapa saja yang kembali kelangit...

Dan perjalanku pun terhenti, namun dunia terus berputar dengan tangis-tawa datang silih berganti. Walau tak lagi menapaki bumi aku terus disini, di kota cahaya, di gedung bertingkat sepuluh ini, menunggu seseorang untuk dapat menemaniku dalam kesendirian kekal ini.

MAGHRIB

(Ode Untuk Makhluk Tak Sempurna )

Semburat kemerahan terbentang di ufuk barat sepeninggal surya yang kini hanya tinggal setitik cahaya keemasan yang terpantul pada air asin lautan. Maghrib kembali turun ke kota cahaya, ditengah hingar bingar kota ini maghrib berlalu seperti angin hangat yang berdesir disela-sela tubuh tergesa manusia malam. Bahkan adzan pemanggil menuju kemenangan dengan mudah saja ditenggelamkan oleh suara kerumunan manusia dan makin hilang ditelan speaker-speaker mall dan angkot yang lalu-lalang. Adakah kemungkinan seorang dari kerumunan itu, hingar-bingar itu mendengar panggilan itu? Tak semua, hanya seorang pria ceking berjalan tak tentu arah yang kecewa pada-Nya, seorang wanita renta penjual kelontongan yang tulus memenuhi panggilan-Nya, dan seorang Watunas yang merasa sangat kotor dihadapan-Nya. Kenapa hanya orang-orang ini? mana para mubaligh lainnya, yang merasa diri mereka mulia? Apakah mereka sudah sedemikian mulianya hingga tak sanggup mendengar panggilan Adzan dari tukang koran dan dari mesjid yang hanya dilengkapi pengeras seadanya dan sudah bobrok?

CERITA TENTANG SESUATU

(Sebuah Catatan Untuk Di Ingat )

Antara aku, dinding beku, dan libido...

Ada mimpi yang masih klise tentang sesuatu, entah apa itu, aku tidak tahu. Alam sadarku terus menekannya. Bahkan aku terlalu takut untuk menguak atau sekedar mengintip. Walau hanya bias, serpihan gambaran kusut itu adalah keseharianku yang terekam dalam benak yang tercampur dengan ilusi dan ekspektasi yang maya, tak berwujud, dan tak terlahirkan.

SESAL

(Salah satu Bagian Hilang Di Kehidupan ini)

Tik tok, derak jam dinding penuhi ruangan tidur berdebu dengan seprei melusuh. Mataku tak kunjung terpejam, kafein yang kutenggak memaksa otakku bekerja dalam kelelahan teramat sangat...

Di layar monitor komputer butut ada sederet kalimat, sepenggal cerita terpampang, terketik dalam MS WORD yang jauh dari standart dengan deru printer yang seadanya mencetak. Deadline sering nampak berputar-putar mempermainkan penglihatanku yang merabun.

Hufhh.. mestinya tak kuambil bagian kehidupan ini, kalau saja aku boleh kembali, aku akan memilih untuk ikut kerja sebagai seorang penerjemah! Bukan sebagai kuli disket tabloid murahan yang hanya tonjolkan sensualitas sepotong tubuh wanita jalang! Aku pasti kerja di kedutaan asing, tunggu selama setahun...kemudian, siapa tahu di bom bunuh diri lalu mati tercerai-berai. AH! Mungkin itu cukup berharga bagiku daripada mati sakit jantung ketika senggama dengan pelacur yang mabuk akan uang cekak!

TRIBUTE TO TODAY’S IDEA

(Teruntuk Ide Hari Ini)

Hari ini aku tak bisa menulis, Writer’s Gap mulai menyerang isi otakku dan mendistorsi ide yang semestinya kulahirkan sedari tadi. Didepanku hanya sejumlah kata-kata yang sulit kurangkai untuk menjadi suatu kalimat yang bisa membuka kebuntuan ini. Kata-kata itu tak beraturan, tak behubungan, tak membentuk suatu kalimat. Kantuk yang datang sesaat berikutnya sukses membuatku tenggelam dalam kebuntuan abadi. Aku akhirnya menyerah...menyerah dan menutup notebook, menyerah dan membiarkan ide-ide itu meraung pergi dan menghilang dalam benak, menyerah dan membiarkan diriku terlelap, terhempas kedalam tanah impian yang menjadi kuburan tak tergali, tempat kembali ide-ide tadi. Aku tahu diriku pantas dibenci karena telah membunuh mereka. ‘Maaf’ hanya itu yang bisa kukatakan ketika aku sempatkan diri tuk ziarahi mereka sambil membawa lentera harapan tentang kesempatan mereka akan dibangkitkan kembali dalam bentuk yang lebih baik lagi, anggap saja ini adalah wujud apologiku karena telah membiarkan mereka mati.

Merekapun kemudian bangkit dan mulai mengerubungiku dengan tepukan terima kasih, guncangan bersahabat, dan panggilan untuk kembali ke alam sadar, dunia nyata. Aku akhirnya sadar dan ide-ide itu sudah bergentayangan disekitarku kemudian merasukiku dengan cepat dan seketika membawaku pada kondisi trance yang membuatku tak henti-hentinya menuliskan sederet kalimat kemudian menjadi separagraf, kemudian menjadi sebuah tulisan pada hari ini.

DALAM KETERLELAPAN SEMU

(Selamat datang di DUNIA-ku)

Diriku tak kunjung larut dalam lelap walau aku sedari tadi mengatupkan kedua mata. Serpihan-serpihan debat selalu saja mengoyak dinding mimpi dan aku merasa kesal karenanya. Ini adalah hari dimana aku meletakkan segala perasaanku di tempat yang paling dalam dan terlindung dari segala cerca yang menikam dari belakang, dari segala persepsi dan opini komunitas tentang diriku dan melepas topeng yang melekat erat di wajahku ketika menemui peradaban kota cahaya, tempat aku menuntut ilmu.

MALAM DI KOTA OBSCURI

(Ode Sang Angin Di Kota Obscuri)

Malam di kota obscuri, Luna yang kian memucat bersinar bersinar anggun dilangit malam menyusuri dan menyingkapi siluet kota yang terselimut kegelapan abadi nan damai. Serenade binatang malam menderikkan sesuatu yang disebut kedatangan, kepudaran, kehilangan dan pergantian setiap makhluk yang tercipta, terlahirkan. Angin berdesir pelan, nyaris berbisik! Seakan tak ingin semesta tahu bahwa dia ada dan hadir malam ini. Ada apa sebenarnya? Apa hari ini dia sedang berduka sedih karena tak ada yang mengerti dia? NONSENS! Dia sudah punya lelaki itu, lelaki tanpa pamrih yang mendengar dengusannya, desirannya, hembusannya, bahkan amukannya! Apa yang salah kali ini?

Gerombolan pepohonan berkresek meliuk-liukkan dahan, ranting, dan dedaunannya untuk mencoba menghibur sang Angin. Berhasil! Hembusan sang Angin kembali hadir memenuhi alam sekitar tuk membantu sang awan mengarungi langit malam, merebahkan padang ilalang yang tak kunjung terkulai lelap, dan mengantar sang Luna melintasi lengkungan rotasinya pada malam ini. Kemudian, setelah semuanya tertidur lelap dalam gelembung mimpi. Tinggallah dia sendiri berdesir lalu tanpa teman. Lama sudah dia berdesir melewati lekuk gedung menghitam legam terselimut gelap, pepohonan, dan segala sesuatu yang dilewatinya hingga pendaran sinar lampu lentera dari jendela terbuka di suatu gubuk ditengah padang ilalang mengusikknya. Ketika didekati, “Jangan Dipadamkan...” kata sebuah suara, menyeruak keluar dari balik jendela itu mendahului sebentuk tubuh yang kemudian muncul tersingkap dari remang cahaya lentera. Suara itu milik lelaki itu, sosok itu adalah lelaki itu. Dia tak kunjung bisa memejamkan matanya karena galau yang dihadapinya. Angin kemudian sumringah dan menghembuskan udara hangat disekitar lelaki itu, menyelimutinya dengan perasaan terlindung nan damai.

TRIBUTE TO NEWCOMING MOTHER

(Teruntuk Temanku Indry)

Tangis kebahagiaan menyelimuti ruang bersalin, satu lagi malaikat terlahir ke bumi dalam wujud bayi mungil laki-laki bernama Rein. Ibu dari anak ini tergolek lemah di pembaringan setelah bergulat antara hidup dan mati ditemani oleh sang suami yang setia menemaninya sedari malam ketika masih pekat. Aku hanya bisa diam dan mengamati fenomena ini, karena aku, sang Ether hadir tanpa diundang dan berlalu tanpa ada yang lihat. Aku hanya menemani sang pemuda ceking teman sang angin, kembaranku ke sebuah rumah sakit yang masih dalam tahap restorasi namun cukup bergengsi di kota cahaya ini bersama seorang teman wanitanya. pemuda ceking itu tak bisa berkata banyak dalam pikirannya disamping ketidaksukaannya terhadap aroma Ruang Kesadaran yang mengingatkannya pada almarhum neneknya semasa beliau dirawat di IRD, betapa jengahnya dia melihat tindak-tanduk perawat yang semestinya mencerminkan tugas yang diembannya, dan betapa kerdilnya dia dalam hal berterima kasih pada orangtua yang telah melahirkannya dan membesarkannya. Bisikan demi bisikan sebagai media komunikasi antar pengunjung dan pasien sesekali terdengar di ruangan ini sampai tiba saatnya dipindahkan ke Sal ibu melahirkan. Seiring malam menyelimut, kata pamit terucap dari mulut sang pria ceking dan langkah-langkah sendal terseret keluar dari sal terdengar kemudian.

HUJAN HARI INI

(Ode Untuk Sesuatu yang Menyesakkan Hati)

Ada aura yang begitu pekat akan perasaan sedih, bebal, sepi, marah, rajuk, ragu, rapuh, luka, dan kutuk terakumulasi lalu membumbung naik menembus plafon ruangan yang memuai karena panas dan kemudian bersatu dengan uap udara cikal bakal hujan hari ini. apa salah hari ini mendapatkan hal ini? Tak ada! hanya saja seseorang yang menjadi saman hal ini tak tahu harus dikemanakan perasaan tersebut. Tak mudah baginya untuk mengekspresikannya secara verbal karena dia tak pandai berucap dan penyimpan akut. “Paling tidak aku bisa membagi masalahku dengan mereka yang serupa denganku atau yang sedang dalam masalah sepertiku” itulah kata-kata egostis yang diucapkan seseorang itu, seorang anak manusia yang terlihat tegar namun rapuh jiwanya.

ME & MY MINERAL WATER BOTTLE

(Ode Untuk Sesuatu yang Pointless)

Desau angin...sebuah percakapan...kicau burung...deru knalpot motor...dentuman musik cadas...suara sesuatu yang diseret...langkah kaki...talu orang memalu...alunan musik lembut...suara menyapu...suara orang menyapa...suara kursi diseret...suara air diteguk...suara dengusan nafas...degup jantung...jerit HP...derik botol plastik digenggam...sebuah lengosan...sebuah pemikiran...sebuah kekecewaan...sebuah senyuman...sebuah perasaan malu...sebuah pointless talk...sebuah akhir dari setengah hari renungan dari seorang anak manusia...sebuah bunyi hentakan sepatu...sebuah kepulangan.

(Dinarasikan oleh diriku dan botol mineralku)

BOTOL MINERAL

(Ode Untuk Sesuatu yang Pointless)

Srekk...

prekk...

glukglukglukglukglukgluk

pling....

gluykgluykgluykgluyk

fliiing...

pluk..pluk..plukkkk

LALAT DAN KACA BURAM

(Ode Untuk Dunia Yang Lebih Baik)

Seekor lalat hinggap kaca buram disebuah ruangan antah berantah. Berdengung hebat dan menghantamkan diri dengan gigih demi satu harapan, dunia dibalik keburaman kaca yang lebih baik dari tempatnya berdengung-dunia yang t’lah terdistorsi oleh polusi.

NEW YEAR’S EVESOMNIA

(Ode Untuk Tahun Ini?)

Sebuah Jendela.....

Dibalik jendela rumah kontrakan kutatapi jendela-jendela diluar sana, jendela yang penuh cinta kasih dan rasa ingin berbagi dua insan yang membuat dadaku sesak tertusuk iri dan sepi.

Apa hakku melarang mereka untuk tidak melakukan hal itu didepanku? Itu jendela mereka, itu kehidupan mereka dan peranku disini hanya pengamat, pelihat. Tidak kurang ataupun lebih.

Sebuah Trotoar.....

Di trotoar yang dingin terbeku oleh malam kutapaki hidupku tanpa teman, hari ini. lalu-lalang tubuh tergesa melepaskan panas tubuh penolak suhu minus. Kepulan uap hangat menyeruak ketika helaan nafas panjang terhembus dari rongga mulut, menyegarkan otak yang sesaat bebal dan mencoba berpikir positif tentang esensi kesendirianku. Aku tak sendiri, ternyata ada rembulan yang mengarungi langit sukarela temani diriku, ada lampu jalan yang tanpa pamrih sinari setiap tapakan kakiku, ada eter yang selalu selimuti diriku walau membuatku gerah dan kedinginan juga terkadang membuatku hangat dan sejuk.

Sebuah Nafsu......

Tatapan kami bersatu dalam horison garis maya, tak kulihat satupun keraguan dan penyesalan saat kedua tubuh kami larut dalam gelombang nafsu beralasan cinta. Ya, kini kami berdua sedang mereguk surga dunia yang entah kapan ‘kan berubah neraka.

Sebuah Hingar-Bingar......

Denting gelas dan dentuman musik selebrasi tiadak akhir memekak setiap inci ruangan. Terkapar dan teler adalah ciri khas hedonis, sebuah homogenitas tanpa cela. Validasi dan justifikasi para pelahap malam demi pencarian identitas diri.

LUMOS PARADOXIA

(Kota Temaram)

Obscuri, bayangan kota cahaya yang menawarkan solusi melalui introspeksi. Tempat yang yang menawarkan sepotong tentram, aman, teduh, sunyi. Bagian temaram, redup dari selebrasi tiada akhir kota cahaya.

Angkasa petang dipenuhi sayap-sayap malam yang mulai mengepak ribut, menyambut selimut malam yang terhampar setelah lembayung mentari puas menyapuh awan dan langit. Menyisakan cahaya minis yang membuat makhluk sepertiku harus menyalangkan pupil dan menyipitkan mata untuk beradaptasi.

Kenapa aku disini? pertanyaan yang bagus, karena seperti makhluk lainnya, ada saatnya kita perlu sendiri untuk bisa mandiri, tak merasa sepi walau sendiri dan memulihkan diri dari fatamorgana yang disebut MODERNITAS.

Disini, ditempat ini, para lumina tercipta dan hidup tuk jadi pendar-pendar ruyup yang seadanya memandu siapapun yang sesat jalan.

BASTARD

(Catatan Harian Seorang Bangsat)

“Ada dimana kau BANGSAT!”

“SERAHKAN ITU BANGSAT!!!”

“Sini kau BANGSAT!”

Hi, aku tak perlu memperkenalkan diri pada kalian karena pasti sudah menduga siapa namaku....Ya benar, namaku BANGSAT. Nama yang mengandung cacian dan kehinaan yang abadi ketika terucap, pandangan sinis dan menghujam dada. Satrio, itulah namaku yang sebenarnya dan bukanlah sebentuk kata itu, tapi kata itu lebih banyak termuntah keluar dari setiap orang yang kutemui, tapi aku tak menyalahkan mereka karena hanya membeo dari seorang pria kasar, kudisan, berambut masai yang dengan muak kusebut dengan kata ‘AYAH’. Figur yang lebih menginginkanku jadi penjambret, pengedar, dan pembunuh daripada orang baik karena menurutnya ‘pekerjaan’ ini lebih mulia daripada pekerjaan lain. ‘Paling tidak... kita tidak munafik dengan pekerjaan kita.....’ itulah kata terbata yang bisa kukutip darinya waktu itu, waktu dia terkapar bersimbah darah diterjang peluru aparat ketika mencoba kabur dari kejaran sewaktu razia narkotika 2 tahun lalu yang hingga sekarang masih terngiang dalam kepalaku. Usiaku kini sudah 28 tahun dengan tubuh kekar dan codet yang menyerempet mata kanan akibat perebutan wilayah operasi. Aku telah menjelma menjadi sosok yang dulu paling kubenci dan diidamkan ‘AYAH’, ratusan nyawa sudah teregang oleh kedua tangan ini dan kebanyakan dari mereka adalah tikus-tikus got gendut berseragam yang bertopeng hukum. Penjara adalah rumah keduaku dan layaknya rumah, semuanya aku kenal baik, tak jarang aku melakukan ‘tugas’ untuk mereka. entah itu hanya pembersihan biasa atau ‘pembersihan’ khusus. Dibalik semua keperkasaanku ini, diam-diam ada sesuatu yang menelusup masuk kedalam tubuhku, awalnya hanya setitik noda dalam paru-paruku namun tahun-tahun terakhir ini segalanya jadi tak bisa kompromi, aku jadi cepat lelah dan batuk keras, terkadang disertai darah. Setelah beberapa kali mondar-mandir rumah sakit, kuputuskan untuk tidak lagi menghamburkan uangku untuk itu. Hari ini, ketika sedang keliling pasar tiba-tiba pandanganku mengabur lalu jatuh terjerembab tak sadarkan diri. Ketika sadar aku sudah dikerumuni orang-orang dengan wajah yang cemas. Satir, kenapa mereka begitu cemaskan aku? Aku sangat jahat pada mereka sering menghancurkan dagangan kalau lagi kesal ataupun mabuk. “Minum dulu, Bang..” sodor seseorang yang bisa kukenali sebagai mang Ipan, yang dagangannya menjadi ‘langganan’-ku. Teh manis yang disodorkan terasa pahit dalam kerongkongan oleh karena perasaan segan. Sesaat kemudian pandanganku meredup perlahan dan menjadi gelap pekat. Di ujung ajalku sebuah suara berat nan serak memanggilku dengan panggilan yang selama ini kurindu.... “Satrio, kemari Nak?!

MIKAZUKI NO OBORO

(Bulan Sabit Di Kota Temaram)

Sebuah perasaan enggan tiba-tiba saja menggelegak dalam dada dan pikiran buntuku, aku jadi sesosok tubuh yang tanpa jiwa, teronggok begitu saja disegala tempat yang bisa kusinggahi, duduki, dan hinggapi.....

ceracauan perasaan berpendar hebat dalam benak, tak ada yang cukup berarti untuk bisa dipakai buat solusi. Aku hanyalah seorang Wannabe yang mencoba mencari tempat terbaik buat diriku, tempatku merenung dan merenggang nyawa dan untuk sementara ini aku akan menjadi sesuatu yang nyaman bagi diriku, karakter yang berubah-ubah sesuai mood. Aku bisa saja jadi seorang Daywalker ketika terik panas memicu adrenalin, Nightholic ketika kegelapan menjadi satu-satunya teman juga selimut. Rainfreak ketika curahan air dari langit melagukan keprihatinan dan pelegaan akan segala masalah.

I’M NOT A SAINT!

(A Resist Note)

Aku bukan orang suci, pendosa tapi tahu diri....

Bisa bedakan mana yang benar dan salah. Tapi kenapa aku menyimpang dari kebenaran? Karena kesalahan adalah awal dan kebenaran adalah hasil. Manusia yang menjunjung kebenaran pasti pernah menyimpang darinya.

Aku bukan orang suci, bukan malaikat walau bersayap.....

Sayapku berwarna dan bukan putih. Tidak bisa mengepak terbang walau bisa mengepak.

Aku bukan orang suci, hanyalah seorang haibane dengan sayap dan korin diatas kepalaku...

Terkurung dalam sebuah lingkaran tembok kokoh bercahaya dan menunggu dan menunggu saat itu tiba, saat dimana sebuah sinar membelah langit menyelimuti tubuh kemudian aku akan tersapih pergi dari kungkungan untuk hadapi peradilan akhir.

Haibane : secara harafiah berarti ‘sayap kelabu’ diambil dari bahasa jepang

Korin : Sebutan orang jepang untuk lingkaran suci (Halo)

CEKINGPHOBIA

(Ceking Itu Tidak Enak)

Menjadi kurus adalah momok bagi dia, paling tidak menurut itu dia karena diantara anak seusianya dia paling ceking. Serangkaian diet sudah dia jalani untuk sekedar bertambah beberapa kilogram saja, tapi semua itu gagal. Minder adalah sikap akhir yang dia tunjukkan dan menarik diri dari segala bentuk sosialisasi.

MALAIKAT TAK BERSAYAP

(Zero Supremacy)

Tak selamanya malaikat dinilai dari sayap dan lingkaran halo yang mengapung diatas kepala mereka. Kami adalah malaikat yang tak bersayap yang mengulurkan tangan tanpa pamrih. Kami tidak dihukum karena membangkang, tidak mencabuti setiap helai bulu untuk menebus dosa manusia, dan tidak sedang dalam pengasingan. Kami sudah cukup kenyang dengan superioritas yang dianugerahkan pada kaum kami karena itu kami menyimpannya. Kami sadar bahwa setiap cahaya pasti ada bayangan dan bayangan itulah titik hitam kami yang menyebar secara rahasia dan membuat kaum seperti kami mati atau membelot dari cahaya yang kami bawa. Kami adalah malaikat tak bersayap, menolong walau dicecar, menerima setiap serapahan terasuk dalam sambitan batu, dikencingi dan diludahi masa. Kami tetap saja malaikat tak bersayap tak lebih tak kurang. Tak bisa mati, tak bisa punah, hanya redup ketika hari memerlukan dan bersinar cemerlang ketika waktu membutuhkan. Kini manusia telah membaca tentang malaikat tak bersayap, kini manusia sadar bahwa merekapun bisa jadi seperti kami dan kamipun bisa seperti mereka.

GROUNDED

(Beri Aku Sayap)

Beri aku sayap maka aku bisa mengepak pergi dari sini, tembok kokoh tanpa celah tanpa pintu. Lingkupan beton ini mengungkung raga bebalkan pikiran. Terasing dalam ramai hingar-bingar ketika sepi. Ide dan pemikiran terus mengalir dari segala arah, terjejal masuk kedalam benak. Beberapa dari mereka menjadi janin yang tak kunjung terlahirkan.

Beri aku sayap karena aku t’lah membayar untuk itu...

Masih tersimpan rapi dalam setiap jengkal tubuh sakitnya sayapku tercerabut paksa ketika aku harus jadi manusia untuk mengecap ‘perih’, ‘sepi’, ‘bahagia’, dan ‘sakit’!

Hal-hal yang tak bisa dimiliki oleh makhluk cahaya. hukuman ini kuterima sebagai penebus kesalahan karena telah menyimpang jauh dari takdirku sebagai pembawa pesan, utusan Sang Cahaya.

A STORY ABOUT THEM

(Nocturna Omnivora Sequel)

Kota cahaya..........

Malam hari.............

Ditengah kemegahan mall, julangan hotel bintang lima, dan dentuman keras music box angkot. Sebuah cerita lahir lagi menyusul pendahulunya, cerita tentang kerdilnya manusia-manusia malam bernama Nocturna Omnivora yang bermutasi ketika malam meniadakan limpahan sinar mentari. Dengan cepat mereka menyebar dan menjangkiti tiap-tiap manusia yang iseng mencari udara segar pengganti udara cekak yang terhirup siang tadi. Malam adalah paradoks, malam adalah infinitas tak berujung dimana kelam bisa saja tiada akhir jika mentari enggan menyinari. Nocturna Omnivora adalah makhluk tiga dimensi yang terperangkap dalam kehidupan dua dimensi tanpa kesadaran bahwa cepat atau lambat mereka akan dan harus kembali ke asal mereka yang tiga dimensi itu.

MAGENTA

(Welcome To The Mad City)

Kota dibawah langit berbintang lampu mercury, kota dimana keajaiban adalah tabu, dan anugerah merupakan kutukan. Di kota inilah aku dilahirkan, dan dipuja-kutuk. Anugerah yang terlahir bersama membuatku seperti zombie yang tak bisa merasa sakit, penderita kusta karena terus dijauhi, tidak waras karena sering histeris, menjadi komoditi eksploitasi, pembawa sial karena dimanapun aku berada karena (kebetulan) berhadapan dengan kematian.

REFLEKSI

(tru story?)

Nyata, kali ini kisah nyata tentang seseorang yang benar-benar ada dan menuliskan cerita ini. mudah-mudahan cerita ini bisa menjual dan mendapat atensi dari semua orang yang membacanya. Kehidupan cintanya tak sebanyak bahkan tak se-happy ending seperti cerpen yang suka dibuatnya, banyak orang mengira bahwa dia bisa ditebak karena polos tapi itu sama sekali salah karena multiple characters yang sering terganti secara otomatis untuk beradaptasi dengan setiap keadaan, himpitan demi himpitan yang datang tak selalu diterimanya dengan tegar karena terkadang manusia akan jatuh dan belajar bangkit berdasarkan pengalamannya.

Minder, adalah satu-satunya gap atau penghalang yang menyulitkan dia untuk terus bisa menegakkan kepalanya. Everybody change, even a nerd one... ya, kini hal tersebut sudah sedikit melunak karena lambat laun dia bisa menerima dirinya APA adanya bahkan mencoba menularkannya pada orang lain seperti virus flu burung atau influenza. Kini dia dianggap cukup supel oleh masyarakat akademisnya dan tidak bermasyarakat bagi sebagian lingkungan tempat tinggalnya.

I am what I am, I do what I want... banyak orang yang menanggap dia adalah indivualis dan egosentris karena lebih memilih meng-exile-kan diri dibandingan blend in. Padahal jika saja mereka mau mengerti maka mereka akan melihat sisi baik dari dirinya, padahal kalau saja mereka ingin minta bantuannya maka sedapat mungkin mereka menerima bantuan darinya.

Well, that’s all....cerita tentang seseorang yang dengan nyatanya menjadi bagian dari masyarakat pluralis yang belum mampu menerima segala sesuatu yang sedikit menyimpang dari jalurnya.

KETIKA SAAT ITU TIBA

(Ode Sehelai Daun Renta)

Hari ini matahari bersinar terik, sumringah menyambut sang musim panas yang dicintainya, derai tawanya terbias disela-sela dedaunan pohon rambutan yang rapuh usia,. Disalah satu cabang, sehelai daun renta sedang menenangkan tangisan tunas yang cengeng karena takut layu oleh pengapnya udara. Angin kemudian datang menghampiri daun renta itu untuk mengugurkannya. ‘Maaf, aku belum bisa tinggalkan cabang ini karena tunas masih kecil’ apologinya pada angin dan tanpa sadar menunjukkan gurat kecoklatannya yang nampak begitu agung. Angin mahfum dengan keadaan daun renta, terkadang dia tak ingin menggugurkan dedaunan tapi sudah fitrahnya dia bertiup dan melewati setiap benda di bumi ini dan tanpa sengaja meluruhkan, mencerabutkan sesuatu. Angin kemudian berbisik pada langit agar meneduhkan hari, langit kemudian mengirimkan searak awan putih untuk menaungi bumi. Daun renta itupun melambai lemah berterima kasih karena tunas telah berhenti dari rengekannya. Angin pun berlalu, meninggalkan hembusan pelan agar daun renta tak gugur hari ini.

Kini musim panas telah berada pada puncaknya, sang daun renta sudah berada pada kondisi terapuh. Bahkan sepoian kecil saja mampu merontokkannya. ‘Saatku sudah tiba untuk berpisah, tunaspun sudah cukup kuat untuk kutinggalkan’ dengan berayun lemah sang daun renta terlepas dari ranting yang menyangganya dan melayang tak tentu arah ditemani sang angin yang entah datang dari mana dan membawanya ke tanah pembaringan terakhir sebagai daur hidup sebuah ekosistem.

REFLEKSI SEBUAH HARI

Arakan awan adalah kehidupan, kadang berarak cepat kadang melambat. mendung adalah sesal, hujan adalah tangis dan cerah adalah a brand new day untuk setiap orang yang mengharapkannya.

SITTING IN THE DARK

(My own Solitude)

Kegelapan menjadi pekat tanpa setitik cahaya, seorang lelaki yang telah lelah dengan cahaya kembali menyapih kedalam kegelapan kekal. Duduk di kegelapan memungkinkannya membangun kembali zona defensif yang terurai oleh cahaya. Sendiri dan sepi, adalah salah satu cara bagi manusia untuk jadi kuat dan tegar karena tak ada seseorangpun yang bisa kita gantungkan harapan.

Manusia dilahirkan secara sama tapi mereka memiliki cara yang amat berbeda agar diakui keberadaanya, manusia adalah mahkluk kemungkinan yang memungkinkan mereka bisa memilih dan bisa menyimpang dari kebenaran maupun kesalahan.

SOLUTION

(Siapa yang Salah?)

Diantara deru humvee, desing peluru, dentuman meriam, dan teriakan histeris terbantai. Sebuah suara lemah menyuarakan pertanyaan-pertanyaan hinggap di telinga setiap pendengar namun tak sampai menghentikan peperangan.

‘Apakah kekerasan harus dibalas dengan kekerasan?’

Tak ada jawaban.

‘Apakah perang adalah solusi?’

Tak ada jawaban

‘Apakah kekerasan bisa mengantar kita dalam perdamaian’

Tak ada jawaban

...................................

Diantara deru humvee, desing peluru, dentuman meriam, dan teriakan histeris terbantai. Sebuah suara kembali datang, kali ini berupa teriakan lantang pemekak telinga setiap pendengar yang bisa menghentikan peperangan hingga menjadi sunyi senyap. Suara itu adalah sangkakala yang ditiupkan Israfil sebagai solusi, sebagai akhir.

NEVERENDING DREAMS

(reality sickness)

Denyut demi denyut menghujam dinding bawah sadarku, memaksaku untuk kembali ke realitas alam sadar. TIDAK! Aku lebih suka tetap tertidur dan terus tertidur membiarkan diriku membusuk

KATAK DAN WULAN

(Sebuah Cerita Di Kota Cahaya)

Sebuah cerita tergelar di kota cahaya ini, cerita seorang katak yang baru saja keluar dari kungkungan sumur kering tempat dia dilahirkan. Setiap hari, menit dan detik dia memimpikan agar hal ini terjadi. Lompatan demi lompatan akhirnya menghantarkan katak kepada bibir lingkaran sumur. Dia sangat menyukai sang wulan dan ingin menjadi temannya karena sang katak tahu bahwa dibalik keanggunan sinar, sang wulan menyembunyikan kesepiannya dan dia ingin sekali ditemani.

Sesampainya di bibir sumur sang katak baru menyadari bahwa wulan jauh berada di sebuah ruang yang terhampar tinggi bernama angkasa, bagaimana dia bisa menemaninya? Dia hanya seekor katak yang tak punya sayap, hanya kulit licin dan sepasang kaki lompat. Dalam kegundahannya, sang katak mulai berkroak lirih sambil berdoa agar bisa bertemu dengan sang wulan. Langit yang merasa kasihan mengirimkan hujan yang seketika itu mulai mengguyuri bumi kota cahaya, menggenangi dan membasahi setiap daratan. Sang katakpun sumringah dan menaikkan desibel kroakannya untuk berterima kasih. Dengan sabar dia menunggu hujan reda disebuah kubangan yang tercipta siapa tahu dia bisa bertemu dengan sang wulan. Ketika hujan berhenti merintik, sang wulan akhirnya turun ke bumi! Terpantul di kubangan itu. ‘Kini wulan tak akan lagi sendiri’ kroak sang katak.

NAMAKU.....

(Bukan Sebuah Otobiografi)

Namaku..*berpikir sebentar*, namaku tidak penting, sama tidak pentingnya dengan keberadaanku di dunia ini. aku adalah salah satu bagian dari komunitas ‘sang pengganti’ dimana kami memiliki peran vital sebagai pengganti apa saja, teman-pacar-ayah-ibu-kakek-nenek-binatang piaraan-suami-istri-mahasiswa-mahasiswi-siswa-siswi-titik. Titik? Ya, titik soalnya terlalu banyak hal yang bisa digantikan dunia ini.

Inilah jawaban pertanyaan kenapa namaku tidak penting, nama dibutuhkan oleh seseorang untuk mengingat seseorang yang lain. Kami pengganti dan bukan sejati. Tugas kami hanyalah pengganti kekosongan yang ditinggalkan, pengganti sosok sejati yang selalu diingat dan tak pernah bisa digantikan hingga ujung waktu. Komunitas kami bukan komunitas yang pasrah akan keadaan, hanya saja betapapun kami berusaha untuk menggantikan tetap saja tidak akan mampu menyamai yang digantikan. Maka, kami cukup bahagia untuk bisa menjadi berguna bagi orang lain, membagi senyum-tawa-tangis-kecewa-bahagia-berkabung-ceria-marah dengan yang membutuhkan.

Rabu, 23 Februari 2011

Janji Masa Lalu Yang Tidak Terpenuhi

Malam belum begitu larut, baru sepenggal naik setelah sejam yang lalu sang mentari kembali keperaduannya. Suasana di kota ini tetap sama, masih saja hiruk pikuk seperti dua tahun yang lalu, terakhir kalinya aku datang ke kota ini. namun ada yang berubah, terlalu banyak keterasingan kudapati disini. orang-orang yang dulu kukenal baik seakan tak dikenal. Well, setiap orang pasti berubah...aku pun berubah, hanya saja aku merasa tidak cocok dengan atmosfir yang terakumulasi disekitarnya.

Kerubungan serangga nokturno di lampu mercury mengingatkanku pada janji yang pernah kuucapkan dibawahnya pada malam itu, ketika lampu sorot menara keagungan melintas, memotong udara hangat yang berputar-putar disekitar kami, janji masa kecil...Janjiku pada Fadia bahwa nanti aku akan kembali lagi untuk menjemputnya, bukan sebagai teman semasa TK, SD, SLTP, dan SMU melainkan sebagai seorang pria mapan menjemput calon istrinya.

But that past promise I mend seems ungranted.. kemikku lirih, menciptakan sebuah monolog tentang kenyataan yang dihadapi sekarang, disana dibawah sebuah tenda, dibalik janur kuning yang berayun pelan, lemah diterpa angin semilir. Aku berdiri mematung tanpa ada sesuatu atau seorangpun yang bisa menarik perhatianku untuk beranjak dari tempatku berdiri, diluar lingkupan cahaya dan alunan selebrasi yang berkumandang. Berkoar-koar melalui setumpuk loudspeaker beda ukuran yang tersusun rapi menghadap kearahku, menonjok mukaku, menusuk dadaku dengan dentuman demi dentuman nada not balok dan berkata ‘kemari! Lihatlah, betapa moleknya Fadia dengan balutan jilbab pengantin putihnya!!’ aku tahu, aku yang paling tahu betapa moleknya, bercahayanya dia dalam hijabnya. Akulah orang yang pertama tahu phobia ruang sempitnya, orang pertama tahu masalah-masalahnya, orang pertama yang ditangisi sewaktu aku pindah sekolah, dan..orang pertama yang diberitahu tentang perkawinannya dengan pemuda tajir yang mampu dan berhasil membeli restu ayah ibunya untuk mengawini dia tentu saja disertai dengan undangan sehari kemudian. Rupanya aku sudah jauh dari terlambat, 25 jam! “Lalu bagaimana dengan janjiku?” Apakah tidak apa aku tak memenuhi janjiku itu? Janji adalah utang dan setiap utang harus dibayar baik lunas maupun cicil. Tapi dengan apa? Dia bukan dan tidak bisa jadi bakal calon pendampingku... tidak sekarang, tidak selama dia bersuami. Apakah aku harus menunggunya? Lebih dari itu, apakah dia ingat janji itu? Karena percuma aku menunggu sesuatu yang absurd. Kuharap bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan malam ini, sekarang. Langkah-langkah kaki yang tadinya ringan terayun melangkah, seketika berat dan menempel erat di jalanan beraspal seperti direkatkan oleh lem super begitu semakin dekatnya tubuhku beringsut memasuki tenda.

“Apakah kau gugup?” tanyaku pada lutut dan sepasang sepatuku yang ikut-ikutan bergetar mengiringi lutut yang tak hentinya menggigil.

“Kau datang juga...” ujar sang pengantin ketika aku berada di deretan tetamu yang ingin memberi selamat. “Ya, aku pasti datang...itu kan yang selalu kubilang padamu setiap kali aku berjanji” jawabku sambil mengulaskan sebentuk senyum tulus, tanpa paksaan. Sekilas wajah Fadia berubah, mungkin dia ingat janji itu. Aku kembali tersenyum, kali ini dengan anggukan

“Tak apa..makasih sudah ingat” hiburku sambil pindah ke laki-laki yang melamarnya. Tipikal sifat orang kaya, sombong yang tidak ketulungan, cukup tampan karena berasal dari keluarga bangsawan apa terpandang yang tergurat begitu jelas di wajahnya. Well, saatnya kembali ke realita, areaku yang nyaman tanpa hingar-bingar ini. Sekilas, kulihat bulir bening mengalir pelan dipipi Fadia dibalik pelukan selamat para tetamu. Mereka tidak memperhatikan hal itu, mungkin bagi mereka itu adalah airmata terharu, bagiku...sesuatu yang lebih berarti dari itu.

xxx

Tale Of Two Neighboring Cities

ON QUIET ROAD OF RADIANCE CITY

Moon and stars hang above the night space. I am treading empty public road, nobody there...when I glanced into every windowed building alongside road to simply searching someone-strangers like me- to be friend of this journey. However, they already had someone in their side. I started to doubt, do I will find someone, to befriend? Possible... possibly she resides in edge of road, which I not yet go through. Night has incessant more and more but I could not find anyone in this town, in road, which passed by... Finally, I find someone; we learn to hold on each other and trust one another. How far this can go then? Does she will continue to walk with me? She might possibly decide bend in a crossroad or stopped somewhere... will that happened? Uneasy for me to erase this feeling, human being not designed to forget easily, as easy as deleted a file in computer. Feeling of fondness that uneasy to wipe out, it fuses deeply in human’s cerebrum, even they died. Is any there for me? Since, someone created for another. Will someone awaiting me at the edge of the road? Someone able to understand myself and accept me in one piece? Someone that capable to offer endurance of pain when shredded memory trudging into my chest. Is there any?

xxx.

UNGRANTED PAST PROMISE

(Past Promise That Do Not Fulfilled)

Night not yet dissolve, the daylight just went up hour ago from its shining throne. Atmosphere in this town still the same, just still frenzied like two year ago, my first come to this town. However, something amend, too much detached was me discover here. People I known seem anonymous. Well, each and everyone surely evolving, except for accumulated atmospheric of alienation I sense around it.

Groups of nocturnes Insect surrounding the streetlamp, reminds me of promise which spoken beneath on that night. Night when spotlight of Tower Supremacy pass by quickly, cutting warm air which circulating around us, a childhood promise ...my promise to Fadia that I will return again to pick her up, not as childhood friend in Kindergarten, Elementary, Secondary, or High School but as a decent man who get his upcoming wife. “But that past promise I mend seems ungranted...” I said with the minor voice, creating a monologue about the fact that I face now. In there, under a gazebo, beyond the slow, weak swaying coconut leaf ornament played by breezy wind. I idle up without something or someone may perhaps capture my awareness to move from place I stand, outside light scope and wavering of celebration in the atmosphere. Amass of stacking measure of various loudspeakers beating toward to me, punched my face, piercing my chest with beat by beat of tone and said ' Here! Come and see, how lovely is Fadia with her wrapping white wedding Hijab!’ I know... since I am the one who know the most what a lovely, glittering girl she is in her Hijab. I was first person who know her phobia of narrow; tight room, first person know her problems, first person that he cried for by time I move school, and... First person that informed her wedding with wealthy young man that capable to and succeed bought the mother father bless to marry her accompanied with invitation one day later. Seemingly, I have far from losing time, 25 hour! “How about my promise?" is it proper if I do not fulfill that promise? Since Promise is debt and every debt needs to be grant complete or piece-by-piece. Yet with what I should repay? It is impossible for me to make her my bride... not now. Do I have to wait until that could happen? More than that, does she remember that promise? Because, it wasted time waiting for something absurd. Wish can get answer from all those questions tonight, NOW. Footsteps, which lightened at first swinger, turn heavy immediately and sunk into public road pave like jammed by super glue when my body entered gazebo. “nervous don’t you think?" ask myself monologically toward to knee and a pair of shoes which also vibrated, accompanied knee which do not desist tremble. “You surely come..." say the bride when I reside in line of guests which wish congratulate the couple.

Yes, I definitely come... just like always I said to you each time I promise" I replied with a sincere smile, without constraint. Fadia’s expression seems changing, possibly she remember that promise. I return her smile, this time by nod “It’s O.K. I’m happy that you have remembered," I said cheering her up and move to men which wedded her. Typical is nature of tycoon, fully loaded arrogance, handsome enough because coming from what noble family, which is, clearly patch in his face. Well, this is the moment of returning to reality, my mild area without noisy. In a flash, I saw transparent seed of tears slowly streaming from Fadia’s cheek behind the congratulating embrace of guests. They take no account of that thing, possibly for them that were tears of happiness, which moved emotionally. However, more significance than that to me.

xxx