MERAIH MIMPI DIBAWAH LANGIT PASIFIKA
Langit pagi kota Radian di pertengahan bulan Agustus, cerah dengan
sejumput arakan awan seputih kapas mengantar sang rembulan pucat
terkantuk-kantuk ke peraduannya sambil menyapa sang fajar yang masih malas
bergegas terbit di ufuk timur. Dari balik jendela lantai dua yang mengarah ke
laut Pasifika, dari balik selimut lusuh yang sekenanya melindungi diri dari
dingin dan gigitan nyamuk berawal cerita
tentang cinta berawal dari selembar plester luka dan perjuangan anak manusia
meraih mimpi akademisnya di kota besar yang tak ramah pemimpi.
Hiruk-pikuk bagian akademik universitas Pelita Nusa melayani
pencetakan kartu rencana studi mahasiswa menandakan bahwa semester pertama
telah dimulai. Hampir sejam lamanya Agi-panggilan akrab Izanagi
Arkwright-mengantri masuk ruang komputer untuk mencetak kartu rencana studinya
namun antrian masih mengular padahal waktu kuliah perdana kian mendekati dalam
rentang waktu 5 menit kedepan.
“Belum juga ya?” dan kalimat sebangsanya hampir berbusa
keluar dari mulut kesal mereka. Ketika pada akhirnya waktu kuliah perdana tiba
hanya sebagian dari antrian mengular itu yang selesai mencetak kartu rencana
studi ketimpangan dan tantangan pertama bagi Agi dan lainnya sebagai
mahasiswa-mahasiswa yang berkuliah di universitas kebanggan kota Radian ini.
Kuliah perdana dimulai dengan perkenalan singkat tentang mata
kuliah yang akan diajarkan, info tentang buku pegangan wajib mahasiswa dan
secuil pemberian materi kuliah sebagai pemanasan.
Kuliah berlangsung selama satu jam setengah dan merupakan
kuliah umum yang berarti semua mahasiswa-mahasiswi semua jurusan mengambil
kuliah yang sama. Universitas Pelita Nusa memiliki 3 program studi bahasa dan 1
program studi budaya; program studi bahasa mencakup bahasa inggris, jerman dan
bahasa indonesia dengan 2 jurusan besar yaitu Literatur yang berorientasi pada
karya sastra seperti prosa, puisi dan drama; dan lingustik yang berkutat dengan
muasal bahasa, tata bahasa dan penggunaannya sedangkan program studi budaya
mencakup ilmu sejarah dan budaya.
ALASAN AGI
Agi memilih prosa inggris, dua pilihan yang sempat menjadi
bahan kernyitan sangsi teman-temannya semasa SMU saat ditanya program studi dan
jurusan apa yang akan diambil saat lulus nanti. Mereka menganggap pilihan
jurusannya terlalu muluk karena prosa bukanlah sesuatu yang hanya sekedar ‘suka
buku’ atau ‘suka baca’ namun membutuhkan nalar sastra yang mumpuni. Pada saat
itu Agi hanya menjawab sekenanya “Kita takkan tahu kalau belum mencobanya”
sambil mengangkat bahu lalu melanjutkan membaca komik hasil boleh minjem-nya. Asumsi teman-temannya
bukan tak beralasan karena Agi secara kasat mata tak pernah terlihat serius
dalam melakukan segala sesuatu terutama di bidang akademik. Tak mau menonjol
namun tak bisa diremehkan; prinsip ini dipegang teguh oleh Agi sejak ia duduk
di bangku sekolah dasar. Prinsip yang terlahir akibat rasa iri teman sekelas atas
pengetahuan lebih yang dimilikinya saat itu. Karena selalu dikucilkan dan
diejek inilah yang membuat Agi beralih ke buku dan TV, dua aspek yang kurang
lebih membentuk pribadinya seiring pertambahan usia. Dari TV dia mengenal
bahasa inggris melalui tayangan edukasi berbentuk film tentang alien berwujud
monster hijau pemakan jam yang terdampar di bumi saat piknik dan pengetahuan
lainnya dari ragam buku-buku yang dibacanya.
Sebagaimana Abg pada umumnya
Agi kemudian diperhadapkan dengan urusan hormon, feromon dan valentine ketika
ia masuk sekolah menengah pertama.
To Be Continue.......
To Be Continue.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar