Minggu, 08 Juni 2014

Solitary Solitude


Bunyi dentangan jam sebanyak delapan kali dengan cepat merambat keseluruh penjuru dengan bantuan hawa dingin yang menyelimuti malam kota tak bernama; dentangan pada malam itu juga menandai tibanya kereta terakhir berisi beberapa pekerja kantoran dan diriku yang akan berada di kota tak bernama ini dalam jangka waktu yang tak ditentukan. Stasiun kota tak bernama masih mempertahankan bangunan aslinya dengan sedikit polesan modernitas di beberapa sudut. Kabut tipis serta merta menyambut para penumpang dengan gigilan dingin begitu pintu otomatis kereta terbuka, walaupun telah terbiasa dengan keadaan ini beberapa penumpang terlihat mengosok-gosokkan kedua belah tangan mereka untuk mengurangi rasa kebas akibat hawa dingin dan berjalan dalam kelompok untuk tetap hangat. Sedangkan diriku yang masih menyesuaikan, memilih bergegas keluar stasiun sambil merapatkan jaket dan mendapati area parkir stasiun sepi tanpa terlihat satupun kendaraan penjemput; kini yang bisa aku lakukan ialah menunggu dan membiarkan otakku memijarkan berbagai macam kemungkinan dan mencari solusi atas sejumlah kemungkinan itu.

Setelah beberapa waktu berselang, pelataran parkir stasiun menerima kedatangan sebuah mobil jenis land cruiser yang parkir tak jauh dari tempatku menunggu. Dari dalam mobil bercat selegam malam itu keluar seorang pria jangkung yang kemudian memperkenalkan diri sebagai saudara jauh ibu saat mendapati raut kebingungan dari yang dijemputnya. Dalam perjalanan ke rumahnya sang pria jangkung mencoba mencairkan keterasingan dengan percakapan ringan mengenai apa saja meskipun menurutku itu tak perlu dilakukannya karena lebih menyukai ketenangan dibanding harus merespon pertanyaan basa-basi semacam itu.

senin pagi di kota tak bernama, sedikit berkabut karena mentari masih setengah hati bersinar. ditengah hiruk pikuk bus pagi hari aku duduk sambil menguap kantuk, ini hari pertamaku di sekolah baru yang entah memegang peran apa bagiku; si kutu loncat ini nantinya.
laju bus perlahan menurun setelah beberapa belokan karena terjebak macet yang sepertinya menjadi trademark kota tak bernama ini dilihat dari decakan kesal beberapa penumpang dan kembali terurai pada pada menitan kelima-satu menuju delapan menit akhir sebelum jam tujuh tepat.

Ketika dentangan bel masuk terdengar melalui pengeras suara kelas, aku baru saja selesai menuliskan 'Raka' di papan tulis dan kini menghadap kearah murid yang duduk rapi di meja mereka untuk memulai perkenalan singkat dan disambut dengan dengungan sesaat berdesibel rendah yang menjadi respon tipikal terhadap anak baru. sesaat kemudian aku sudah berada di tempat duduk yang ditunjuk sang guru wali kelas; bersebarangan dengan siswi berambut sebahu yang enggan mengangkat wajahnya sedetikpun dan dipunggungi oleh sejumlah siswa-siswi menatap acuh tak acuh sejak menit pertama aku menjejakkan kaki di kelas ini.

Setiap orang dilahirkan sama namun memiliki cara yang berbeda untuk diakui keberadaannya. Di kota tak bernama ini para pemegang kapital dianugerahi imunitas sosial sebagai hak pemegang strata sosial tertinggi; hak khusus ini juga tersemat mentereng pada putra-putri mereka yang lebih suka menyalahgunakannya dibanding mengisi volum otak dengan pengetahuan yang berguna. Bicara tentang volum otak, punyaku baru semenit lalu terisi serentetan nama penghuni kelas ini melalui pengecekan absensi dan setengah jalan mengunduh pelajaran yang lima menit lagi sesinya akan berakhir.

Rehat makan siang merupakan waktu penuh perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang spesial dari kafetaria sekolah. Tentu saja disinipun tak ada bedanya, kali ini teriakan 'roti daging spesial' menjadi kata kuncinya.
"Ke Kafetaria yuk?" ajak seorang siswi yang tempatnya berjarak 2 deret di depanku. aku hanya mengangkat sedikit kepalaku kemudian kembali tenggelam dalam alunan BGM game handheld-ku tanpa harus berbasa-basi menjawab ajakan itu karena yang ia ajak bukanlah diriku melainkan siswi sebangku dengannya yang menjawab dengan anggukan kemudian bergegas meninggalkan kelas yang menyisakan siswi berambut sebahu yang tak mau terpisah dengan buku bacaannya.