CHAPTER I
ANOTHER PENSIEVE TO FILL..
Through Rara’s Eyes..
Catatan Harian #02
Dua asrama besar yang disediakan oleh pihak
sekolah, Asrama Higherground dan Asrama Downunder yang ditempati oleh
siswa jalur beasiswa ternyata punya sejarah yang tak
seindah sekolahnya. letak Asrama Higherground yang sesuai
namanya berada di atas bukit membuat mereka merasa lebih tinggi derajatnya
dibanding Downunder yang berada di kaki bukit, plus kebanyakan pejabat tinggi
di Pacifica berasal dari Asrama Higherground membuat mereka yang mnyebut diri mereka dengan Hi-Lander makin besar
kepala dan beranggapan punya hak untuk menggunakan ‘pengaruh’ asrama ini untuk
melakukan sesukanya-tentunya secara sembunyi-sembunyi-pada siswa yang tinggal
di Downunder …
KrRiiing! Bunyi
bel masuk pelajaran berikut berbunyi lewat pengeras suara yang terpasang di
dinding perpustakaan, memaksaku menutup buku harian bersampul kulit berwarna
coklat, memasukkan kedalam tas dan beringsut keluar dari perpustakaan. Aku
menyelesaikan jam pelajaran kali ini dengan sedikit malas karena pikiranku
masih saja tertuju pada buku itu, buku yang kutemukan tak sengaja terselip
diantara tumpukan buku tua yang teronggok begitu saja di perpustakaan dengan label disposal tercantum sisi kanan sampulnya dan
memutuskan untuk mengambilnya, toh buku ini akan dibuang. Kuputuskan untuk
pergi ke kantin sekolah untuk meneruskan bacaanku itu. Dalam perjalanan ke sana
kudengar suara mengiba dari dalam restroom laki-laki tapi tak mungkin aku masuk
kesana jadi kuputuskan untuk mencuri dengar suara yang lamat-lamat kudengar
seperti ini; ‘Heh! Anak kodok, kamu masih
berani bergaul dengan anggota magistrat padahal sudah kularang, apa kamu tuli!?’ hardik suara kemudian dibalas dengan suara anak yang
ditindas dengan nada tergugu ‘Tttidak..itu cuman isu kok..aku mana berani??’
namun dipotong dengan cepat oleh suara kedua, ketiga dan keempat dengan ‘Sudah
hajar aja Glen..toh dia gak akan protes’. “Ja..jangan tolong jangan pukul” ucap
yang ditindas. ‘Hah, jika kau bilang
begitu aku lebih ingin memukulmu..hajar dia teman-teman!’ perintah suara
pertama yang disambut dengan tawa kemudian erangan ‘anak kodok’. Tak tahan
mendengarnya akupun beringsut pergi dengan kesimpulan yang terngiang di kepala
‘Ternyata benar apa yang ditulis di
buku harian itu....’.
Nafsu makanku
berkurang drastis, nasi goreng yang kupesan baru dua suap masuk mulut namun
sudah merasa kenyang karena pikiranku melayang ke restroom tadi. ‘Apa yang
terjadi dengan anak tadi yah?’ pikirku
cemas. Sesaat kemudian ada seorang anak dengan kacamata sedikit retak dan muka
lebam memasuki Cafetaria sekolah, kusimpulkan dia sebagai anak yang ditindas tadi namun belum
sempat aku bertanya anak itu dengan cepat membayar minuman ringan pesanannya
dan terburu keluar dari kantin setelah melihat diriku datang menghampiri. ‘gak
usah repot-repot ngejar..’ celetuk Shaddy tiba-tiba muncul di ambang pintu
kantin dan menghalangi dengan badannya ketika aku hendak mengejar anak itu.
“maksudmu?” tanyaku tak bisa mencerna maksud Shaddy-tepatnya kaget kenapa Shaddy
bisa menebak isi kepalaku dengan tepat (lagi)-. Shaddy mengeluarkan suara
‘khhhh’ dari kerongkongannya kemudian berkata dengan nada gusar;
‘kau mau bertanya apa yang terjadi padanya kan? Percuma saja, dia tak
suka kalian’ dan diakhiri dengan penekanan pada kata ‘kalian’ dengan mimik
tidak suka padaku. Usai berkata itu diapun beringsut pergi meninggalkanku yang
hanya terdiam di ambang pintu kantin.
xxx
Aku
memutuskan untuk kembali ke kamar asrama dan menolak secara halus ajakan teman
se asrama untuk hang-out usai sekolah. Aku masih penasaran dengan buku harian
itu, apa rahasia besar yang disimpan erat oleh sekolah ini dan apakah ada
hubungan dengan perkataan Shaddy tadi siang. Usai mencuci muka aku langsung merebahkan badanku diatas
tempat tidur dengan buku harian itu di tangan.
Seperti
yang aku duga sebelumnya, satu demi satu kebobrokan mental asrama yang aku
tinggali ini terkuak dalam setiap lembar kertas yang tersibak.
Catatan Harian #10
Hari ini para Hi-lander mengulang kembali teror mereka pada siswa-siswi Downunder. Mereka diam-diam masuk
ke kamar asrama; mengacak-acak isi kamar
dan menuliskan kata ‘KUTU BUSUK!!’ di
kaca meja rias. Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi, besok aku akan menyerahkan
bukti-bukti yang sudah aku kumpulkan selama ini
guna mendesak kepala sekolah
untuk mempercepat pengesahan pembentukan
Magistrat !
Tulisan itu
merupakan tulisan terakhir yang bisa kubaca dari buku harian ini karena lembar
berikutnya sepertinya disobek seseorang, entah oleh siapa namun aku berasumsi
pemilik buku inilah pelakunya karena melihat dari rapinya sobekan kertas itu.
“Mungkin orang-orang dari magistrat tahu sesuatu..” kemikku sambil bangkit dari
tempat tidur dan menuju Dresser tempat aku menyimpan form aplikasi untuk jadi
Magistrat yang aku ambil sembunyi-sembuyi agar tidak ketahuan anak-anak
Hi-lander lainnya dan mulai mengisinya agar aku bisa menyerahkannya besok.
xxx
“KAU.. jadi magistrat?!”
gelak Shaddy sangsi ketika aku bertemu dengannya di ruang tunggu dewan sekolah
untuk memasukkan form aplikasi untuk jadi Magistrat. “Memangnya kenapa?” tanyaku dengan
nada geram. “sangsi aja anak Higherground mau masuk magistrat…kayak serigala
yang bersikeras jadi domba” ujar Shaddy
dengan nada nyelekit membuatku sedikit tersinggung. “Well, aku berbeda..OK?!” bantahku dengan nada meninggi. Shaddy terdiam sejenak dan menatap langsung ke mataku kemudian mengangkat bahu sambil berkata ‘Magistrat
bukan tempat main-main juga bukan tempat orang berhati lemah..kau akan tahu
nantinya maksudku ini..’ sambil beringsut pergi. Aku
mulai mengerti kenapa anak-anak tak menyukainya, jarang bicara namun begitu
bicara sangat menusuk dan nyelekit.
xxx
Perkataan Shaddy
sepenuhnya benar, walaupun aku benci mengakui ini. Tugas magistrat memang tak
mudah karena setiap harinya aku harus berhadapan dengan mereka yang dulu akrab
denganku dan tentunya tak perlu bersusah payah memakai topeng untuk menutupi sifat
asli mereka. Kini aku sepenuhnya mengerti alasan kenapa Shaddy menunjukkan
sikap permusuhan padaku pada awal perkenalan dan kenapa anak-anak Downunder tak
pernah mau melaporkan penggencetan mereka pada pihak sekolah maupun Magistrat;
Ilya dengan senang hati menjelaskan semuanya termasuk alasan kenapa seorang
Downunder seperti Shaddy bisa berada di kelas yang 99% nya ditempati oleh
Hi-lander. Aku lega mengetahui bahwa meskipun suka menggerutu dan
moody, Shaddy bisa jadi teman tukar
pikiran untuk segala hal dan Ilya yang kini sekamar denganku setelah teman
kamarku sebelumnya meminta kepala asrama untuk bertukar kamar. Siswi yang masuk
kategori Nerd karena kebiasaannya ‘mendiami’
perpustakaan Magna Scriptura usai jam
sekolah atau waktu lowong dan inilah yang menyebabkan dia tak punya satupun
teman dekat di asrama. Gesture-nya yang sering mengatupkan
kedua belah tangannya ketika sedang serius membaca dan dengan konsentrasinya yang tinggi ketika
melahap buku yang dibacanya menarikku
untuk mengenalnya lebih jauh. Semula kupikir seorang nerdy itu
kaku, berkacamata tebal, sedikit gagap, dan tidak mau bergaul dengan orang
lain. Ternyata pemikiranku dipatahkan oleh Ilya dengan mengatakan bahwa menjadi
nerdy tidak berarti kuper; dia suka bergaul, suka jalan-jalan, suka melakukan apa saja
jika saja kesehatannya memungkinkan.
xxx
Hari ini merupakan hari terpenting dalam
kehidupanku sebagai manusia dalam hal pertambahan usia. Yup, hari ini aku ultah
dan begitu pula saudara kembarku yang hanya tua sejam dariku.“Pulang sekolah bentar, kamu mau kemana Dy?” tanyaku saat berbagi
meja dengan Shaddy pas makan siang. “Kenapa emangnya?” selidik Shaddy sambil menandaskan jus jeruk
dengan seruputan terakhir.“ Aku mau beli sesuatu dan aku minta tolong
kamu untuk ngasih pendapat” jelasku. “...Oo..keh, tapi traktir aku
Pizza yak? ” ujar Shaddy asal. “Hee?!, perhitungan amat” rengutku. “kidding-lah..”
ucap Shaddy nyengir. “Oiya, hampir lupa..nih buat kamu” ucap Shaddy sambil
mengangsurkan kotak kecil berwarna coklat berpita pink kehadapanku. “Maaf cuman
bisa ngasih gituan..Happy bday” ucapnya lagi. Strap HP bermotif kucing itulah
hadiah Shaddy untukku ketika kotak itu aku buka. “Thanks dy” ucapku dengan
senyum lebar dan dibalas Shaddy dengan thumbs up disertai kata ‘sip’.
xxx
Kami berdua
barusan saja keluar dari toko perlengkapan aktifitas outdoor usai membeli tenda
kubah yang akan menjadi hadiah untuk kembaranku. “Setelah ini kamu mau kemana?”
tanyaku dengan niatan mengundangnya kerumah. “ke rumah kakak ku di daerah
Pinetwigs, kenapa?” jawab Shaddy. “Mau ngundang kamu ke rumah” jawabku.
“Makasih atas tawarannya, aku gak suka pesta..sori” apologi Shaddy. Aku
mengangguk mahfum. “ yawdah..see you in school then..” pamitku sambil beranjak
dari tempat itu. Shaddy mengangkat sebelah tangannya ketika aku menoleh sekali
lagi ke belakang. Satu lagi kepribadian Shaddy yang baru aku ketahui, satu lagi
kekagumanku padanya, dan rasa suka yang mulai muncul sebulan lalu bertambah
setingkat lagi.
xxx
Decision Upon Azura’s
Rumbling-Tumbling Prom Night..
Bulan
Desember, akhir dari ujian neraka dan awal dari persiapan acara kelulusan. Baik
Downunder ataupun Higherground sedang dalam masa euforia mempersiapkan acara
yang akan merayakan kelulusan mereka dari SMU Azura. Shaddy merupakan
pengecualian, aura abu-abu dan kelam miliknya begitu kontras dengan kecerahan
minggu persiapan; ketika ditanya jawabannya tetaplah sama, berkutat antara ‘aku
ya aku’ atau ‘aku tak suka pesta’ yang membuat bahkan Ilya yang biasanya acuh
pada ‘keganjilan’ Shaddy ini ikut penasaran. “Bahkan kamu juga penasaran Lya?”
tanya balik Shaddy saat ditanya Ilya ketika rehat usai mendekorasi aula utama
SMU Azura. Ilya menangguk pelan dengan wajah penasaran.“Tidak bisa dikatakan
ya?” tanya Ilya lagi. “Begitulah, maaf..” apologi Shaddy pada Ilya yang dibalas
dengan anggukan mahfum.
xxx
Shaddy
Aku menarik
nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali secara perlahan, pikiranku
masih terus saja merepetisikan pertanyaan Ilya yang duduk bersisian denganku.
Gadis ini menanyakan sesuatu yang tak bisa aku jelaskan secara verbal juga
sesuatu yang aku anggap sebagai ingatan yang akan menggali kembali trauma yang
sempat membuatku Catatonic dan ingin
mengakhiri hidup. Aku tak bisa mengatakan kedua alasan tersebut padanya; tidak
pada cewek yang diam-diam aku taksir; tidak karena egoku sebagai laki-laki
melarang satu-satunya flaw permanenku
itu diumbar. “Oiya, siapa pasanganmu prom ntar?” tanyaku tiba-tiba
teringat bahwa sejam lalu ada penarikan ballot nama pasangan Prom; sebuah
kegiatan yang diusulkan oleh ketua Magistrat terdahulu yang bertujuan untuk
mempererat hubungan antar dua asrama berseberangan ini. Ilya terdiam sejenak
dan dengan muka bersemu merah dia menjawab setengah berbisik; ‘Nama kamu yang
muncul dalam ballot..’. “HEE~HH?!” seruku spontan dengan suara yang hampir
mirip pekikan monyet dan suara itu digemakan oleh ruangan aula tersebut dengan
sangat sempurna. Gelak tawa Ilya membuncah menggantikan semu merah yang tadi
mendominasi dan ditemani oleh pandanganku kini terpaku kearahnya untuk
memperhatikan tawanya yang lepas secara penuh. “Jadi itu alasannya yak..”
kataku setelah beberapa saat yang
disambut anggukan Ilya sambil menyeletukkan ‘iya, tapi kamu kan tak bisa..’.
“Yawdah, tapi kamu harus janji satu hal; jangan memaksakan dirimu ..Ok?”
sergahku sambil membelai pelan pipi Ilya
yang kembali bersemu merah. ‘Ah~ sori
aku tak bermaksud..’ satu-satunya kata apologi yang terpikirkan dalam benak
sambil merutuki kelancangan tanganku. “Tak apa, aku hanya kaget saja..” hibur
Ilya. “Okeehh~it won’t happened again..I promised” janjiku padanya dan dalam
hati .
xxx
“What got
in to you today dammit!” rutukku pada pantulan diri di cermin wastafel kamar
mandi usai mencuci muka. Hari ini semua diluar dugaan; dengan cepat mengiyakan
permintaan untuk pergi ke Prom padahal tahu benar kalau itu sama saja bunuh
diri karena tubuhku pasti akan menolak keras untuk bekerjasama dan perihal
membelai pipi Ilya from out of the blue
..merupakan kesalahan fatal yang walaupun termaafkan pastinya antara aku dan
Ilya akan ada gap. “Hhhhh..I’m in deeep shit..” dengusku memecah pergi
gelembung terawang kemudian tersaruk keluar dari kamar mandi dan mendaratkan
badan letihku diatas kasur empuk.
Aku
terbangun, tepatnya meloncat bangun saat HP di saku celana bergetar minta
diangkat. Picingan mataku menangkap caller ID yg terpampang di layar..telepon
dari Rara. “Ya Ra?” sapaku dengan suara sedikit serak sambil mengucek mata.
Terjadi jeda sejenak sebelum kata ‘apa aku menganggu dy?’ terdengar diseberang
telpon. “Gak sama sekali..ada apa nih?” balasku sambil menahan kuap kemudian
duduk bersila diatas tempat tidur. “Hanya mengkonfirmasi pendengaranku tentang
Ilya” ucap Rara dengan nada penasaran. “Apanya yang mau dikonfirmasi non?”
dengusku sambil mengaruk kepala yang tiba-tiba gatal. “Kamu dan Ilya…akan jadi
pasangan di prom nanti?” selidik Rara. “Yep, anda benar!” jawabku sambil
berpim-pom menirukan suara alarm salah satu variety quiz produksi Jepang yang
lagi populer saat ini. “Pembenci pesta kayak kamu mau ke Prom?” sangsi Rara. “ FYI,
aku ke Prom semata buat nemenin Ilya..not for fun” ucapku membela diri. ”Iya
juga sih..” ucap Rara membenarkan; Ilya seumur hidupnya baru sekali hadir dalam
pesta ketika dia masih berumur 10 tahun dan itu pesta kejutan ultah-nya yang dirayakan
oleh kedua orangtuanya saat dia dirawat di rumah sakit; ini pesta keduanya
mungkin ini jadi pertimbangan Shaddy untuk menerima ajakannya ini.
Ilya
DEGH..
degupan itu hadir tiba-tiba ketika tangan Shaddy terulur dan mengusap pelan
pipiku; segalanya seperti berada dalam gerakan lambat dan tubuhku tak bisa
bereaksi dengan baik. Kalau dirunut dari awal mula kejadian aku sama sekali
tidak menyangka kejadian akhirnya akan jadi seperti ini karena Shaddy bukanlah
orang yang dengan mudah merubah sesuatu yang dikatakan sebelumnya. “Tapi kau
mau janji kan Lya?” ulang Shaddy lagi karena belum juga mendapat jawaban ‘Ya’
dari mulutku yang seketika terkunci karena tindakannya barusan. “Ya” jawabku
setelah semenit lama kata itu ku kulum. Senyum Shaddy yang mengembang.. uluran
tangannya mengajakku beranjak dari aula yang selesai terdekorasi .. berjalan
bersisian tanpa banyak bicara dan akhirnya berpisah di depan gerbang asrama
siswi Higherground…potongan-potongan kejadian ini terekam begitu saja dalam
benak dan baru bisa kusatukan dalam satu rentetan frame memori saat tubuhku
yang lelah terbaring letih diatas tempat tidur. “Kejadian hari ini semuanya diluar
dugaan..” imbuhku dalam hati sebelum mengatupkan kedua mata yang sedari tadi
terasa berat.
xxx
This Is What Happened 2 Years Ago At Azura High School’s 1st
Year..
Kerumunan
siswa-siswi baru memadati aula SMU Azura dengan berbaris rapi mendengarkan kata
sambutan dari kepala sekolah sebagai bagian dari seremoni acara penerimaan
siswa-siswi baru. ‘Hoahemmm~’ kuap Adit di barisan siswa baru yang serta merta
mendapat sorotan mata tajam dari lainnya. “Maaf~” bisiknya pada yang lain.
Setengah jam kemudian prosesi itupun berakhir dan kerumunan siswa-siswi
beringsut keluar Aula dengan tertib. “Akhirnya
pidato yang membosankan itu selesai juga..”
gumam Adit yang sedari tadi
tersiksa karena harus menahan kuap yang terus datang silih berganti. SMU Azura
merupakan sekolah terbaik di Pacifica dan memegang reputasi sebagai pencetak
pengusaha sukses dan politikus jempolan yang memegang peran penting dalam Top
up pemerintahan di Pacifica. “Hei, hati-hati kalau jalan mata empat!” hardik seorang siswa berpostur jangkung pada seorang
siswi berkacamata dan berkepang dua-tipikal nerd-saat dia tiba-tiba terhuyung
dan tak sengaja menyenggolnya. “M~maaf” apologi siswi berkacamata itu. “Dasar
kutu buku..pasti kau siswi yang akan masuk Downunder kan? Dasar orang miskin!”
hardiknya mendorong keras siswi tersebut hingga terduduk di tanah. ‘Hei! Sopan
dikit dong sama cewek!!’ teriak Adit yang
satu-satunya tergerak melihat insiden ini sambil mendorong badan siswa jangkung
itu dan memperingatkannya untuk menjauh dari siswi itu. “apa urusanmu
mencampuri urusanku..kau tidak tahu siapa aku?” cuap siswa jangkung. “ Kau tak
apa-apa?” acuh Adit dan menoleh pada siswi itu sambil menyerahkan kacamata yang
terlepas saat dia jatuh tadi dan mengindahkan setiap perkataan siswa jangkung
itu. “Iya, thanks” ucap siswi berkacamata itu sambil menundukkan sejenak lalu
pamit. BUGH!! Bogem mentah yang dilayangkan oleh siswa jangkung itu mendarat
telak di wajahnya ketika berbalik. “Rasakan itu!” rutuk siswa jangkung.“Maaf,
aku lagi tak mau berkelahi..” ucap Adit sambil menyeka leleran darah segar yang
menetes dari hidung dengan slayer yang disimpannya di saku belakang dan
beringsut pergi. “Kurang ajar! Aku belum selesai denganmu..” raung siswa
jangkung itu namun dihentikan oleh sosok kekar dengan seragam training sewarna
darah dengan suara lantang. “Apa yang sedang terjadi disini, Glen!!” teriak
pria kekar itu lalu menyeret kedua siswa yang dilaporkan terlibat perkelahian
tadi ke ruang guru..
xxx
‘Iya, thanks’; kata yang terasa tak simpatik
ini secara spontan terucap pada orang yang menolongku itu. Benakku tak sempat
untuk memikirkan kata yang lebih sopan karena pening yang mendera sejak
setengah jam yang lalu tak mau lagi diajak kompromi dan menuntut untuk mengistirahatkan
badan atau paling tidak duduk sejenak.
xxx
“Kami
tidak berkelahi pak” tegas Adit yang pendarahan di hidungnya telah berhenti.
“Terus hidung kamu kenapa, Kalau gitu?” ucap Pak Roother minta penjelasan. “Hidungku
sering gini pak kalau kelamaan di panas” balas Adit dengan mimik yang mengatakan
bahwa hal ini tak perlu diperpanjang lagi.“Sekarang bisa aku pergi?” potong siswa
jangkung. Tatapan tajam guru P.E itu membuat siswa jangkung itu tertunduk usai
mengatakan hal itu. “Kau silahkan kembali..Glen, kau tinggal.” putusnya sambil
mempersilahkan Adit untuk meninggalkan ruang guru. “Awas kau nanti..” bisik
siswa jangkung padanya. “Terserah..” balas Adit bergumam. ”Makasih pak..” ucap
Adit sambil menunduk kemudian balik
kanan keluar dari ruang guru.
xxx
“Hi..” sapa
Adit basa-basi pada siswi berkacamata saat keduanya bertemu muka di selasar
lantai satu dalam kerumuman siswa-siswi baru yang sedang dalam tur singkat guna
pengenalan gedung, asrama dan ruang kelas. Siswi berkacamata itu membalasnya
dengan tersenyum tanpa berkata sepatahpun. Karena maksud awalnya hanya
basa-basi jadi Adit tak terlalu berkeinginan untuk melanjutkan percakapan berat
sebelah ini dan mulai fokus pada pencarian ruang kelasnya.
xxx
“Yeph, I-A
” kemik Adit mengkonfirmasi kombinasi angka dan huruf pada papan penanda kelas
dengan kartu ID di tangannya kemudian melangkah masuk kedalam kelas. Kelas
sudah dipenuhi dengan dengungan lebah yang riuh rendah sebagai pertanda satu
hal; homeroom teacher-nya belum datang dan itu berarti dia belum sepenuhnya
terlambat. Adit perlahan berjalan menuju meja satu-satunya meja yang tersisa di
kelas ini; di pojokan dekat jendela, menyampirkan tasnya di gantungan samping
meja dan menghabiskan hari itu memperhatikan sekelilingnya lalu menyadari satu
hal, siswi berkacamata itu ternyata
sekelas dengannya.
xxx
Dua
kebetulan dalam satu hari; Meshaditya, siswa yang tadi menolongku ternyata
sekelas namun aku belum cukup punya
keberanian untuk sekedar menyapanya dan menghabiskan sebagian minggu pertama
sekolah dengan keluar –masuk perpustakaan, tempat yang paling nyaman untuk
seseorang yang lemah terhadap kegiatan fisik sepertiku dan menyalurkan
satu-satunya hobi yang tidak butuh banyak gerak.
xxx
“Akhirnya
kutemukan juga kau!” seru seorang siswa jangkung begitu Adit keluar dari ruang
kelasnya. “Hhh..kau mau apa lagi?” tanya balik Adit yang sama sekali tak
terpengaruh dengan wajah goblin yang ditunjukkan siswa itu. “Aku ingin kita
berdua menyelesaikan di atap” tegasnya. “Sudah kubilang aku tidak tertarik”
balas Adit sambil berlalu namun tetap waspada karena gesturnya menunjukkan
kalau orang ini tak bisa menerima penolakan. “Aku akan buat kau menyesal”
peringatnya dengan nada sedikit geram. “I’ll take my chances..” lambai Adit
kemudian menghilang di balik kerumunan siswa-siswi yang juga menuju Cafetaria. Cafetaria
sekolah penuh dengan siswa yang tak ingin ketinggalan menu spesial yang tiap
hari berbeda-beda, menu hari itu tidak terlalu menarik untuk Adit jadi dia
hanya memesan dua bungkus roti chicken
floss di counter dan membeli kopi kalengan di mesin penjual yang berada
tepat di samping counter lalu ditengah semua itu dia teringat sesuatu, dia
belum ke perpustakaan untuk aktivasi membership-nya dan hari ini tenggat akhir
aktivasi. “Ok, next stop Perpustakaan..” gumam Adit sambil mempercepat
langkahnya keluar Cafetaria.
xxx
Perpustakaan
Magna Scriptura terletak diantara dua asrama dan diapit oleh aula dan gedung
sekolah hingga memudahkan siswa-siswi untuk dengan cepat berpindah dari gedung
yang satu ke gedung yang lain.
Di meja resepsionis
Adit disambut oleh kalimat standar ‘Apa yang bisa saya bantu?’ oleh seorang
wanita berkacamata frame tebal. Setelah Adit mengatakan maksudnya dia lalu
meminta ID Card dan mencatatnya di komputer. “Registrasi selesai, apa ada lagi
yang bisa saya bantu?” ucapnya lagi. Adit menggeleng dan bergegas keluar
setelah berterima kasih, dia telah kehilangan setengah jam dari satu jam
istirahat makan siangnya. Di pintu masuk Adit bertumbukan dengan siswi berkacamata
yang tiba-tiba muncul saat Adit membuka pintu perpustakaan. “Sori..” apologi
Adit sambil membantunya berdiri kemudian membungkuk lagi untuk mengambil buku-buku
siswi itu yang semenit tadi berdebam di lantai bersamanya. “Maaf, aku tak
melihatmu tadi.. sekali lagi maaf yang tadi yak, aku gak sengaja..” ulang Adit
karena merasa permintaan maafnya masih kurang kemudian berlalu tanpa
memperhatikan sesuatu yang tercecer dari sakunya.
xxx
Aku bertemu dia lagi hari ini, kami
bertumbukan di depan pintu perpustakaan hingga menjatuhkan 3 buku yang telah
selesai dibaca dalam pelukanku. Dia berkali-kali minta maaf sambil memungguti
buku-buku yang tercecer dengan sigap lalu menyerahkan padaku dan seperti
biasanya aku tak bisa berkata apa-apa hanya bisa mematung hingga sosoknya
sepenuhnya menghilang diantara kerumunan siswa yang hilir-mudik lalu menyadari
sesuatu, dia menjatuhkan selembar foto yang menampilkan keluarganya.
xxx
“Meshaditya!!”
raung Glen yang telah menunggunya di depan gerbang sekolah. “Haaa~h, masih juga?”
dengus Adit sambil menggaruk kepalanya sambil berjalan mendekati gerbang sambil
memikirkan sesuatu agar bisa lolos kali ini. “Kau takkan bisa lari lagi..” gerum Glen. “Ah, selamat pagi pak Roother”
bungkuk Adit pura-pura dan Glen termakan trik itu dengan sempurna hingga Adit
bisa dengan leluasa menghilang di kerumunan siswa-siswi Azura. Sekembalinya dari makan siang, Adit mendapati
secarik kertas merah ditempel di mejanya dengan suasana kelas yang lain dari
biasanya. “Apa nih?” ucap Adit spontan sambil menarik lepas kertas itu dan meremasnya.
“Itu gara-gara kau cari masalah dengan Glenhard Felony” celetuk siswa yang
duduk 3 meja di depan Adit. “Begitu ya..” simpul Adit lalu memasukkan
remasan kertas itu kedalam sakunya. Penempelan kertas merah itu terus saja
terjadi dan seisi kelas kini tak ada yang berani duduk bersebelahan, di depan,
bahkan dibelakangnya. Adit yang pada awalnya tak ambil pusing akan hal ini
namun lama-lama gerah juga.
xxx
Kertas
merah, teror psikis yang hanya diketahui oleh siswa-siswi SMU Azura itu
akhirnya jatuh padanya
xxx
Langkah
cepat Adit berdebam keras menghantam tiap undakan tangga yang jadi akses ke
atap, dia ingin secepatnya menuntaskan masalah sepele yang berubah jadi serius
ini dengan Glen, saat ini juga; once and
for all! karena muak dengan segala tindakan
Glen dan teman-temannya yang dengan tidak sportifnya melibatkan orang yang
tidak berhubungan dengan urusan mereka berdua, termasuk si siswi kacamata dan makin keterlaluan ketika dia tahu kalau
dia adiknya Alyana dan menyebarkan isu kalau kakaknya itu punya affair dengan
dewan sekolah sehingga terus mendapat beasiswa. Adit tiba di atap dengan satu
teriakan ‘F*#k-Off’ yang memekakkan telinga kemudian seketika itu Adit tak bisa
mengendalikan tubuhnya yang menghantam siapa saja yang muncul dihadapannya kemudian
segalanya menjadi putih.
Bau alkohol
yang menusuk memaksa Adit mengumpulkan kesadarannya yang tersebar entah kemana
tadi. “Kau sudah sadar?” imbuh seorang siswi yang menyanggah kepalaku kedalam
pangkuannya. Adit mengerjapkan matanya untuk mengingat kembali apa yang terjadi
tadi; dia menaiki tiap undakan tangga dengan emosi yang meledak-ledak..terdengar
tone Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing~
ditelinganya dan tak bisa mengingat apa-apa lagi setelah itu. “..Maaf,
membuatmu terlibat” ucap Adit setelah menyadari siapa yang memangku kepalanya. Siswi
itu menggeleng lalu berujar “Anggap saja
balas budi atas waktu itu..”. ”Ugh, tubuhku sakit semua...” ringis Adit dalam
hati saat mengambil posisi duduk. “Glen
dan lainnya?” tanya Adit padanya karena tempat yang sesaat sebelumnya penuh
dengan kaparan tubuh kini bersih bahkan dari bekas perkelahian. “Sudah pergi..”
jawabnya pendek. “Haah~~I’m in deep shit” gerutu Adit sambil memeluk kedua
lutut dan menyenderkan kepalanya diatasnya. “Selamat datang di sisi lain SMU
Azura..Mesy~aditya” ucap siswi berkacamata itu. “Panggil saja aku Shaddy, nama
panjangku agak tidak biasa terdengarnya.. bahkan oleh diriku” sergah Adit yang mencoba
untuk membuat percakapan lanjut. “Gitu ya..” senyum siswi berkacamata itu lalu
menyebutkan namanya yang selama ini Adit tunggu-tunggu..”Aku Camillya, panggil
saja Ilya”
xxx
Kejadian di
atap itu membuat Adit makin dijauhi oleh teman-teman sekelasnya yang tentu saja
sudah termakan doktrinasi Glen dan menjadi akrab dengan siswa-siswi kelas lain yang
merasa berterima kasih sakit hati mereka dibalas olehnya. Adit dilain pihak tak
terlalu mempermasalahkan hal ini dan terus larut dalam rutinitasnya sehari-hari
dengan selalu mengulang kebiasaan memesan makanan dan lebih banyak menghabiskan
waktu istirahat makan siangnya di luar Cafetaria hingga suatu saat dia
dipanggil oleh Dewan Magistrat.
xxx
“Bisa
dijelaskan apa kesalahan yang diperbuat?”tanya Adit ketika dia diminta
pertanggungjawabnya karena melanggar peraturan sekolah. “..karena selama ini
saya bertindak dengan logika dan bukan karena ada kepentingan..” sambungnya.
“Ada
laporan kau berkelahi dengan senior dan berkelahi merupakan pelanggaran serius
di sekolah ini..” tegas salah satu dari tiga Magistrat yang duduk di meja
panjang yang teletak tak jauh dari Adit berdiri. “Laporan? Maafkan nada suaraku, apakah
Magistrat memanggil dan mengultimatum siswa-siswi sekolah ini HANYA berdasarkan
laporan?” tanya Adit dengan alis terangkat. “tentu saja tidak, ada saksi yang melihat kau berkelahi” seru
Magistrat yang berada di sisi kiri meja. Dewan magistrat kemudian memanggil
masuk seorang siswa yang ternyata sekelas dengannya. “Oh, ternyata kamu..kebetulan
sekali” ucap Adit sarkastis. “dengan adanya saksi ini kau tak bisa mengelak
kan?” simpul dewan magistrat dengan nada penjatuhan vonis. “ada kata-kata
terakhir sebelum penjatuhan sangsi?” tanya dewan magistrat yang duduk di sisi
kanan. “Apakah aku bisa melakukan pembelaan atas diriku?” tanya Adit penasaran.
“Bisa, selama ada saksi dan bukti..” jawab mereka. Adit kemudian memulai pembelaannya
dengan menampilkan bukti berupa kertas merah yang menjadi cikal bakal pencetus
perkelahian, memanfaatkan saksi yang dihadirkan pihak magistrat untuk membenarkan
pembelaannya, dan akhirnya mengaitkan saksi itu sebagai salah satu dari mereka
yang akan ikut kena sangsi. “Dewan yang terhormat, saksi sangat tahu kejadian
itu maka disimpulkan bahwa dia juga terlibat dalam perkelahian mengingat di
atap tak ada orang lain selain kami yang berkelahi..” tegas Adit menyelesaikan
pembelaannya. Wajah siswa yang jadi saksi itu sekejap pucat pasi mendengar
perkataan Adit ini seakan baru sadar kalau kehadirannya juga membawa petaka
bagi dirinya. Sementara didepan mereka berdua tercipta percakapan ulet antara
ketiga orang dewan magistrat dan dari nada suara mereka nampaknya mereka
mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan karena Adit memberikan bukti yang
juga bisa merusak reputasi sekolah ini. Dalam hati Adit berterima kasih pada
Peter Hisaki, siswa Downunder yang tidak sengaja menemukan informasi tentang
apa yang terjadi setahun lalu di sekolah ini dari buku harian bersampul coklat
yang berisi bukti dan potongan kliping koran setempat yang memuat tentang insiden
ditemukannya seorang siswi tahun pertama sekolah ini yang bunuh diri dengan
melompat dari atap sekolah, diduga siswi tersebut depresi. Pihak berwajib yang
melakukan penyelidikan akhirnya berkesimpulan bahwa ini murni bunuh diri karena
tak ditemukan tanda-tanda kekerasan dari visum korban dan kertas merah yang
ditemukan dilokasi kejadian terlalu lemah untuk dijadikan barang bukti.
xxx
Keputusan
akhirnya dibuat, Pertama; Adit akan pindah asrama untuk menghindari masalah
lebih serius lagi dan semua fasilitas yang dia dapat ketika masuk asrama
Higherground akan dicabut, kedua dia harus menyerahkan semua bukti yang dia
punya ke Magistrat; dua keputusan yang diterima Adit tanpa berpikiran terlalu
lama karena sebagian besar fasilitas yang diberikan Higherground tak pernah dia
pakai dan kedua semua bukti yang diberikan telah dibuat soft copy-nya dan
tempat penyimpanannya jauh dari jangkauan orang-orang iseng Higherground yang
mencoba mencari masalah dengannya lewat campur-tangan sekolah meskipun kini dia
telah bergabung dengan Magistrat.
xxx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar