Kamis, 20 Agustus 2015

SEBUAH PRELUDE BAGI PENGEJAR MIMPI

MERAIH MIMPI DIBAWAH LANGIT PASIFIKA

Langit pagi kota Radian di pertengahan bulan Agustus, cerah dengan sejumput arakan awan seputih kapas mengantar sang rembulan pucat terkantuk-kantuk ke peraduannya sambil menyapa sang fajar yang masih malas bergegas terbit di ufuk timur. Dari balik jendela lantai dua yang mengarah ke laut Pasifika, dari balik selimut lusuh yang sekenanya melindungi diri dari dingin dan gigitan nyamuk  berawal cerita tentang cinta berawal dari selembar plester luka dan perjuangan anak manusia meraih mimpi akademisnya di kota besar yang tak ramah pemimpi.

Hiruk-pikuk bagian akademik universitas Pelita Nusa melayani pencetakan kartu rencana studi mahasiswa menandakan bahwa semester pertama telah dimulai. Hampir sejam lamanya Agi-panggilan akrab Izanagi Arkwright-mengantri masuk ruang komputer untuk mencetak kartu rencana studinya namun antrian masih mengular padahal  waktu kuliah perdana kian mendekati dalam rentang waktu 5 menit kedepan.
“Belum juga ya?” dan kalimat sebangsanya hampir berbusa keluar dari mulut kesal mereka. Ketika pada akhirnya waktu kuliah perdana tiba hanya sebagian dari antrian mengular itu yang selesai mencetak kartu rencana studi ketimpangan dan tantangan pertama bagi Agi dan lainnya sebagai mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah di universitas kebanggan kota Radian ini.
Kuliah perdana dimulai dengan perkenalan singkat tentang mata kuliah yang akan diajarkan, info tentang buku pegangan wajib mahasiswa dan secuil pemberian materi kuliah sebagai pemanasan.
Kuliah berlangsung selama satu jam setengah dan merupakan kuliah umum yang berarti semua mahasiswa-mahasiswi semua jurusan mengambil kuliah yang sama. Universitas Pelita Nusa memiliki 3 program studi bahasa dan 1 program studi budaya; program studi bahasa mencakup bahasa inggris, jerman dan bahasa indonesia dengan 2 jurusan besar yaitu Literatur yang berorientasi pada karya sastra seperti prosa, puisi dan drama; dan lingustik yang berkutat dengan muasal bahasa, tata bahasa dan penggunaannya sedangkan program studi budaya mencakup ilmu sejarah dan budaya.

ALASAN AGI

Agi memilih prosa inggris, dua pilihan yang sempat menjadi bahan kernyitan sangsi teman-temannya semasa SMU saat ditanya program studi dan jurusan apa yang akan diambil saat lulus nanti. Mereka menganggap pilihan jurusannya terlalu muluk karena prosa bukanlah sesuatu yang hanya sekedar ‘suka buku’ atau ‘suka baca’ namun membutuhkan nalar sastra yang mumpuni. Pada saat itu Agi hanya menjawab sekenanya “Kita takkan tahu kalau belum mencobanya” sambil mengangkat bahu lalu melanjutkan membaca komik hasil boleh minjem-nya. Asumsi teman-temannya bukan tak beralasan karena Agi secara kasat mata tak pernah terlihat serius dalam melakukan segala sesuatu terutama di bidang akademik. Tak mau menonjol namun tak bisa diremehkan; prinsip ini dipegang teguh oleh Agi sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Prinsip yang terlahir akibat rasa iri teman sekelas atas pengetahuan lebih yang dimilikinya saat itu. Karena selalu dikucilkan dan diejek inilah yang membuat Agi beralih ke buku dan TV, dua aspek yang kurang lebih membentuk pribadinya seiring pertambahan usia. Dari TV dia mengenal bahasa inggris melalui tayangan edukasi berbentuk film tentang alien berwujud monster hijau pemakan jam yang terdampar di bumi saat piknik dan pengetahuan lainnya dari ragam buku-buku yang dibacanya.  Sebagaimana Abg pada umumnya Agi kemudian diperhadapkan dengan urusan hormon, feromon dan valentine ketika ia masuk sekolah menengah pertama.  
                                                                                                                  To Be Continue.......