Kamis, 03 Maret 2011

PARTING WAYS (Jalan Yang Berbeda)

Deru bus melayangkan debu ke udara, menciptakan tirai tipis yang membuatku sedikit terbatuk. Pandanganku masih mengikuti arah kemana bus itu berbelok dan menghilang dari terminal. “Bye” ucapku dalam hati pada seseorang yang kini sudah takkan bisa lagi berbagi emosi secara nyata, seseorang yang harus kembali ke daerah asalnya pada hari ini menaiki bus yang telah semenit lalu hilang dari pandangan.
Ayunan langkah mulai kulakukan karena tak ada lagi sesuatu yang membuatku ingin berlama-lama berdiri di bawah matahari yang mulai terik. Langkah demi langkah panjang kuambil untuk membuatku secepat mungkin meninggalkan terminal itu dan disela-sela langkah panjang itu pikiranku menerawang pada beberapa hari sebelumnya, hari dimana dia mengatakan sesuatu yang hasil akhirnya adalah perpisahan. Masih jelas kulihat raut wajahnya ketika mengatakan bahwa dia harus pulang ke daerah asalnya karena studi yang diembannya selama 6 tahun akhirnya selesai. Aku yakin bahwa wajah yang menatapku itu tak ingin perpisahan ini terjadi dan mencoba mencari solusi tapi hasilnya nihil. Segala solusi yang kutawarkan selalu berakhir buntu bahkan solusi untuk tetap menjaga hubungan yang dijalin hampir 6 tahun lamanya. Hubungan yang sudah memenuhi syarat untuk meresmikannya dalam satu ikatan abadi. Tanpa sadar aku menghela nafas panjang aku belum bisa melakukan hal itu, kemampuanku belum mencapai taraf itu karena impian utamaku belum terwujud, impian tentang tempat yang dengan bangga kusebut dengan ‘RUMAH’. Tempat untuk diriku melepas penat, tempat diriku menyelesaikan separuh lingkaran kehidupan sebelum ajal menjemput.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar