Manusia mengganggap sesuatu yang tak bisa mereka terima dengan akal, sebagai sesuatu yang menakutkan dan jika seseorang terlahir ‘lain’ dunia seakan mengkerut untuknya. Dicemooh, dikucilkan. Ini sebabnya aku tak pernah mengatakan pada siapapun tentang ‘kelainan’ yang aku punya... karena aku...takut!
Kutapaki jalan tersamar sekelompok pohon pinus. Rembulan masih tersamar oleh pekatnya awan sesudah hujan gerimis tadi. Gedung Higherground berdiri kokoh tak jauh kaki berpijak seperti kastil abad pertengahan dengan kabut tipis yang menyelimutinya. Kutekan Light jam tanganku...8:30 dan pasti sebentar lagi pintu gerbang akan ditutup dengan begitu aku terpaksa menginap disekolah...
“Sial, kelamaan di perpustakaan...”gerutuku sambil menendang kaleng bekas soft drink yang aku minum tadi dan mempercepat langkahku ketika kulihat lampu mercury gerbang menyeruak dari siluet pepohonan
KrriEeEeeeKkKkKk...
“Tunggu.....” seruku ketika kulihat gerbang akan ditutup. “Ah, Tuan Whitelighter...selamat malam” balasnya dengan senyum ramahnya. Pria itu kemudian membuka kembali gerbang yang hampir ditutupnya itu.....
“Selamat malam, pak Frey...maaf menganggu tugas bapak”
Selesai berterima kasih aku keluarkan motorku dari garasi kemudian meluncur ke jalanan yang lapang akan kendaraan. Hangatnya udara malam menyerbu pori-pori mukaku yang lelah. “Kalau saja aku punya seseorang menemani” harapku dalam hati. Laju motorku tercegat lampu merah di persimpangan Cerulean Bay, tempat yang biasanya sering hiruk-pikuk dihinggapi Kupu-kupu malam untuk mencari mangsa, tapi hari itu lengang. Hanya beberapa dari mereka yang mencoba menabur serbuk pemikat ke pengemudi mobil sedan yang berada di sebelah kiriku. Aku tak tahu apakah berhasil atau tidak karena Traffic Light keburu hijau. Kehidupan malam memang susah untuk dijelaskan dan paling unik untuk diteliti.
“What makes humans a saint? Here, on earth they preaching about...
we don’t need preach! It can’t feed many open mouth back home”
xxx
Rembulan semakin menyikut wajah langit malam menceraikan sekelompok bintang sampai terpencar hebat seperti dulu dia tercipta dari kilauan susu yang terburai dari dada sang dewi ketika anak tirinya tak sengaja menggigit ketika menyusu. Aku kini berada di tepian Boulevard yang sunyi mereguk soft drink sambil terus mendengarkan percakapan sang ombak, canda tawa mereka sampai akhirnya pecah membentur tebing-tebing batu hingga mengundang salah satu Dewi Malam untuk menghampiri, dewi dengan rambut panjang terurai berbalut jaket jeans dengan T-Shirt ketat berwarna biru dan rok mini seperdelapan. “Boleh aku duduk disini?” suara itu lembut, seperti Siren yang memanggil siapapun untuk mendekat dan menyilahkannya duduk bersama. Aku menangguk, lagipula aku butuh teman. Bau harum bunga melati merebak bercampur dengan bau laut yang menciptakan sensasi yang aneh bagi diriku, tenang dan mendamaikan hati...
“Lagi nunggu seseorang?”
aku menggeleng sambil mereguk sisa soft drink yang kelima kalinya aku minum
“Lagi mengosongkan pikiran...”
“Oh..” angguknya sambil tersenyum simpul, ada sesuatu yang terkandung dalam senyumnya itu.
“Kamu sendiri.... disini pada malam selarut ini ” kataku sambil menawarkan sofdrink kepadanya yang ditolaknya dengan halus
“Keadaan memaksaku...” katanya sambil tertunduk diam
“Maaf...”
pernyataan maafku itu disambut dengan senyuman karena mungkin baru kali ini diajukan pertanyaan yang ‘polos’ seperti itu
“Apakah kamu mau menemaniku ngobrol? Not for free if u mind....”
Dia menyanggupi permintaanku itu kemudian percakapan itupun mengalir dengan sendirinya tanpa menyadari angin dingin berhembus dan mencabik-cabik kertas lusuh yang sambil lalu dengan ganasnya. Tapi aku tak merasakan hawa dingin itu, cabikan itu. Entahlah, sekitarku menjadi hangat, terlalu hangat!
“Aku harus pulang sekarang....” katanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Kusodorkan uang yang sudah dijanjikan tadi tapi ditolaknya
“nggak usah, cuman ngobrol kok....Ok, aku pergi dulu” sergahnya sambil melayangkan ciuman tipis dipipiku.
“Ya, makasih sudah menemaniku”
Pandanganku mulai mengabur mungkin ini pengaruh kabut yang tiba-tiba menyergap tubuh sang Dewi Malam dan membawanya pergi diiringi dengan benturan angin berbau melati yang ditinggalkannya. Aku hanya tertegun melihat ini dan perlahan bangkit untuk menampik debu yang menempel di celana jeans-ku kemudian menstater motorku kemudian kembali merayapi jalanan ke pelukan sang waktu yang terdentang dari menara jam menyambut mentari yang sebentar lagi memerahi langit kelam sang malam
“when some people are spending much money to achieve dignity, we were selling it for our own sake... ”
xxx
Pagi kembali menyeruak, menyerbu dengan sinar keemasan dan terpantul dari kaca perkantoran di persimpangan jalan Orchid Avenue. Aku dengan malas memacu motorku menjelajahi aspal yang menghangat tertimpa panas matahari, menyalip sejumlah mobil yang berada di jalur cepat kemudian berbelok kearah bukit Mist tempat sekolahku berada. Begitu motorku sampai dipelataran parkir, aku disambut dengan teriakan Marco
“Darimana saja kau, pelajaran hampir dimulai !” katanya dengan suara agak keras
“Abis One night stand...” sahutku sekenanya
“Sialan..”
“Pak Feather belum ada kan?”
“Beliau lagi rapat dengan Kepsek...”
“gitu ya?....” sahutku dengan mata menerawang kearah jendela mencari sesosok tubuh yang pagi itu tidak kelihatan, sang Dewi Malam..
KrrrRrRRRRNGG…
“Baiklah anak-anak, pelajaran hari ini sampai disini dan jangan lupa resume akan dipresentasikan pada hari selasa ” kata Pak Sandy dengan suaranya yang berat
“Baik PaaaaaK!”
Riuh sorakan memenuhi ruangan kelas memecah gelembung terawanganku. Hari itu pelajarannya memang agak membosankan dengan dosen yang cuman berkoar-koar kayak burung fals. Setelah menyelesaikan piket yang ditugaskan padaku akupun bergegas keluar dari kelas kemudian tinggal menyerahkan kunci kelas pada pak Frey maka tugasku selesai. Dengan malas kususuri lorong lantai satu sekolahku yang begitu sunyi dan sedikit gelap karena terlindung pepohonan yang rimbun ditambah dengan arakan awan gelap menutupi langit siang bersama cemprengnya guntur, sebentar lagi hujan akan menyapa kembali bumi, buncah dan bungah menggenangi lubang selokan yang ada. Aku sangat suka hujan, karena hujan selalu membawa suatu pesan. entah kenapa, aku mengerti pesan yang sebanyak rintik tercurah itu. Hari ini ada yang berduka dan perlu ditemani. apa itu kau? Kutanyakan kalimat ini kepada seorang gadis dengan mata kuyu sedang bersimpuh ditengah hujan. Lilian, kira-kira itulah namanya yang aku tahu dari seringnya dia dipanggil ke ruangan konseling. Ruang yang menjadi momok setiap siswa walaupun sebenarnya fungsi dari badan itu adalah membantu siswa mengatasi persoalannya. Aku pernah mencoba ke sana namun ternyata mereka tak bisa membantu...
Gadis itupun akhirnya pingsan dengan tangan bersimbah darah dengan serpihan kaca bernoda darah yang berjarak tidak jauh dari tubuhnya dan aku tak bisa berbuat apa-apa, hanya mematung melihat tubuh belia yang tergolek berselimut lumpur darah diluar sana.
Sebenarnya aku ingin menolong, tapi.... tiba-tiba bayangan ibu yang semestinya menjadi tempatku berteduh dengan pandangan jijik menembus tirai hujan, menghujam dadaku....
~ Anak pembawa sial! Invalid!, cacat!!~
kepalaku terasa begitu berat dengan kata-kata ini, terasa begitu membebani!
“DIAM!!!!!!!!!!! Kau sudah cukup menggangu hidupku!!!”
kubenturkan kepalaku kedinding dengan harapan suara itu bisa hilang
CraAashhhkk…
Cipratan darah keluar dari koyakan luka yang tercipta ketika kubenturkan kepalaku tadi. Suara itu akhirnya hilang! aku bergegas keluar, mengoyak tirai hujan yang merintangi lalu segera kuselimuti dia dengan jaket almamaterku yang cukup tebal kemudian menstater motorku dan melaju ke rumah sakit terdekat. Karena tubuh mungil itu mulai memutih karena kehilangan sebagian besar dari darahnya dan suhu badannya mulai menurun. Aku harus menolongnya!
“I am what I am, don’t hate me just because I’m different ”
xxx
Pagi yang cukup sibuk di Whitelily Hospital, ada beberapa pasien yang digerek masuk ke ruangan ICU.
“Anda tak apa-apa...” kata seorang suster yang membawa kereta makanan ketika berpapasan di lorong
“Ya, makasih...” jawabku pendek dan berusaha menahan ngilu yang menyerang pusat syaraf akibat benturan kemarin. Rasanya seperti remuk dihantam godam saja kepalaku. Setelah selesai mengantarkannya ke rumah sakit kemarin, tiba-tiba sebuah mobil pickup muncul dari persimpangan jalan dengan kecepatan tinggi dan menghantam bagian depan motorku tanpa ada decitan rem yang terdengar. Sesaat kemudian tubuhku menjadi ringan, setelah aku sadar ternyata aku telah terbaring ditengah jalanan yang sepi dengan beberapa serpihan kaca disekelilingku, rasa ngilu itu datang lagi...rasa ngilu yang sama seperti saat ratusan besi panas menimpaku dalam kebakaran dua tahun yang lalu yang disebabkan oleh ibuku yang terus menganggapku anak pembawa sial.....
Di ujung gang kulihat seorang suster sedang mendorong kursi roda pasien yang ternyata adalah Lilian keluar dari ruangan rawat inap. Dia menatapku dengan ekor matanya ketika kami secara bersamaan masuk lift, tanpa senyum, pucat. Ya..itulah yang aku mau, karena aku tak pantas di beri perhatian apalagi ucapan terima kasih...walaupun sesekali aku ingin dianugerahi kata itu. Luka ini, sebentar lagi akan sembuh dan tak ada alasan bagi diriku untuk dikasihani dan terus memainkan peran sebagai zombie kehidupan, seorang.... Immortal
“What makes a man a man?
A man can’t be judge by what he start with but how he choose to end with”
xxx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar