Malam belum begitu larut, baru sepenggal naik setelah sejam yang lalu sang mentari kembali keperaduannya. Suasana di kota ini tetap sama, masih saja hiruk pikuk seperti dua tahun yang lalu, terakhir kalinya aku datang ke kota ini. namun ada yang berubah, terlalu banyak keterasingan kudapati disini. orang-orang yang dulu kukenal baik seakan tak dikenal. Well, setiap orang pasti berubah...aku pun berubah, hanya saja aku merasa tidak cocok dengan atmosfir yang terakumulasi disekitarnya.
Kerubungan serangga nokturno di lampu mercury mengingatkanku pada janji yang pernah kuucapkan dibawahnya pada malam itu, ketika lampu sorot menara keagungan melintas, memotong udara hangat yang berputar-putar disekitar kami, janji masa kecil...Janjiku pada Fadia bahwa nanti aku akan kembali lagi untuk menjemputnya, bukan sebagai teman semasa TK, SD, SLTP, dan SMU melainkan sebagai seorang pria mapan menjemput calon istrinya.
“But that past promise I mend seems ungranted..” kemikku lirih, menciptakan sebuah monolog tentang kenyataan yang dihadapi sekarang, disana dibawah sebuah tenda, dibalik janur kuning yang berayun pelan, lemah diterpa angin semilir. Aku berdiri mematung tanpa ada sesuatu atau seorangpun yang bisa menarik perhatianku untuk beranjak dari tempatku berdiri, diluar lingkupan cahaya dan alunan selebrasi yang berkumandang. Berkoar-koar melalui setumpuk loudspeaker beda ukuran yang tersusun rapi menghadap kearahku, menonjok mukaku, menusuk dadaku dengan dentuman demi dentuman nada not balok dan berkata ‘kemari! Lihatlah, betapa moleknya Fadia dengan balutan jilbab pengantin putihnya!!’ aku tahu, aku yang paling tahu betapa moleknya, bercahayanya dia dalam hijabnya. Akulah orang yang pertama tahu phobia ruang sempitnya, orang pertama tahu masalah-masalahnya, orang pertama yang ditangisi sewaktu aku pindah sekolah, dan..orang pertama yang diberitahu tentang perkawinannya dengan pemuda tajir yang mampu dan berhasil membeli restu ayah ibunya untuk mengawini dia tentu saja disertai dengan undangan sehari kemudian. Rupanya aku sudah jauh dari terlambat, 25 jam! “Lalu bagaimana dengan janjiku?” Apakah tidak apa aku tak memenuhi janjiku itu? Janji adalah utang dan setiap utang harus dibayar baik lunas maupun cicil. Tapi dengan apa? Dia bukan dan tidak bisa jadi bakal calon pendampingku... tidak sekarang, tidak selama dia bersuami. Apakah aku harus menunggunya? Lebih dari itu, apakah dia ingat janji itu? Karena percuma aku menunggu sesuatu yang absurd. Kuharap bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan malam ini, sekarang. Langkah-langkah kaki yang tadinya ringan terayun melangkah, seketika berat dan menempel erat di jalanan beraspal seperti direkatkan oleh lem super begitu semakin dekatnya tubuhku beringsut memasuki tenda.
“Apakah kau gugup?” tanyaku pada lutut dan sepasang sepatuku yang ikut-ikutan bergetar mengiringi lutut yang tak hentinya menggigil.
“Kau datang juga...” ujar sang pengantin ketika aku berada di deretan tetamu yang ingin memberi selamat. “Ya, aku pasti datang...itu kan yang selalu kubilang padamu setiap kali aku berjanji” jawabku sambil mengulaskan sebentuk senyum tulus, tanpa paksaan. Sekilas wajah Fadia berubah, mungkin dia ingat janji itu. Aku kembali tersenyum, kali ini dengan anggukan
“Tak apa..makasih sudah ingat” hiburku sambil pindah ke laki-laki yang melamarnya. Tipikal sifat orang kaya, sombong yang tidak ketulungan, cukup tampan karena berasal dari keluarga bangsawan apa terpandang yang tergurat begitu jelas di wajahnya. Well, saatnya kembali ke realita, areaku yang nyaman tanpa hingar-bingar ini. Sekilas, kulihat bulir bening mengalir pelan dipipi Fadia dibalik pelukan selamat para tetamu. Mereka tidak memperhatikan hal itu, mungkin bagi mereka itu adalah airmata terharu, bagiku...sesuatu yang lebih berarti dari itu.
xxx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar